Oleh: Florentina Ina Wai
Dalam semangat yang mengalir dari akar karakter dan kesadaran kebangsaan, Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende menyelenggarakan hari kedua kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) dengan menghadirkan Satbinmas Polres Ende sebagai narasumber utama.
Sosok yang dihadirkan adalah Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) Paskalis Koly, Kepala Unit Pembinaan Ketertiban Sosial (Kanit Bintibsos) Satuan Binmas Polres Ende.
Momen ini merupakan sebuah perjumpaan yang bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga mengundang refleksi mendalam tentang makna kebangsaan.
Bertempat di Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD, sejak pukul 08.00 hingga 10.00 Wita, ruang akademik berubah menjadi ruang batin kebangsaan.
Di sana, para mahasiswa baru diajak menyelami hakikat bela negara bukan sebagai slogan kosong yang mudah diucapkan, tetapi sebagai panggilan moral dan konstitusional yang menuntut kesadaran, keberanian, serta komitmen nyata.
Bela negara dimaknai sebagai tindakan menjaga tanah air dengan akal yang jernih, hati yang tulus, dan langkah yang berani—sebuah tanggung jawab yang melekat dalam diri setiap warga, terlebih generasi muda yang sedang menapaki jalan pendidikan dan pembentukan karakter.
Dalam sesi yang berlangsung hangat dan reflektif, Satbinmas Polres Ende menghadirkan sebuah narasi kebangsaan yang menyentuh nalar dan nurani.
Mereka menegaskan bahwa bela negara bukanlah semata tugas militer yang berbaris di medan tempur, melainkan panggilan luhur yang merangkul seluruh warga negara, terutama generasi muda yang sedang menata arah hidup dan cita.
Di hadapan para mahasiswa baru, disampaikan pemahaman mendalam tentang makna dan hakikat bela negara, dasar hukum yang melandasinya, serta peran strategis pemuda dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah arus zaman yang terus berubah.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, sesi ini menjadi ruang pembentukan kesadaran bahwa menjadi warga negara berarti siap berdiri di barisan nilai, bukan hanya di barisan senjata.
Mahasiswa diajak untuk melihat bela negara sebagai tindakan sehari-hari: menjaga harmoni sosial, merawat lingkungan, menolak intoleransi, dan menghidupi semangat solidaritas.
Tujuannya bukan hanya mencetak insan akademis yang cerdas, tetapi pribadi yang tangguh secara ideologis, berjiwa patriotik, dan mampu menjadikan cinta tanah air sebagai laku hidup yang nyata.
Ir. Soekarno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.” Kutipan ini bukan sekadar retorika sejarah, melainkan pengingat abadi bahwa bela negara adalah wujud penghormatan terhadap darah dan air mata yang telah tertumpah demi kemerdekaan.
Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa sebagai generasi penerus ditantang untuk menjaga warisan tersebut bukan hanya dengan mengenang, tetapi dengan mewujudkannya dalam tindakan nyata dalam sikap, karya, dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Sementara itu, Sutan Syahrir menegaskan bahwa “Kemerdekaan nasional bukan pencapaian akhir, tapi rakyat bebas berkarya adalah pencapaian puncaknya.”
Di ruang kampus, kutipan ini menemukan napasnya: mahasiswa bukan hanya pewaris kemerdekaan, tetapi juga penggerak masa depan. Mereka dituntut untuk aktif membangun masyarakat yang adil, damai, dan berkelanjutan—menjadikan bela negara sebagai proses kreatif dan kolaboratif yang menyentuh ranah sosial, ekologis, dan spiritual.
Dengan demikian, kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi medan pengabdian bagi cita-cita bangsa.
Sebagai unit pembinaan masyarakat, Satbinmas Polres Ende memegang peran strategis dalam menjembatani kepolisian dengan denyut kehidupan warga. Mereka hadir bukan sekadar sebagai penegak hukum, tetapi sebagai mitra dialogis yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui pendekatan edukatif dan humanis.
Dalam kegiatan seperti PKKMB di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende, Satbinmas tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi menyalakan kesadaran kolektif bahwa menjaga keamanan dan keutuhan bangsa adalah tugas yang melibatkan hati, pikiran, dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
Kehadiran mereka di ruang akademik menjadi bukti bahwa bela negara tidak selalu bermula dari medan tempur, melainkan bisa tumbuh dari ruang kelas yang penuh refleksi, dari diskusi yang jujur, dan dari semangat muda yang menyala.
Di tangan generasi baru, bela negara menemukan bentuknya yang segar bukan dalam barikade, tetapi dalam keberanian berpikir kritis, dalam kepedulian sosial, dan dalam komitmen untuk merawat Indonesia sebagai rumah bersama.

