Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Masyarakat Wangkal: SMPN 9 Reok Dibangun untuk Kepentingan Orang Tertentu
Pendidikan NTT

Masyarakat Wangkal: SMPN 9 Reok Dibangun untuk Kepentingan Orang Tertentu

By Redaksi27 Juli 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi guru
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Warga Wangkal, Desa Kajong, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, menyebut SMPN 9 Reok yang berlokasi di Mbang dibangun demi kepentingan politik dari orang tertentu.

“Apakah pemerintah kurang peka untuk mengambil keputusan? Saya kira tidak, ini semua karena kepentingan politik sesaat,” tegas Rius, salah satu warga Wangkal, Rabu (27/7/2022).

Rius mengatakan, jika pemerintah memaksakan anak-anak dari Wangkal masuk SMPN 9 di Mbang, maka lebih baik masuk SMP Swasta saja, seperti  SMP Santo Markus di Pateng. Karena menurut dia, selain didikan akademik, anak-anak juga akan dididik disiplin waktu.

BACA JUGA: Pendirian SMP di Mbang, Pemkab Manggarai Dinilai Tidak Lakukan Studi Kelaikan

“Mohon maaf bukan berarti mempromosikan sekolah tertentu, karena itu yang kami alami dulu, sebagai almamater,” kata dia.

Rius menambahkan, Kajong merupakan SMP Negeri pilihan terbaik untuk anak-anak tamatan SDI Wangkal dan Romang,  jika pilihan sekolah Negeri yang terdekat. Seban selain lingkungan akademiknya cukup baik, fasilitasnya juga cukup mendukung.

Sementara praktisi pendidikan asal Reok Barat, Hendrik Masur mengatakan, apa yang disampaikan Kadis PPO Manggarai  tidak melihat realitas di lapangan.

Kadis, kata dia, tidak tahu Mbang itu di mana, berapa jumlah penduduk usia sekolahnya, berapa SD penyangga, dan lain-lain.

“Lebih dari itu, saya menilai itu pernyataan politis dari pejabat-pejabat yang tidak mau kehilangan muka akibat kebijakan yang buruk,” kata dia.

Hendrik mengatakan, pada sisi lain, larangan tersebut katanya karena aturan zonasi.

Maka dari itu, ia mengajukan beberapa poin penting: 1) Apakah benar ada peraturan zonasi mengenai pendaftaran sekolah di Manggarai. 2) Jika ada, pernah ada sosialisasi mengenai aturan zonasi itu?. 3) Tujuan utama zonasi itu adalah utk menghindari favoritisme dalam pengelolaan sekolah/pendidikan.

“Lah, di Reok Barat itu sudah ada SMPN unggulan yang memang jadi tujuan semua tamatan SD di sana? SMP Lante saja sampai hari ini belum ada gedungnya, malah mau bikin sekolah baru,” ungkap Hendrik.

“Kesimpulannya, hanya ada satu kata: lawan !,” tegas Hendrik.

Hendrik menambahkan, mungkin bupati, kepala dinas dan anggota dewan yang mendorong pembentukan sekolah itu tidak tahu kalau indeks pembangunan manusia NTT itu urutan ketiga dari bawah, sedikit di atas Papua dan Papua Barat.

“Pertanyaanya kok bisa, padahal sekolah banyak. Ya karena kita lalai upgrade kualitas,” tegasnya.

Hendrik menegaskan, fokus Dinas PPO harusnya ke peningkatan fasilitas sekolah-sekolah yang ada. Peningkatan kualifikasi guru-guru melalui training berkala terkait manajemen kelas dan metodolgi mengajar dengan memanfaatkan dana BOS. Memperluas persputakaan sekolah. Membuka laboratorium Science dan IT, dan lain-lain.

“Fokus di sini dulu kalau kita mau anak-anak dan adik-adik kita bisa bersaing di level yang lebih besar,” tegas Hendrik.

Sementara warga Wangkal lainnya, Sil Jelahi mengatakan, kalau Pemkab Manggarai betul-betul mau menjawab kebutuhan masyakat, sebaiknya mereka turun ke Wangkal, Kalo dan Romang untuk mendengar langsung suara masyarakat.

Kalau orang Mbang tidak ego dan anggota DPRD dari Dapil Reok Barat dan Pemkab Manggarai tidak mempunyai kepentingan pribadi, kata dia, maka membuka sekolah baru di wilayah ini sudah sangat bagus. Sebab sekolah pendukungnya ada dua dan terdiri dari tiga anak kampung, ditambah lagi satu kampung tetangga, Kampung Todok pemekaran dari Mbuer, Manggarai Barat.

“Yang terpenting letak lokasi sekolah SMPN harus harus stategis, dalam arti akses dri keempat anak kampung itu mudah, dan saran saya lokasi yang memang paling bagus itu di Romang, pertigaan cabang ke Todok dan Kalo. Saya rasa kalau seperti ini masyarakat di Wangkal dan Kalo pasti setuju,” kata dia.

Penulis: Ardy Abba

Dinas Pendidikan Manggarai Kabupaten Manggarai Manggarai
Previous ArticleBernadus Nuel Kesal dengan Sistem Pelayanan Setwan Matim
Next Article Belajar dari SMPN 9 Reok: Mendirikan Institusi Pendidikan Mesti Berbasis Analisis Strategis

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

5 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.