Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»PKKMB di Stipar Ende: Menjadi Bijak di Era Satu Jari
Gagasan

PKKMB di Stipar Ende: Menjadi Bijak di Era Satu Jari

By Redaksi6 Agustus 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) kampus Stipar Ende, Rabu, 6 Agustus 2025 (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Florentina Ina Wai

Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD kampus Stipar Ende (Rabu, 06/08/2025) dipenuhi semangat muda yang tak hanya datang untuk mengenal kampus, tetapi juga untuk memahami dunia yang kini bergerak dalam kecepatan cahaya.

Hari ketiga Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) mengangkat tema yang relevan dan mendesak: “Era Digital: Peluang dan Tantangan.” Sebuah tema yang tak hanya mengajak berpikir, tetapi juga merenung tentang siapa kita di tengah gelombang teknologi yang tak pernah berhenti.

Mahasiswa hari ini adalah generasi digital native. Mereka lahir dan tumbuh bersama gawai, algoritma, dan jaringan nirkabel.

Mereka adalah generasi yang paling cepat dalam menanggapi teknologi, namun juga yang paling rentan terhadap dampaknya.

Seperti yang disampaikan oleh narasumber utama, Dr. Ignasius Suswakara, S.Fil., M.Th, bahwasanya kemajuan dan kehancuran kini hanya sejauh satu jari. Dalam satu klik, kita bisa membangun masa depan, atau menghancurkan reputasi, relasi, bahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, era digital memang menawarkan kemudahan luar biasa: akses informasi, konektivitas global, dan ruang ekspresi yang tak terbatas.

Tapi di balik layar yang terang, ada bayang-bayang yang mengintai. Hoaks menyebar lebih cepat dari kebenaran. Krisis moral mengintai di balik komentar anonim.

Revolusi industri 4.0 bukan hanya soal mesin dan data, tetapi juga tentang manusia yang harus tetap menjadi pusat dari semua perubahan.

Dalam sesi reflektif, mahasiswa diajak untuk melihat diri mereka bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai agen perubahan digital.

Perguruan tinggi, menurut Dr. Suswakara, harus menjadi ruang kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk membentuk karakter digital yang kritis, komunikatif, dan bermoral.

“Di dunia digital, semua yang kita lakukan akan tercatat. Tidak ada yang benar-benar terhapus,” tegasnya. “Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: aplikasi mana yang kita gunakan, informasi mana yang kita percaya, dan keputusan moral apa yang kita ambil saat mengakses internet.”

Prof. Rhenald Kasali, guru besar Universitas Indonesia dan pakar perubahan, pernah mengatakan: “Digital bukan hanya soal teknologi, tapi soal mindset. Kita harus membentuk manusia-manusia yang tidak hanya cerdas digital, tapi juga bijak digital.”

Sementara itu, Yuval Noah Harari, sejarawan dan penulis internasional, mengingatkan: “Di masa depan, mereka yang bisa memisahkan kenyataan dari ilusi digital akan menjadi pemimpin. Literasi digital bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan eksistensial.”

Kutipan-kutipan ini menjadi cermin bagi mahasiswa STIPAR Ende: bahwa menjadi cerdas digital bukan hanya soal menguasai teknologi, tetapi tentang bagaimana menjaga integritas, disiplin, dan tanggung jawab di tengah dunia maya yang penuh godaan.

Sesi ini hendak mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen digital, tetapi pencipta nilai. Kreativitas dan inovasi harus lahir dari kesadaran, bukan sekadar tren.

Mereka diajak untuk memerangi hoaks, menciptakan konten yang membangun, dan menjadikan dunia digital sebagai ladang kebaikan. Di era satu jari ini, setiap klik adalah keputusan. Dan setiap keputusan adalah cerminan dari siapa kita sebenarnya.***

Florentina Ina Wai
Previous ArticleMimpi Lautan, Sekolah Keadilan Sosial Ekologis
Next Article Bukan Selamat Tinggal, Hanya Sampai Jumpa 

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.