Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Semangat Terang Ensiklik Laudato Si, Buanglah Sampah pada Tempatnya
Gagasan

Semangat Terang Ensiklik Laudato Si, Buanglah Sampah pada Tempatnya

By Redaksi19 Oktober 20233 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Veronika Julia Franklin
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Veronika Julia Franklin

Mahasiswi semester VII STIPAS St. Sirilus Ruteng

Sampah merupakan barang sisa dari kegiatan sehari-hari manusia yang sudah tidak dapat dipergunakan lagi.

Sampah yang di produksi oleh manusia memiliki beberapa jenis yaitu organik [sampah yang dapat diurai] dan anorganik [sampah yang tidak dapat diurai].

Dari kedua jenis sampah ini, seharusnya kita dapat memilah antara sampah organik dan anorganik agar dalam proses penghancurannya bisa dilakukan sesuai dengan jenisnya.

Langkah ini juga penting agar tidak terjadi pencemaran lingkungan yang disebabkan sampah.

Pencemaran sampah yang terjadi mengakibatkan masalah-masalah sosial dalam masyarakat.

Sebab, masalah sampah merupakan masalah sosial yang paling sering terjadi dalam kehidupan kita setiap hari.

Sampah yang berserakan di mana-mana akan menjadi sebuah masalah sosial karena berkaitan dengan lingkungan hidup.

Masalah sampah merupakan masalah serius yang terjadi dari dahulu hingga sekarang.

Sampah yang terus menerus dibuang begitu saja, di sembarang tempat, akan menjadi penumpukan dan membuat lingkungan rusak.

Akibatnya pasti terjadi polusi sampah yang sehingga ada banjir ketika curah hujan terus menerus meningkat.

Contoh kasus. pencemaran udara yang terjadi di wilayah kabupaten Manggarai khususny di wilayah Kecamatan Reo akhir-akhir ini sangat meningkat dan memprihatinkan bagi masyarakat sekitar.

Bagaimana tidak, wilayah Kecamatan Reo ada Tempat Pembungan Akhir (TPA) tetapi sistem open dumping.

Di sana, masyarakat menggunakan lahan kosong sebagai tempat untuk membuang sampah.

Selain itu, kebiasan membuang sampah sembarang tempat juga sering dilakukan oleh masyarakat Reo.

Akibatnya, sampah berserakan di mana-mana dan tentu saja masalah sampah terus meningkat.

Ini merupakan ulah manusia sendiri yang kurangnya kesadaran untuk membuang sampah pada tempat.

Tanggapan Gereja dalam Ensiklik Laudato Si terkait Sampah

Dalam ensiklik Laudato Si yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, menyerukan mengenai lingkungan hidup, mengajak dan mengingatkan manusia untuk peduli terhadap alam semesta.

Kerusakan yang terus menerus terjadi di lingkungan akibat ulah manusia merupakan salah satu tanda kecil dari krisisnya etika, budaya bahkan spriritual dalam diri manusia.

Paus Fransiskus juga mengatakan bumi, rumah kita semakin menyerupai tumpukan sampah. Di berbagai wilayah bumi daerah yang semula cantik telah tertutup dengan sampah.

Pernyataan dari paus Fransiskus dalam Ensikliknya menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Salah satu caranya yaitu dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat agar kecantikan bumi terus dilestarikan dan tidak menimbulkan berbagai masalah-masalah sosial dalam kehidupan setiap hari terlebih khusus masalah sampah.

Dari Ensiklik Laudato Si artikel 21-22 Paus mengungkapkan keprihatinannya atas limbah dan sampah yang kini menggunung dan menjadikan bumi kita ibarat tempat sampah raksasa.

Dari pernyataan ini mau menyadarkan seluruh rakyat di pelosok mana pun di dunia ini untuk sadar akan kehidupan yang bersih dan menjaga lingkungan hidup.

Sebab masalah lingkungan terlebih khusus masalah sampah dapat menimbulkan penyakit-penyakit baru yang dapat mengganggu kesehatan sesemua warga negara.

Dengan budaya membuang sampah pada tempat merupakan salah satu cara agar tidak terjadi penumpukan sampah di mana- mana dan tidak dengan cara mengelolah sampah dengan kreatif merupakan cara mengurasi populasi sampah.

Veronika Julia Franklin
Previous ArticleGanjar Pranowo Punya Peranan Besar dalam Proses Pemekaran Kabupaten Malaka
Next Article Hasil Seleksi Administrasi PPPK di Malaka Dinilai Tidak Transparan

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.