Oleh: Florentina Ina Wai
Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD kampus Stipar Ende (Rabu, 06/08/2025) dipenuhi semangat muda yang tak hanya datang untuk mengenal kampus, tetapi juga untuk memahami dunia yang kini bergerak dalam kecepatan cahaya.
Hari ketiga Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) mengangkat tema yang relevan dan mendesak: “Era Digital: Peluang dan Tantangan.” Sebuah tema yang tak hanya mengajak berpikir, tetapi juga merenung tentang siapa kita di tengah gelombang teknologi yang tak pernah berhenti.
Mahasiswa hari ini adalah generasi digital native. Mereka lahir dan tumbuh bersama gawai, algoritma, dan jaringan nirkabel.
Mereka adalah generasi yang paling cepat dalam menanggapi teknologi, namun juga yang paling rentan terhadap dampaknya.
Seperti yang disampaikan oleh narasumber utama, Dr. Ignasius Suswakara, S.Fil., M.Th, bahwasanya kemajuan dan kehancuran kini hanya sejauh satu jari. Dalam satu klik, kita bisa membangun masa depan, atau menghancurkan reputasi, relasi, bahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurutnya, era digital memang menawarkan kemudahan luar biasa: akses informasi, konektivitas global, dan ruang ekspresi yang tak terbatas.
Tapi di balik layar yang terang, ada bayang-bayang yang mengintai. Hoaks menyebar lebih cepat dari kebenaran. Krisis moral mengintai di balik komentar anonim.
Revolusi industri 4.0 bukan hanya soal mesin dan data, tetapi juga tentang manusia yang harus tetap menjadi pusat dari semua perubahan.
Dalam sesi reflektif, mahasiswa diajak untuk melihat diri mereka bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai agen perubahan digital.
Perguruan tinggi, menurut Dr. Suswakara, harus menjadi ruang kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk membentuk karakter digital yang kritis, komunikatif, dan bermoral.
“Di dunia digital, semua yang kita lakukan akan tercatat. Tidak ada yang benar-benar terhapus,” tegasnya. “Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: aplikasi mana yang kita gunakan, informasi mana yang kita percaya, dan keputusan moral apa yang kita ambil saat mengakses internet.”
Prof. Rhenald Kasali, guru besar Universitas Indonesia dan pakar perubahan, pernah mengatakan: “Digital bukan hanya soal teknologi, tapi soal mindset. Kita harus membentuk manusia-manusia yang tidak hanya cerdas digital, tapi juga bijak digital.”
Sementara itu, Yuval Noah Harari, sejarawan dan penulis internasional, mengingatkan: “Di masa depan, mereka yang bisa memisahkan kenyataan dari ilusi digital akan menjadi pemimpin. Literasi digital bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan eksistensial.”
Kutipan-kutipan ini menjadi cermin bagi mahasiswa STIPAR Ende: bahwa menjadi cerdas digital bukan hanya soal menguasai teknologi, tetapi tentang bagaimana menjaga integritas, disiplin, dan tanggung jawab di tengah dunia maya yang penuh godaan.
Sesi ini hendak mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen digital, tetapi pencipta nilai. Kreativitas dan inovasi harus lahir dari kesadaran, bukan sekadar tren.
Mereka diajak untuk memerangi hoaks, menciptakan konten yang membangun, dan menjadikan dunia digital sebagai ladang kebaikan. Di era satu jari ini, setiap klik adalah keputusan. Dan setiap keputusan adalah cerminan dari siapa kita sebenarnya.***

