Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Ceceran Kisah Mama Agnes
Gagasan

Ceceran Kisah Mama Agnes

By Redaksi5 April 20243 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Agnes Istiarawati
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Agnes Istiarawati

Tinggal di Jakarta, Indonesia

Hidup dulu dan kini adalah rangkaian syukur yang terurai tanpa henti. Segalanya terangkai dengan nada syukur atas napas hidup yang bertahan hingga detik ini.

Hidup ibarat pepatah klasik, dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Berikut ceceran kisah hidup keluarga kecil Mama Agnes Istiriawaty yang masih basah terekam hingga kini.

Pada awal rumah tangga keluargaku sederhana dan apa adanya. Betapa bahagianya hati ini tinggal di dalam keluargaku. Keluarga kecilku hidup dengan penuh keharmonisan. Hidup berkeluarga dan tinggal di perumahan yang cukup jauh dari keluarga intiku dan juga keluarga inti dari suami.

Seiring berjalannya waktu, adik-adikku, dan adik dari suami, serta kedua mertuaku tinggal bersama di dalam keluarga kami hingga mereka hidup mandiri.

Sedangkan kedua mertuaku tinggal bersama di dalam keluarga kami hingga selesai napas.

Secara pribadi hatiku sangat senang mengalami nuansa tinggal bersama keluarga inti.

Setelah sekian lama tinggal bersama keluarga inti. Akhirnya rumah tinggal kami hanya dihuni oleh anggota keluarga kecil kami sendiri.

Bangunan rumah kami pun secara perlahan termakan usia dan lapuk kayu-kayunya. Aku tersadar ketika rumah kami nyaris roboh.

Rayap memakan kayu-kayu bangunan rumah. Aku berusaha untuk membasminya dengan semprot racun serangga.

Namun rayap-rayap itu hanya hilang sesaat dan kemudian datang lagi dalam jumlah yang sangat banyak.

Saya mengalami kewalahan untuk membasminya. Walaupun situasi rumah demikian saya mesti bertahan tinggal di sana bersama keluarga kecilku.

Kayu rumah perlahan lapuk dan jatuh satu per satu. Saya bersama keluarga kecilku hanya berusaha untuk sabar menghadapi susahnya suasana kala itu.

Harapanku semoga saja jangan ada yang mengetahui tentang persoalan ini, terutama saudara-saudariku, orangtua, dan anak-anakku.

Saya tak ingin seorang pun yang tahu tentang sulitnya persoalan ini. Biarlah saya menghadapi semua ini seorang diri.

Namun kuyakin dan bersandar penuh pada Yang Kuasa. Saya mengeluh kepada Tuhan agar Ia sendiri bisa buka jalan untuk keluar dari persoalan hidup ini.

Rayap datang tanpa henti. Memakan semua kayu-kayu rumahku. Bertahun tahun saya hadapi sulitnya hidup ini.

Sulit hidup datang dan enggan pergi. Hati ini terasa pilu bagai tersayat sembilu dari tahun ke tahun tanpa henti. Ah, Tuhan sampai kapankah badai ini berlalu dari hidupku?

Akhirnya saya pun pasrah dan menyerah, serta mencoba berdamai dengan  rayap-rayap itu. Kuizinkan rayap- rayap itu memakan kayu dan merobohkan sebagian rumahku.

Kurang lebih sepuluh tahun aku berjuang untuk membangun rumah keluargaku utuh kembali.

Perjuangan dengan kuras energi, waktu, dan tenaga yang terbalut dengan keringat dan air mata.

Dari lubuk hati terdalam hanya ada satu rindu saja, semoga cinta dan damai tetap tinggal di dalam keluarga ini hingga selesai napas.

Kini aku bersama keluargaku tinggal dalam rumah yang layak. Rumah yang terbangun atas dasar cinta dan pengorbanan kerja keras yang tulus.

Betapa bahagianya hatiku karena Tuhan mendengar segala jeritan hatiku bersama keluarga selama ini.

Tuhan telah memulihkan lapuknya kayu-kayu rumahku yang termakan rayap dengan cintaNya yang kekal.

Kini keluarga kecilku mengalami cinta sejuk di bawah naungan kasih dan kebaikan Tuhan yang tak terbatas.

Hadapi kesulitan dengan cinta yang besar dan bersandar pada Tuhan karena Ia tak akan pernah meninggalkanku larut dalam kesusahan.

Agnes Istiarawati
Previous ArticleTingkatkan Potensi PAD, Pemkab Mabar Sosialisasikan Peraturan Pajak Daerah 
Next Article Kebermaknaan Gugatan Sengketa Pilpres 2024 di MK: Tinjauan terhadap Dinamika Demokrasi Indonesia

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.