Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Human Trafficking NTT»Pemprov NTT Dinilai Belum Serius Tangani Pengiriman Tenaga Kerja Ilegal
Human Trafficking NTT

Pemprov NTT Dinilai Belum Serius Tangani Pengiriman Tenaga Kerja Ilegal

By Redaksi12 Desember 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pemprov NTT Dinilai Belum Serius Tangani Pengiriman Tenaga Kerja Ilegal
Aparat Polres Manggarai Barat saat mengamankan 13 orang calon tenaga kerja dan satu tenaga kerja perekrut asal Kabupaten Manggarai, Sabtu (11/12/2022)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Lembaga Hukum dan HAM Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia menilai Pemprov NTT belum serius dalam menangani pengiriman tenaga kerja ilegal ke luar daerah.

“Masih maraknya migrasi non prosedural rentan human trafficking di NTT menunjukkan belum adanya keseriusan negara, dalam hal ini Pemprov NTT dan kabupaten/kota se-NTT untuk menangani permasalahan ini,” ujar Ketua dewan pembina Padma Indonesia, Gabriel Goa, dalam keterangan tertulis yang diterima VoxNtt.com, Senin (12/12/2022).

Hal itu ditegaskan Gabriel usai aparat Polres Manggarai Barat mengamankan 13 orang calon tenaga kerja dan satu tenaga kerja perekrut, Sabtu (11/12/2022) kemarin.

Para calon tenaga kerja asal Kabupaten Manggarai itu dikabarkan akan dipekerjakan ke wilayah Pontianak, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

Peristiwa ini membuat Gabriel geram karena pemerintah dinilai belum serius menangani kasus pengiriman tenaga kerja ilegal ke luar daerah.

Padahal menurut dia, amanat UU Nomor 18 Tahun 2017 bahwa harus ada Balai Latihan Kerja Pekerja Migran Indonesia (BLK PMI) untuk mempersiapkan kompetensi dan kapasitas Calon Pekerja Migran Indonesia dan Layanan Terpadu Satu Atap Pekerja Migran Indonesia (LTSA PMI) untuk pelayanan kelengkapan dan prasyarat prosedural Calon Pekerja Migran Indonesia, baik untuk peluang kerja Dalam Negeri melalui skema Angkatan Kerja Antardaerah (AKAD) dan peluang kerja internasional melalui skema Angkatan Kerja Antarnegara (AKAN).

Namun hal ini belum dipersiapkan secara serius oleh Pemprov dan Pemkab/Pemkot di Nusa Tenggara Timur.

Begitu juga implementasi Perpres Nomor 22 Tahun 2021 tentang Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan TPPO, baik di Pemprov NTT maupun di kabupaten/kota belum direalisasikan secara sistemik dan masif.

Sehingga tidak heran, lanjut Gabriel, kalau setelah Covid-19 angka migrasi non prosedural rentan human trafficking semakin tinggi berbarengan dengan kedatangan peti mati Pekerja Migran asal NTT yang juga meningkat umumnya non prosedural.

“Miris dan sungguh menyedihkan sekali nasib Calon Pekerja Migran asal NTT yang mau bertarung di bursa kerja nasional dan mancanegara,” ujar Gabriel.

Karena itu, ia pun menyampaikan profisiat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kapolda dan Dirintelkam Polda NTT yang memiliki komitmen dan agenda aksi serius dalam pencegahan migrasi ilegal rentan human trafficking serta penanganan TPPO dengan menangkap dan memproses hukum pelaku dan aktor intelektual TPPO.

Gabriel juga mendesak Gubernur dan Bupati/Wali Kota se-NTT untuk segera menerbitkan Pergub dan Perbup/Perwalkot tentang Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan TPPO sebagai implementasi serius Perpres Nomor 22 Tahun 2021 tentang Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan TPPO.

“Saya juga mendesak Gubernur dan Bupati/Wali Kota se-NTT agar serius mengimplementasikan UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dengan berkolaborasi dengan semua stakeholder untuk membangun BLK PMI dan LTSA PMI di Kupang dan kabupten/kota di NTT sehingga menghasilkan SDM unggul NTT merebut bursa pasar kerja nasional dan mancanegara sekaligus menjadi duta pariwisata dan misionaris awam NTT ke semua wilayah NKRI dan mancanegara,” ujar Gabriel.

Penulis: Ardy Abba

Gabriel Goa Human Trafficking Padma PADMA Indonesia Polres Mabar
Previous ArticleThe Story of Leko Boko Aka Bijol
Next Article Tarif Masuk 3,75 Juta di Pulau Komodo dan Padar Paling Besar Dialokasikan untuk Konservasi

Related Posts

Kompak Indonesia Minta Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Diusut hingga Aktor Utama

24 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak KPK Audit Dugaan Korupsi Proyek RSUD Borong Rp19,4 Miliar

19 Juli 2026

Kebakaran Hanguskan Kantor UPTD BKKBN Boleng, Polisi Selidiki Dugaan Korsleting Listrik

17 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.