Weetebula, VoxNTT.com – Suasana pagi di Kapela St. Fransiskus Asisi, Sinar Buana Weetebula, terasa khidmat dan penuh syukur. Civitas akademika Seminari Sinar Buana berkumpul dalam sebuah perayaan istimewa yang menandai dua momen penting sekaligus: pembukaan Tahun Pelajaran 2025/2026 dan peringatan 40 tahun pengabdian Pater Yosef Banamtuan, SVD di tanah Sumba.
Perayaan yang berlangsung pada Sabtu, 19 Juli 2025 ini dihadiri para imam, biarawan-biarawati, pendidik, tenaga kependidikan, serta tamu undangan lainnya.
Nuansa haru dan kegembiraan terasa semakin kuat berkat koor dari vokal grup anak-anak Seminari yang turut menyemarakkan perayaan.
RD. Kamilus Pantus, Pr, Rektor Seminari Sinar Buana, memimpin misa sebagai selebran utama, didampingi oleh para imam konselebran.
Dalam homili, Pater Fabi Ngama, SVD, mengajak umat untuk merefleksikan perjalanan panjang Pater Yosef sebagai seorang misionaris.
Pater Fabi mengatakan, Pater Yosef merupakan misionaris pertama dari Serikat Sabda Allah (SVD) yang diutus ke Pulau Sumba pada 1985. Meski awalnya diragukan karena kondisi kesehatannya, Pater Yosef memilih tetap menjalani panggilan imamatnya di wilayah yang penuh tantangan ini.
“40 tahun dalam imamat bukanlah perjalanan yang singkat. Itu adalah perjalanan kasih, pengorbanan, dan buah roh yang nyata dalam pengabdian Pater Yosef,” ujar Pater Fabi.
RD. Kamilus Pantus turut mengapresiasi keteladanan Pater Yosef selama empat dekade pelayanan.
Ia menyebut Pater Yosef sebagai pribadi yang konsisten, rendah hati, dan penuh dedikasi dalam mendampingi para calon imam.
“Pater Yosef adalah pribadi yang disiplin dan murah hati. Beliau selalu tepat waktu dalam setiap kegiatan, dan tidak pernah lelah memberikan ide-ide untuk kemajuan pendidikan calon imam di Seminari ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pater Yosef mengenang masa awal misinya di Paroki Melolo, Sumba Timur. Tantangan besar, seperti perjalanan pastoral sejauh 10 jam dengan berjalan kaki serta keterbatasan komunikasi dengan keluarga selama dua tahun, hampir membuatnya menyerah.
“Menghadapi tantangan berat, seperti patroli pastoral yang harus dilakukan dengan berjalan kaki selama 10 jam dan tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga selama dua tahun, hampir membuat saya menyerah. Namun berkat kasih Kristus, saya bertahan,” ungkap Pater Yosef.
Ia menekankan bahwa menjadi imam adalah perjuangan harian yang menuntut komitmen dan kesetiaan.
“Imamat itu seperti telur di tangan yang harus dijaga dan dirawat dengan penuh kehati-hatian. Perjuangan ini harus menjadi energi positif untuk berkolaborasi dengan rahmat Allah,” tambahnya.
Sebagai penutup, Pater Yosef mengajak semua umat untuk terus setia pada panggilan hidup masing-masing.
“Marilah kita berpijak pada pesan Yesus: ‘Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Barang siapa yang terkecil di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayan,’” ujarnya penuh harap.
Acara dilanjutkan dengan resepsi dan ramah tamah di halaman Seminari, sebagai bentuk ungkapan syukur atas dua momen bersejarah yang dirayakan bersama.
Momen ini semakin memperkuat semangat komunitas Seminari Sinar Buana untuk terus bertumbuh dalam iman dan pelayanan.
Kontributor: Yohanes Mau

