Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Peringati Hari Lahir Pancasila, Ketua Kopearad Mabar Ajak Pemuda Merawat Ideologi Bangsa Indonesia
NTT NEWS

Peringati Hari Lahir Pancasila, Ketua Kopearad Mabar Ajak Pemuda Merawat Ideologi Bangsa Indonesia

By Redaksi31 Mei 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua Kopearad Mabar Agustinus Hargianto Umar (Foto: Sello Jome/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT- Bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila yang merupakan ideologi negara itu setiap tanggal 01 Juni.

Setiap warga Indonesia dituntut untuk menjalankan peran masing-masing dalam menjaga dan merawat Pancasila yang menyatukan bangsa itu tanpa terkecuali.

Begitu pula dengan Komunitas Pemuda Anti Radikal Manggarai Barat (Kopearad Mabar).

Ketua Kopearad Mabar Agustinus Hargianto Umar menegaskan, tugas mereka ialah memenangkan Pancasila.

Pancasila kata dia, merupakan kesepakatan dasar bangsa Indonesia untuk hidup dalam suatu Negara Kesatuan Repubik Indonensia.

“Dalam Pembukaan UUD 1945, Pancasila menjelmah menjadi visi atau pandangan hidup yang mendasari dan menjadi tujuan segala hukum dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,”kata Itho sapaan akrab Agustinus dalam diskusi ‘Merawat Indonesia’ menjelang Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (31/05/2021) malam.

Itho dengan tegas mengatakan, Indonesia tidak menganut paham radikalisme, komunisme, sosialisme atau kapitalisme.

“Kita adalah pancasila, yang sumbernya dari kepribadian bangsa kita. Cuma Pancasila yang menyatukan kita semua, semestinya kita harus bersyukur kepada pendiri dan pahlawan yang mewariskan nilai Pancasila kepada kita,” tegas Itho.

“Tugas kita sebenarnya hanya memahami, menghayati dan mengamalkan Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia secara utuh,” tambahnya.

Itho juga mengatakan, dalam kaca matanya, saat ini pengamalan Pancasila tidak sedikit yang menyimpang, baik oleh oknum para elite politik maupun oknum masyarakat.

“Kita amati bersama-sama, saat ini praktik kapitalisme sering mewarnai investasi, kaum buruh hanyalah obyek pabrik, yang melahirkan kesenjangan antara kaya dan miskin. Radikalisme menghadirkan kekerasan fisik dan psikis, agama hanya dijadikan barang dagangan oleh oknum tertentu untuk kepentingan kursi kekuasaan. Aksi anarkis dilakukan sebagai strategi gerakan sosial, disintegrasi dan separatis menjadi komoditi politik sekelompok orang. Kita sering jumpai hal-hal seperti ini,” ungkapnya.

Tidak sampai di situ kata Itho, terorisme terus mempertontonkan aksi kekejaman kepada sesama anak bangsa.

“Korupsi tumbuh subur di lingkungan Pemerintah, wakil rakyat bersuara mewakili kepentingan pemodal dan aparat penegak hukum tidak mampu memberikan keadilan bagi rakyat kecil. Boleh dikatakan bahwa Pancasila sudah tidak lagi menjadi pandangan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini tantangan saat ini,” ujarnya.

Karena itu kata Itho, sebagai pemuda yang merupakan bagian dari generasi penerus bangsa, dirinya mengajak seluruh anak muda untuk terus berupaya memenangkan Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

“Saya meyakini bahwa persoalan-persoalan di atas bisa terselesaikan hanya dengan mengembalikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pintanya

Itho berharap, oleh pemuda Pancasila harus menjadi pandangan dan pedoman hidup pribadi dan kolektif masyarakat Indonesia.

“Pancasila yang lahir dari keberagaman agama, suku, budaya dan ras tentu menjadi batu penjuru yang kuat melawan segala bentuk penindasan, radikalisme dan intoleransi keberagaman,” tutupnya.

Penulis: Sello Jome
Editor: Ardy Abba

Kopearad Mabar Mabar Manggarai Barat
Previous ArticleSempat Jadi Orang Terpandang, Karier Politik Kades dan Bendahara Desa di Manggarai Berakhir di Balik Jeruji Besi
Next Article Tinta Pelosok: Potret Pancasila dalam Praksis Kenegaraan

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.