Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Relung Hati Patah: Antologi Puisi Yohanes Mau
Sastra

Relung Hati Patah: Antologi Puisi Yohanes Mau

By Redaksi16 April 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Relung Hati Patah

Panas suhu siang tak pernah selesai
Rasa masih saja jelajai semak belantara
Hidup bagai sebatang kara
Berkawan hampa hawa sejuk
Mestikah aku punya hawa?
Hawa itu awal dari segala awal
Memiliki hawa memeluk erat
hidup hingga
tak membiarkannya enggan mati
tapi kawan
jangan biarkan hatimu luka
karena wadah deras cinta akan sirna.

Gadis anonim masih di jalanan
Ia tak butuh segalanya
Di sana juga hampa
Tiada lagi detakan waktu
Tiada lagi suara hidup
Tiada lagi peluk mimpi
Tiada lagi secercah tetes sejuk
basahi relung hati yang patah.

Ilizwi Biclical Centre-Zimbabwe, 06/04/2021.

Matahari Baru di Esok Yang Baru

Andai saja kutahu musibah itu
datang tahun ini
Pasti aku setia berjaga
hingga ia menjemputku
Tapi sayangnya sahabat itu tak pernah
Beritahu aku soal waktu
kapan ia datang sehingga
aku boleh bersiap
padahal angin setia berhembus
pada pagi hingga senja pergi
hanyut dipeluk hangat ibu malam.

Di sini masih ada duka
Malam gelap enggan pergi
dan rinduku hanya satu
aku tak ingin nusa tanah lahirku
tangis derai air mata
hatiku tak tegah
derita ini terjadi di tanahku
namun mau bilang apalagi
musibah itu datang
tanpa kabar
tanpa kasihan
tanpa sejuk kasih.

Ampunilah dosa
kami melukai alam
Lukisan tanganMu
Tuhan genggamlah tangan kami lagi
Seperti kemarin yang telah pergi
Doaku semoga kemarin jangan datang lagi
Biarkanlah kami berjalan bersama
Matahari baru
di esok yang baru.

Ilizwi Biclical Centre-Zimbabwe, 06/04/2021.

Jangan Lupa Kering

Basah tapi jangan lupa kering
basah dan kering
bernetral lembab agar tak egois

Ilizwi Biclical Centre-Zimbabwe, 16/04/2021.

Masihkah Ada Maaf Padamu?

Aku hanyalah penikmat indah
yang ada padamu
Aku tak punya hak untuk memilikimu
Maafkanlah inderaku
Mataku menjangkau itu
Namun kataku tak sejukkan hatimu
Maafkanlah kataku yang terucap
Aku tak punya lebih
Hanyalah maaf yang ada padaku
Namun aku tak pandai rayu hati
Aku telah bersalah
dan memohon maafmu
namun tiada maaf ada padamu
lantas kapan aku kan sembuh
Masihkah ada maaf padamu?

Ilizwi Biclical Centre-Zimbabwe, 16/04/2021

Yohanes Mau adalah salah satu penulis buku Antologi Puisi, “Seruling Sunyi untuk Mama Bumi.” Kini ia sedang bertualang di Zimbabwe-Afrika

Yohanes Mau
Previous ArticleKetua DPRD Minta Dinas PUPR Manggarai Tindak Tegas Kontraktor Proyek Lapen di Cibal
Next Article Ada Apa dengan Nusaku: Antologi Puisi Fransiska Atrince Gamo

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.