Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Setelah Terendam Banjir, Hama Keong Mas Serang Tanaman Padi Sawah Warga Dampek
Regional NTT

Setelah Terendam Banjir, Hama Keong Mas Serang Tanaman Padi Sawah Warga Dampek

By Redaksi28 Februari 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Camat Lamba Leda Utara Agus Supratman bersama pengamat hama sawah dari Dinas Pertanian Matim, Kasmir Jalu, Senin (28/02/2022), saat memantau persawahan warga
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Setelah terendam banjir, sawah milik warga Dampek, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara (LAUT), Kabupaten Manggarai Timur (Matim), diserang hama Keong Mas.

Sebagai informasi, Keong Mas atau Golden Apple Snail, dengan nama latin Pomacea canaliculata atau Lamarck, merupakan hama perusak tanaman padi.

Hama ini menggerek batang jaringan tanaman padi dan memakannya sehingga menyebabkan adanya bibit atau anakan padi yang mati pada lahan sawah.

Ciri hasil kerja Keong Mas, potongan batang anakan padi yang digerek Keong Mas nampak mengambang apung dipermukaan air.

Sawah di Dampek diserang hama Keong Mas setelah dilanda banjir beberapa waktu lalu. Hal itu diketahui saat Camat Lamba Leda Utara Agus Supratman bersama pengamat hama sawah dari Dinas Pertanian Matim, Kasmir Jalu, Senin (28/02/2022).

Menurut Jalu, waktu kritis untuk mengendalikan Keong Mas adalah pada saat 10 hari setelah tanam pindah, atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah).

Setelah itu laju pertumbuhan tanaman lebih besar dari pada laju kerusakan yang disebabkan oleh Keong Mas.

Ia menjelaskan, Keong Mas merupakan salah satu hama utama penyerang padi muda terutama di sawah yang ditanam dengan sistem tanam benih langsung (Tabela).

Salah satu cara pengendaliannya, sawah perlu segera dikeringkan, karena keong mas senang tempat-tempat yang digenangi air.

Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah, maka pada 15 hari setelah tanam pindah, sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood = intermitten irrigation).

Bila padi ditanam dengan sebar langsung, selama 21 hari setelah sebar, sawah perlu dikeringkan,  kemudian digenangi lagi secara bergantian.

Selain itu, perlu dibuat caren di dalam dan di sekeliling petakan sawah sebelum tanam, baik di musim  hujan maupun kemarau.

Ini dimaksudkan agar pada saat dilakukan pengeringan, keong mas akan menuju caren sehingga memudahkan pengambilan keong mas.

Biasanya keberadaan Keong Mas di lapang atau di sawah ditandai oleh adanya telur berwarna merah muda dengan berbagai ukuran dan warna.

Di samping itu, Keong Mas dapat dikendalikan secara fisik, yaitu dengan menggunakan saringan berukuran 5 mm mesh yang dipasang pada tempat air masuk di pematang untuk meminimalkan masuknya Keong Mas ke sawah dan memudahkan pemungutan dengan tangan setelah terkumpul.

Hancurkan dengan kayu/bambu, sedangkan telur Keong Mas diambil dan dikumpulkan kemudian juga dihancurkan.

Bila suatu lokasi sudah diketahui Keong Mas merupakan hama utama, sebaiknya tanam bibit umur di atas 21 hari dan tanam lebih dari satu bibit per rumpun, buat caren di dalam dan di sekeliling petakan sawah.

Bila diperlukan gunakan pestisida  yang berbahan aktif niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris dan saponin atau sejenisnya.

Aplikasi pestisida dilakukan di sawah yang tergenang, dicaren atau di cekungan-cekungan yang ada airnya tempat keong mas berkumpul. ***

Agus Supratman Lamba Leda Utara Manggarai Timur Matim
Previous ArticleTerkait Pemberlakuan Pajak 45 Persen, Keputusan Pemda Mabar Dinilai Keliru
Next Article Doktor Bernando: Rusia Harus Diadili

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

KPB Program TEKAD Ponggeok Manggarai Kembangkan Penyulingan Minyak Cengkih

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.