Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Jatam Ragukan Tim Investigasi Geotermal Bentukan Gubernur NTT
NTT NEWS

Jatam Ragukan Tim Investigasi Geotermal Bentukan Gubernur NTT

By Redaksi28 April 20252 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Koordinator Jatam, Melky Nahar (Foto: Facebook Melky Nahar)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jakarta, Vox NTT – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menyampaikan keraguannya atas pembentukan tim investigasi proyek panas bumi (geotermal) oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melkiades Laka Lena.

Mereka menilai langkah tersebut hanya bersifat demokratis yang berpotensi membajak aspirasi masyarakat serta suara kritis Gereja.

Koordinator Jatam, Melky Nahar mengatakan, tim investigasi yang diklaim akan menghimpun fakta dari berbagai pihak sejatinya tidak menyentuh akar persoalan. Menurutnya, forum ini justru menjadi mekanisme partisipasi semu yang dimanfaatkan untuk melegitimasi keberlanjutan proyek geotermal di Flores dan Lembata.

“Dalam skema ini, keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat digunakan untuk menghalalkan kebijakan yang arah utamanya sudah ditentukan: mempertahankan dan memperluas proyek geotermal,” kata Melky dalam keterangannya yang diterima VoxNtt.com, pada Senin, 28 April 2025.

Proyek geotermal di NTT selama ini mendapat penolakan luas dari masyarakat adat dan Gereja Katolik, khususnya di Flores dan Lembata.

Penolakan itu ditegaskan melalui surat pastoral enam Uskup dari Provinsi Gerejawi Ende pada Maret 2025. Para Uskup menilai proyek tersebut mengancam kelestarian lingkungan dan mencederai keadilan sosial bagi masyarakat lokal.

Jatam menilai pembentukan tim investigasi ini sebagai bentuk pengalihan isu dan pelanggengan pola lama. Alih-alih menghentikan proyek yang bermasalah sejak awal, pemerintah justru mendorong skema teknokratis yang mengabaikan suara rakyat.

Melky menyebut bahwa sejak awal proses perizinan proyek geotermal dilakukan tanpa transparansi dan melibatkan praktik manipulatif.

“Gubernur tidak memiliki kewenangan substantif untuk mencabut izin eksplorasi maupun eksploitasi karena semuanya dikeluarkan oleh pemerintah pusat,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Jatam menyangsikan efektivitas dan integritas tim investigasi yang dibentuk. Bahkan jika ditemukan pelanggaran, tidak ada jaminan bahwa proyek tersebut akan dihentikan.

“Yang terjadi justru pola lama: hentikan sementara, lalu aktifkan kembali,” ujar Melky, merujuk pada kasus serupa di Mandailing Natal, Sumatera Utara, yang berakhir dengan jatuhnya korban jiwa.

Jatam memuji sikap Keuskupan Agung Ende dan elemen masyarakat yang menolak terlibat dalam forum-forum buatan pemerintah.

Menurut Melky, langkah ini merupakan bentuk integritas untuk menjaga gerakan rakyat dari kooptasi kekuasaan.

“Ini adalah bentuk keberanian untuk menjaga jarak dari manipulasi politik dan menegaskan bahwa perjuangan rakyat tidak tunduk pada desain kekuasaan yang abai terhadap hak asasi dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Sebagai respons, Jatam menyerukan kepada seluruh masyarakat sipil, komunitas basis, dan jaringan gerakan rakyat di NTT untuk menolak terlibat dalam forum partisipasi kosmetik dan konsisten memperjuangkan hak atas ruang hidup.

“Karena masa depan ruang hidup kita tidak boleh ditentukan sepihak oleh kekuasaan yang hanya berpihak pada korporasi,” tutup Melky. [VoN]

Emanuel Melkiades Laka Lena Geotermal Flores Jaringan Advokasi Tambang JATAM Melki Laka Lena Melky Nahar
Previous ArticleGubernur Melki Laka Lena Ajak UT Lahirkan Lulusan Terbaik dan Berkualitas
Next Article 17 Proyek Sekolah di Kabupaten Kupang Bermasalah, Plafon Roboh hingga Dugaan Penyelewengan

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.