Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Fenomena Bunuh Diri di Manggarai: Ketika Kesehatan Mental Tak Terjamah
Gagasan

Fenomena Bunuh Diri di Manggarai: Ketika Kesehatan Mental Tak Terjamah

By Redaksi6 Agustus 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Valensiana Ceria
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Valensiana Ceria

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Sosiologi, Universitas Teknologi Sumbawa

Dalam bayang- bayang keindahan alam dan kekayaan budayanya, Kabupaten Manggarai tersimpan kenyataan pahit yang jarang dibicarakan secara terbuka yaitu meningkatnya kasus bunuh diri.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bunuh diri di daerah ini menjadi perhatian serius, terutama karena melibatakan kelompok muda yang produktif.

Manggarai kerap muncul dalam pemberitaan nasioanl karena tingginya angka bunuh diri, terutama dengan cara gantung diri.

Fenomena ini tidak hanya mengejutkan masyarakat luas, tetapi juga menjadi alarm serius terkait krisis kesehatan mental didaerah tersebut terutama soal depresi, kesepian, dan tekanan hidup yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Kesehatan mental masih menjadi isu yang sering terabaikan dimasyarakat manggarai padahal, kasus bunuh diri merupakan hasil dari gangguan mental yang terabaikan dan tidak ditangani.

Bunuh diri merupakan hal yang serius yang harus kita tanggani lebih cepat, namun kurangnya akses pelayanan kesehatan mental yang memandai, serta tidak adanya respon pemerintah dalam melakukan sosialisasi setiap desa untuk mencegah kasus- kasus seperti ini.

Penyediaan psikolog, psikiater atau konseler sangat minim, hal ini menyebabkan banyak masyarakat terutama kaum remaja dan kaum muda yang mengalami sakit mental memilih menyembunyikan kesakitan mereka, dan memilih untuk membuat solusi-solusi yang mereka pikir akan bebas dari masalah yang mereka alami.

Mereka tidak memperoleh bantuan profesional, bahkan tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan. Penyebab terjadinya kasus bunuh diri juga dikarenakan kurangnya pemahaman dan kesadaran kritis anak remaja untuk mengelola berbagai bentuk perubahan dan tuntutan yang terjadi.

Kesadaran kritis seperti kemampuan untuk berpikir, bersikap dan bertindak belum kuat tertanam dalam diri remaja, sehingga mereka belum bisa mengelola dinamika kehidupan sosial yang berkembang dengan pesat, daya saing di kehidupan sehari-hari semakin kuat sehingga mereka terasing dan memilih melakukan tindakan bunuh diri untuk keluar dari persoalan tersebut.

Ketika keadaan ini tidak di kelola dengan baik oleh remaja Kabupaten Manggarai mereka mengalami krisis identitas dan kesunyian dalam hidup.

Krisis identitas dan kesunyian dalam hidup dapat disebabkan oleh tingginya tuntutan dan tekanan hidup, kuatnya pengaruh perkembangan teknologi informasi (media sosial).

Menurut Emile Durkheim (1897) dalam penelitiannya di beberapa negara di Eropa menyimpulkan kasus bunuh diri sebenarnya adalah kenyataan-kenyataan sosial tersendiri yang menghubungkannya dengan struktur sosial dan derajat integrasi sosial dalam suatu kehidupan masyarakat.

Setiap masyarakat memiliki kecendrungan kolektif yang menetap tentang bunuh diri. Dia menyebutkan semakin kuat integritas individu dengan masyarakatnya, semakin kecil kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.

Kurangnya pemahaman dan edukasi dari pemerintah juga menyebabkan kurangnya empati dari lingkungan sosial masyarakat
terhadap kaum remaja dan kaum muda yang memiliki tingkat intregasi yang lemah, sehingga tidak adanya sikap terbuka terhadap lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya.

Tindakan seperti ini dapat memicu individu untuk melakukan tindakan bunuh diri, seperti kasusnya seorang mahasiswa di Manggarai. Ia melakukan tindakan bunuh diri di dalam kosnya pada 15 November 2024 diduga karena depresi.

Teman kosnya mengaku sebelum melakukan tindakan bunuh diri pelaku sempat menangis di depan kamar kosnya. Ia menangis disaksikan oleh salah satu penghuni kos. Teman kosnya tidak tahu masalahnya dan dia tidak bertanya. Sebab dia tidak terlalu tahu soal aktivitas si pelaku karena jarang berkomunikasi dengannya dan teman -teman kos yang lain.

Dampak dari kasus tersebut dapat menyebabkan hilangnya sumber daya manusia, karena yang menjadi korban dari masalah seperti ini umumnya adalah kaum muda yang memiliki mimpi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan.

Bunuh diri bukan sekadar kehilangan nyawa, tetapi juga kehilangan harapan dan masa depan yang seharusnya masih dapat berkembang.

Bunuh diri meniggalkan luka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan serta komunitas dan solidaritas sosial. Hal seperti ini juga akan mempengaruhi cara berpikir seseorang bahwasannya bunuh diri merupakan solusi terbaik dari berbagai masalah-masalah yang menimpa mental.

Jadi, di sini saya menyampaikan pemerintah daerah dan organisasi sosial harus bekerja sama dalam memperluas akses layanan kesehatan, dan membangun pusat layanan konsultasi untuk menyediakan ruang yang aman bagi masyarakat dalam mencari pertolongan. Serta perlu mengadakan kampanye edukasi mengenai kesehatan mental.

Tokoh adat, tokoh agama dan pemuda bisa untuk menyuarakan suara bahwa sakit mental bukan aib, dan masalah yang dapat menganggu mental kita tidak perlu ditutupi.

Hal ini dapat membangun kesadaran masyarakat terhadap kondisi psikologis sesama serta dapat menumbuhkan rasa empati yang tinggi mengenai isu ini.

Fenomena bunuh diri di Manggarai merupakan masalah serius yang harus ditanggapi dengan segera dan menyeluruh. Tidak cukup dengan hanya merespons ketika kejadian sudah terjadi, langkah pencengahan jauh lebih penting.

Dengan meningkatkan akses layanan kesehatan mental, menghapus stigma dan diskriminasi, serta membangun kesadaran masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan yang sportif dan manusiawi. Ini adalah tanggung jawab bersama antara negara masyarakat dan individu.

Valensiana Ceria
Previous ArticleBukan Selamat Tinggal, Hanya Sampai Jumpa 
Next Article Prajurit TNI Teritorial Pembangunan Wakanga Mere Nagekeo Diduga Tewas Dianiaya

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.