Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Tak jarang terlontar kata “anjing kau,” itu adalah cermin dari ketidaksempurnaan manusia, mengingatkan kita bahwa meskipun rasa marah bisa mengguncang jiwa, kebijaksanaan sejati adalah kemampuan untuk mengendalikan kata-kata dan memahami bahwa setiap kekeliruan adalah kesempatan untuk belajar dan tumbuh.
Lontaran kata “anjing kau” terbang seperti petir yang menghentak langit malam, mencerminkan reaksi jiwa yang terjebak dalam gelombang ketegangan, di mana otak kita, dengan segala misteri neurobiologinya, merespons luka lama yang mengalir dalam aliran kata, sementara dalam bayang-bayang perilaku yang terlatih, itu adalah gema dari konflik yang belum pernah benar-benar reda, terperangkap dalam lengkungan emosi yang tak terucapkan.
Ada seekor anjing dalam otakku. Ia berjalan dengan langkah pelan, menggonggong di sudut-sudut yang tak tampak, menggigit pikiran-pikiranku dengan suara rendah yang menggema.
Dalam dunia neurosains, otakku adalah medan perang yang penuh dengan medan gelombang listrik dan neuron yang saling berhubungan, membentuk jaringan misterius.
Tetapi di dalam ruang tersebut, anjing itu ada, mengganggu ketenangan, menggali ingatan, dan membuat aku terjaga dalam kesunyian.
Sebuah metafora yang mengundang tanya, apakah anjing itu benar-benar ada? Ataukah ia hanya cerminan dari ketegangan dalam aliran kimiawi yang mengalir dalam diri kita?
Neurosains, yang semakin berkembang dalam lima tahun terakhir, memberi penjelasan tentang otak kita sebagai alat yang penuh kompleksitas.
Penulis seperti Lisa Feldman Barrett dalam bukunya How Emotions Are Made (2017) menggambarkan bagaimana emosi, yang sering kali kita anggap sebagai hal yang luar biasa personal, sebenarnya adalah hasil dari proses persepsi dan interpretasi otak kita terhadap dunia luar.
Otak tidak hanya merekam kenyataan, tetapi ia menciptakan realitasnya sendiri. Dan jika kita menganggap anjing dalam otakku sebagai metafora emosi atau kecemasan, maka bisa jadi anjing itu adalah produk dari reaksi kimia dalam otak yang terus bergerak, seakan-akan mengejar sesuatu yang tak pernah bisa dijangkau.
Namun, seperti anjing yang mengendus-endus ruang tak terlihat, otak kita bekerja dengan cara yang lebih misterius. Anjing ini bukan hanya sekadar gangguan, tetapi juga simbol dari mindset magis yang kita ciptakan untuk menjelajahi dunia kita.
Magic mindset, sebagaimana yang dikemukakan oleh Carol Dweck dalam Mindset: The New Psychology of Success (2006), membuka pandangan bahwa cara kita berpikir—apakah kita mempercayai kemampuan untuk berkembang atau merasa terjebak dalam keadaan sekarang—mempengaruhi cara kita menghadapi dunia ini.
Anjing dalam otakku bisa jadi adalah manifestasi dari pola pikir terbatas yang mengekang potensi sejati kita.
Ia menggonggong, memaksa kita untuk memikirkan kembali bagaimana kita melihat diri dan dunia di sekitar kita.
Pakar lainnya, seperti Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow (2011), menulis tentang dua sistem dalam otak yang bekerja dengan cara berbeda—sistem cepat yang otomatis dan sistem lambat yang penuh pertimbangan.
Anjing dalam otakku mungkin merupakan bagian dari sistem cepat itu, sebuah reaksi instingtif yang tak terkendali.
Ia mungkin menggonggong sebagai bentuk peringatan atau kekhawatiran, dengan melibatkan sistem otak yang paling primitif.
Dan dalam kesunyian malam, saat aku terjaga memikirkan keberadaannya, aku menyadari bahwa otakku bekerja dengan cara yang tak selalu bisa kupahami, membentuk dunia internal yang tak selalu sejalan dengan kenyataan eksternal.
Namun, anjing itu juga membawa kita ke dalam dimensi yang lebih dalam, di mana kita berhadapan dengan konsep-konsep yang jauh lebih fantastis.
Ada sebuah kebenaran yang tak terungkap dalam neurosains, sebuah kenyataan bahwa kesadaran kita adalah sesuatu yang lebih dari sekadar kumpulan sel dan sinapsis.
Dalam banyak cara, kita terhubung dengan alam semesta melalui kesadaran ini, dan di dalamnya, seperti yang ditulis oleh Rick Hanson dalam bukunya Hardwiring Happiness (2013), kita dapat membentuk pola pikir yang lebih positif.
Anjing dalam otakku, jika dilihat dari sudut pandang ini, bisa menjadi simbol dari hambatan mental yang harus kita atasi untuk mengembangkan kebahagiaan sejati.
Dalam banyak cara, kita juga bisa melihat anjing ini sebagai guru. Mungkin ia datang untuk mengajarkan kita tentang ketahanan, tentang bagaimana kita dapat melampaui ketakutan dan kecemasan yang kadang merajai pikiran kita.
Mindset magis, yang dilihat sebagai sesuatu yang jauh di luar jangkauan oleh banyak orang, menjadi sebuah aliran pemikiran yang membawa kita lebih dekat pada pemahaman diri yang lebih dalam.
Oleh karena itu, anjing dalam otakku tidak hanya menggonggong untuk mengganggu, tetapi juga untuk memberi kita peringatan bahwa kita mungkin terjebak dalam pola pikir lama yang harus kita tinggalkan.
Mungkin anjing itu adalah bagian dari diri kita yang ingin bebas. Seperti seekor anjing liar yang berlari tanpa hambatan, ia berusaha menembus batasan yang telah lama kita pasang.
Ia ada di dalam otak kita, mengingatkan kita bahwa kita bukan hanya sekadar sistem neuron yang berfungsi mekanis. Kita adalah makhluk yang penuh potensi, yang mampu menciptakan dunia baru melalui kekuatan pikiran dan perasaan.
Dan di tengah semua gangguan dan kegelisahan, anjing itu tetap ada, dengan setia menemani perjalanan kita menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan semesta.
Ada seekor anjing dalam otakku, berlarian di sepanjang koridor pikiranku yang sempit, menggonggong pelan dan tanpa henti.
Dalam dunia yang dipenuhi dengan ketegangan sosial dan ketidakpastian ekonomi, anjing itu menjadi simbol dari keresahan yang mendalam—resah terhadap kemiskinan struktural yang turun temurun, yang membelenggu tak hanya tubuh, tetapi juga pikiran dan impian.
Ia adalah bayangan dari jerat yang tak terlepas, kesulitan yang menghantui dari generasi ke generasi.
Anjing ini mengingatkan kita bahwa kemiskinan bukan hanya soal kekurangan materi, tetapi juga keterbatasan mental yang diwariskan, sebuah siklus yang seakan tak terputus, dan kita hanya bisa melawan dengan kekuatan yang lebih besar dari sekadar kenyataan.
Dalam “kemiskinan struktural” yang tak tampak habisnya, otak kita sering kali terjebak dalam pola pikir yang membatasi.
Tetapi anjing itu, meski mengendus-endus keresahan dalam pikiranku, juga mengajak kita untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Ia mengingatkan kita bahwa meskipun dunia luar penuh dengan ketidakpastian, kebahagiaan yang berkelanjutan hanya bisa tercapai melalui perubahan dalam cara kita berpikir.
Seperti yang diungkapkan oleh Richard Davidson dalam The Emotional Life of Your Brain (2012), otak kita memiliki kekuatan untuk berubah, untuk mengubah cara kita merespons dunia dan untuk menciptakan kebahagiaan bahkan di tengah kesulitan.
Anjing dalam otakku adalah pengingat bahwa kebahagiaan bukanlah hadiah dari dunia luar, tetapi hasil dari konektivitas antara pikiran dan perasaan.
Anjing itu bukan hanya simbol dari keterbatasan, tetapi juga dari potensi yang tak terbatas.
Ia mengajarkan kita untuk melihat kemiskinan bukan hanya sebagai kekurangan, tetapi sebagai kesempatan untuk berkembang.
Seperti halnya ketika seekor anjing berlari dengan penuh semangat meski terhalang oleh rintangan, kita pun dapat menemukan kebahagiaan dalam perjuangan.
Dalam teori neuroplasticity, kita belajar bahwa otak manusia dapat berubah dan berkembang seiring waktu, dan anjing dalam otakku adalah lambang dari potensi tersebut.
Ia mengajak kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar kondisi kita saat ini dan untuk membayangkan dunia yang lebih baik, di mana kita bisa melampaui batasan yang dikenakan oleh struktur sosial yang tak adil.
Meskipun dunia sering kali terasa seperti tempat yang keras, anjing itu tetap ada di dalam otakku, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan yang berkelanjutan bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah.
Ia adalah hasil dari perjalanan batin yang panjang, dari kesadaran dan keteguhan hati untuk tidak menyerah meski hidup terasa penuh dengan rintangan.
Anjing itu menjadi penjaga dari perjalanan kita menuju kebahagiaan yang sejati—bukan kebahagiaan yang terikat pada kekayaan materi atau status sosial, tetapi kebahagiaan yang lahir dari kedalaman jiwa dan ketenangan pikiran.
Dalam setiap gonggongan yang menggema, ia mengingatkan kita bahwa meskipun kemiskinan struktural mengekang, kebahagiaan sejati adalah hak kita yang tak bisa dirampas oleh dunia.