Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Sekolah energi terbarukan dan Bioregional Learning Centre (BLC) hadir sebagai jawaban konkret atas krisis ekologis global yang ditandai oleh degradasi lingkungan, ketimpangan akses energi, dan perubahan iklim.
Relevansinya terletak pada kemampuannya untuk mengedukasi generasi muda dan masyarakat lokal secara kontekstual menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi bersih, dan kearifan lokal dalam satu sistem pembelajaran yang utuh.
Melalui pendekatan ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran ekologis dan etika lingkungan. Urgensinya semakin tinggi karena hanya dengan pendidikan transformatif seperti ini, masyarakat dapat beralih dari ketergantungan energi fosil menuju sistem energi yang bersih, adil, dan adaptif terhadap krisis iklim.
Lebih jauh, sekolah energi terbarukan dan BLC tidak hanya berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menciptakan fondasi bagi kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan keadilan sosial.
Dengan membangun model pendidikan yang partisipatif dan berakar pada bioregionalitas, keduanya mendorong keterlibatan semua pihak—termasuk kelompok adat, perempuan, dan pemuda dalam menjaga keutuhan ciptaan.
Energi bersih menjadi jembatan menuju keadilan ekologis, sementara pendidikan holistik menciptakan komunitas yang hidup dalam damai dengan alam dan sesamanya. Dalam dunia yang makin terfragmentasi, inisiatif ini adalah jalan untuk menyatukan pengetahuan, spiritualitas, dan aksi nyata demi bumi yang utuh dan masa depan yang membahagiakan.
Sekolah Energi Terbarukan
Sekolah energi terbarukan adalah institusi pendidikan yang berfokus pada pengembangan dan penerapan teknologi energi yang bersumber dari alam dan dapat diperbarui, seperti matahari, angin, air, biomassa, dan panas bumi.
Sekolah ini tidak hanya mendidik siswa tentang aspek teknis energi terbarukan, tetapi juga menanamkan nilai keberlanjutan, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab sosial. Menurut Prof. Daniel M. Kammen, dalam bukunya Renewable Energy and Efficiency (2007), pendidikan adalah kunci utama untuk mentransformasi sistem energi global menjadi lebih adil, bersih, dan berkelanjutan.
Pendidikan energi terbarukan mampu menciptakan kebahagiaan jangka panjang karena generasi muda diberikan harapan dan alat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Mereka tidak hanya diajarkan tentang teknologi, tetapi juga dilibatkan dalam proyek-proyek praktis yang berdampak langsung pada komunitas.
Hal ini selaras dengan gagasan E.F. Schumacher dalam buku Small is Beautiful (1973), yang menekankan pentingnya pendidikan yang relevan secara sosial dan ekologis dalam menciptakan manusia yang bahagia dan seimbang dengan alam.
Dari segi kesejahteraan, sekolah energi terbarukan berkontribusi langsung terhadap penciptaan lapangan kerja hijau dan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Lulusan sekolah ini dapat menjadi teknisi, inovator, atau wirausahawan energi bersih yang mampu membangun solusi berbasis komunitas.
Jeremy Rifkin dalam bukunya The Third Industrial Revolution (2011) menunjukkan bahwa pergeseran menuju energi terbarukan membuka peluang ekonomi yang luas, khususnya bagi wilayah yang sebelumnya tertinggal dalam pembangunan infrastruktur energi konvensional.
Keberlanjutan adalah pilar utama dari sekolah energi terbarukan. Kurikulum yang diterapkan tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga mencakup kajian sosial, etika, dan lingkungan, sehingga siswa memahami bahwa energi bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal keadilan dan kelangsungan hidup.
Dr. Amory Lovins, pendiri Rocky Mountain Institute, dalam Reinventing Fire (2011) menguraikan bagaimana desain sistem energi berkelanjutan harus terintegrasi dengan pendekatan sistemik yang mengutamakan efisiensi dan konservasi.
Dengan demikian, sekolah energi terbarukan merupakan investasi strategis untuk masa depan yang lebih bahagia, sejahtera, dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan pendidikan yang menyeluruh dan holistik, sekolah ini membentuk individu yang bukan hanya ahli secara teknis, tetapi juga bijak secara moral dan sosial.
Mereka menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi tantangan energi dan lingkungan abad ke-21, sebagaimana diimpikan oleh para pemikir dan pakar energi terbarukan dunia.
Bioregional Learning Centre (BLC)
Sekolah energi terbarukan berbasis bioregional mendorong siswa untuk belajar langsung dari lingkungan lokal, tanah, iklim, flora, fauna dan sistem energi spesifik wilayah mereka.
Konsep ini memperkuat hubungan emosional, sosial, dan ekologis dengan tempat tinggal, sejalan dengan gagasan bahwa kita harus hidup sebagai bagian, bukan terpisah, dari alam.
Hal ini mengintegrasikan pendidikan teknis dan pengalaman lokal sehingga generasi mendatang menjadi bijak ekologis sekaligus cakap teknis.
Model pendidikan bioregional sering kali mencakup interaksi antara siswa, guru, dan tokoh adat atau tetua dikenal sebagai Elder-in Residence. Kolaborasi ini memperkuat transfer pengetahuan ekologis, budaya, dan praktis lintas generasi.
Dr. Daniel Christian Wahl menekankan bahwa “pendidikan transformatif” harus menumbuhkan sistem berpikir yang menyeluruh dan kemampuan untuk “hidup dalam ketidakpastian”,pendekatan krusial di era krisis ekologis. Model seperti ini menawarkan kebahagiaan melalui rasa komunitas dan partisipasi nyata dalam penjagaan lingkungan.
Pendekatan bioregional juga memiliki dimensi keadilan sosial yang menolak homogenisasi global dan menghargai cabang lokal dari ilmu, budaya dan sumber daya. Vandana Shiva, melalui karya tentang paten kolektif atas pohon neem, menunjukkan pentingnya menjaga kearifan lokal agar hasilnya tidak dieksploitasi oleh entitas global, tetapi diperkuat untuk kesejahteraan komunitas.
Sekolah energi terbarukan bioregional yang adil memperkuat tata kelola lokal, inklusivitas, dan kepemilikan atas sumber daya.
Bioregional Learning Centre (BLC) menjadi laboratorium hidup di mana generasi saling belajar melalui proyek regeneratif—seperti pengelolaan lahan, energi terbarukan, dan ekonomi solidaritas.
Pakar seperti John Thackara, Oscar Gussinyer, dan Joel Glanzberg, mengembangkan ekosistem pembelajaran bioregional yang berpijak pada desain regeneratif dan pemerintahan adaptif sesuai karakter wilayah.
Model ini tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga tindakan nyata untuk memulihkan komunitas dan lanskap demi menciptakan kebahagiaan melalui kontribusi positif pada lingkungan sekitar.
Secara keseluruhan, sekolah energi terbarukan berbasis bioregional mendefinisikan ulang pendidikan sebagai proses menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam—melalui kebijaksanaan lokal, inklusivitas, dan aksi regeneratif.
Pendidikan ini menumbuhkan karakter yang peduli, cakap, dan bahagia dalam arti kesejahteraan ekologis dan sosial serta menanamkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas. Filsafat ini dipandang sebagai solusi pendidikan yang memulihkan hubungan manusia alam dan mendukung masa depan yang adil, bahagia, dan berkelanjutan.
Dampak Nyata
Sekolah energi terbarukan dan BLC mampu membuka akses energi bersih di wilayah terpencil, terutama dengan teknologi seperti panel surya, mikrohidro, atau biogas.
Dampak pertama adalah peningkatan elektrifikasi desa, yang mendorong aktivitas ekonomi lokal (misalnya produksi malam hari atau usaha pendingin hasil tani).
Kedua, tercipta lapangan kerja hijau baru, teknisi, pelatih, dan wirausahawan lokal yang beroperasi di sektor energi terbarukan. Ketiga, ada pengurangan pengeluaran energi rumah tangga karena sumber daya lokal menggantikan BBM mahal.
Keempat, pendidikan bioregional menumbuhkan kesadaran ekologis mendalam, menjadikan siswa sebagai penjaga lanskap lokal.
Kelima, dampak konkret berupa proyek konservasi sumber daya alam, penanaman kembali pohon, restorasi sumber air, dan perlindungan biodiversitas.
Keenam, melalui pelibatan komunitas, terwujud ketahanan sosial berbasis solidaritas, kolaborasi dan gotong royong, masyarakat merasa memiliki dan merawat proyek-proyek energi secara kolektif.
Ketujuh, kurikulum berbasis bioregional dan energi terbarukan menghasilkan pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar teori global.
Kedelapan, pelajar memperoleh keterampilan hidup praktis, seperti merancang sistem PV surya, memetakan aliran energi lokal, dan menerapkan solusi energi dalam pertanian, air, atau transportasi. Kesembilan, lahirnya pemimpin lokal transformatif, yaitu individu yang mampu menghubungkan ilmu modern dan kearifan lokal untuk kepentingan kolektif.
Kesepuluh, kehadiran sekolah energi terbarukan mendorong tata kelola energi berbasis komunitas seperti koperasi energi desa. yang mengurangi ketergantungan pada skema top-down.
Kesebelas, pendekatan ini memperjuangkan keadilan energi, memastikan bahwa perempuan, kelompok adat, dan masyarakat marjinal ikut terlibat dan mendapat manfaat dari transisi energi.
Keduabelas, BLC berfungsi sebagai ruang kolaboratif lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, akademisi, LSM, dan warga dalam desain solusi lokal secara demokratis.
Secara keseluruhan, gabungan sekolah energi terbarukan dan Bioregional Learning Centre menciptakan ekosistem pembelajaran regeneratif yang menyatu dengan konteks lokal dan memberi makna hidup.
Dampaknya bukan hanya teknis, tapi juga menyentuh dimensi psikologis dan sosial, kebahagiaan muncul dari rasa relevansi, keterlibatan, dan kontribusi nyata.
Dalam dunia yang semakin terdampak krisis iklim dan ketimpangan, inisiatif semacam ini menawarkan harapan, arah, dan aksi nyata menuju masa depan yang adil dan lestari, sehat dan bahagia berkelanjutan.

