Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Kerinduan Sewaktu Itu
Sastra

Kerinduan Sewaktu Itu

By Redaksi3 Oktober 20211 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Puisi

Oleh: Patrick Poto

Kerinduan Sewaktu Itu

Adalah terlihat usang lonceng di sudut itu

Seperti tak lagi menggema di pagi hingga ke hari-hari

Semua hanya sepi disampingmu

Di setiap aliran tubuh waktu yang membosankan.

 

Adalah hanya kerinduan sewaktu itu.

Semua karena kamu yang tak lekas usai dicabik ruang dan waktu

Dan jika semua nampak seperti dulu

Aku mungkin takkan kembali pada kini

 

Adalah pertanyaan yang terus bertanya.

Ketika aku terus berhadapan dengan realitas

Bahwa aku harus terus menunggu

Sampai waktu patah di segala detik.

 

Lantas teruskah aku menanti?

Ataukah,tiba sepi melahap denyutmu

Hingga tersisa remah-remah kerinduan yang terus merindu.

Perihal Yang Tak Pasti

Kita bagaikan musafir yang terus menelusuri perjalanan

Entah pagi siang hingga malam menutup rindu yang dingin.

Sesekali datang lalu hinggap sekejap di permukaan

Pun tak kau hiraukan kengerian para pelarat

Yang tiap detik melahap remah-remah yang mereka tumpahi.

Dalam diam kepalaku pusing diteriaki omelan yang diraciki amarah

Lalu melangkah demi langkah penuh keraguan

Seakan hilang hingga pedih perih masih membekas.

 

Sekarang penulis masih menetap dengan cinta yang setia dan ditemani kopi yang tak lekas habis.

 

Patrick Poto
Previous ArticleAnak Lelaki Agus
Next Article Manusia dan Kemajuan: Jebakan Atas Manusia

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.