Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Thomas Lenas, Purnawirawan TNI yang Menemukan Harapan di Kolam Ikan
Feature

Thomas Lenas, Purnawirawan TNI yang Menemukan Harapan di Kolam Ikan

By Redaksi13 Agustus 20259 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Thomas Lenas (depan) sedang memberi makan ikan gabus di bak ikan miliknya (Foto: Ronis Natom/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oelamasi, VoxNTT.com – Sabtu pagi, 9 Agustus 2025, Thomas Lenas (61) duduk santai di kursi kayu depan rumahnya. Tangannya bertumpu di atas paha, kadang sesekali dilipat seperti tengah berdoa, menandai betapa seriusnya ia menyimak dan berbicara.

Di hadapannya, secangkir kopi mengepul pelan. Sambil menyeruput kopi buatan sendiri, Thomas mengajak berbincang wartawan VoxNtt.com, membuka kisah hidupnya yang bersahaja namun penuh makna.

Rumah Thomas berada di pinggiran kota, sederhana dan terbuka. Di bagian timur, terdapat tiga ruangan yang dibangun dari dinding tripleks dan beratapkan seng.

Di ujung kiri, ruangan berukuran sekitar 4×2 meter tampak seperti pusat aktivitas utama Thomas, sebuah mesin jahit berdiri tegak, dikelilingi tumpukan kain serta pakaian jadi dan setengah jadi.

Ruangan lainnya tak lagi difungsikan sebagaimana dahulu. Ukurannya serupa, namun kini hanya menyisakan jejak, bekas kandang ayam yang sudah lama tak digunakan.

Menurut Thomas, istrinya Wilhelmina Timo, beraktivitas menjahit di situ. Selain menjahit, Wilhelmina juga sering membantunya untuk memberi makan ikan, atau pun untuk membersihkan bak.

“Kalau tidak sibuk menjahit saya bantu untuk kasi makan ikan,” kata Wilhelmina sembari tersenyum.

Rumah milik Thomas berbentuk seperti rumah indekos. Di sisi kanan, terdapat tiga kamar yang dibangun secara permanen dan kini tampak kokoh serta tertata rapi.

Sejak pagi, Thomas sudah sibuk di dapur. Dibantu beberapa anaknya, ia merebus pisang hasil panen dari kebun sendiri, lengkap dengan sambal goreng sebagai pelengkap.

Secangkir kopi hitam pun telah disiapkannya untuk menyambut wartawan yang datang mewawancarainya.

Thomas merupakan ayah dari tujuh orang anak. Usia mereka beragam, ada yang masih duduk di bangku sekolah menengah, ada yang tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, bahkan satu di antaranya sudah menikah.

Ia menetap di RT 31, Kaniti, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah. Di bawah matahari yang perlahan bergerak dari timur ke barat di Pulau Timor, Thomas mulai membuka kisah hidupnya, dari awal memelihara ikan lele di dalam bak terpal, hingga kini memiliki belasan kolam permanen berbahan dasar semen.

Awal Mula

Memilih pensiun dini sebagai anggota TNI, pria asal Timor Tengah Selatan itu awalnya bekerja di Colol, Kabupaten Manggarai Timur.

Di sana, ia bekerja sebagai petani kopi, sebelum memilih untuk hijrah ke Kupang.

“Saya punya rumah ada di Colol, baru-baru ini saya ke sana untuk menjual rumah itu,” ujarnya.

Pada tahun 2021, Thomas diajak untuk melihat kolam ikan milik salah satu anggota TNI Angkatan Laut, di Penfui.

“Saya main-main ke Lanudal di kawan saya Pak Nasrul itu, pulang ke rumah saya sudah niat memang untuk mulai pelihara ikan,” katanya dengan penuh ekspresi keyakinan.

Thomas pun menunjukkan beberapa kolam ikan miliknya. Jumlahnya belasan. Ada yang berbentuk bulat, juga ada yang persegi.

Beberapa kolam berisi ikan yang padat. Kolam yang lain ikannya sisa sedikit. Menurutnya, sebagian besar sudah terjual.

Thomas bercerita baru-baru ini ada pelanggannya yang membeli sebanyak 100 Kg ikan lele. Meski belum dibayar, Thomas menyebut “itu bagian dari investasi karena sudah berlangganan sejak awal mula beternak ikan.”

Di sekitar kolam, terdapat tanaman pisang. Subur dan beberapa sudah berbuah.

Bentuk Kelompok

Sejak awal 2021, Thomas membentuk kelompok orang yang merupakan para tetangga dan kenalan. Mereka kemudian membuat izin usaha lalu mendaftar secara resmi di Kantor Desa Penfui Timur.

Sebagai pemula, tentu kendala paling utama adalah modal. Tapi, minim modal saja tidak cukup bikin semangat Thomas untuk ternak lele jadi kendor.

“Ada empat terpal. Satu terpal ukuran 2×4. Dalam satu terpal itu kami taruh sebanyak 1000 ekor ikan,” ujarnya.

Tak disangka, meski metode ternak lele yang diterapkan Thomas masih sederhana dan apa adanya, hal itu justru menarik perhatian salah satu pegawai lapangan dari Dinas Perikanan Kabupaten Kupang.

“Dalam perjalanan tenyata dari Dinas Perikanan Kabupaten Kupang kemudian datang. Pak Thomas lanjutkan kami datang hanya melihat, kami dukung,” kata Thomas meniru ucapan pegawai itu.

Dari Terpal ke Bak Permanen

Setelah ikan yang dipelihara dari bak terpal terjual, Thomas berinisiatif membangun bak permanen.

Sebanyak belasan bak permanen kemudian dibangun di sekitar rumah milik Thomas.

Awalnya cuma lima bak, dalam perjalanan, ternak ikan menjanjikan dari segi penghasilan.

Di sebelah kiri, terdapat sumur galian. Kedalaman sumur itu katanya, kurang lebih 30 meter. Ada pipa yang tersambung ke bak-bak ikan.

Menurut Thomas, semua air untuk keperluan bak diambil dari sumur sederhana itu. Dengan bantuan satu unit mesin pompa.

“Mulai tahun 2022 kami mulai tidak pakai terpal lagi. Kita sudah ada izin dari desa ini untuk masa depan jadi harus serius,” ujarnya.

Sejak saat itu, ikan-ikan milik Thomas mulai memiliki pelanggan tetap dan usaha ternaknya berkembang perlahan.

“Kami menjual ikan dengan harga Rp35.000 per kilogram, dan sebagian besar kami pasarkan ke salah satu perusahaan di Bakunase.”

Meski sudah punya pelanggan dan sudah dikenal luas, teknik ekonomi tentu harus ia pikirkan. Sebab, meksi keuntungan besar, Thomas juga harus merogoh gocek sendiri untuk membeli pakan.

“Kalau mereka yang datang timbang maka jualnya Rp32 ribu kalau kami yang antar harganya Rp35 ribu,” ujarnya.

Jenis Ikan Semakin Bervariasi

Awalnya, Thomas hanya memelihara ikan lele. Selain pemeliharaannya yang tidak terlalu sulit, ia juga menyadari bahwa ikan lele sangat diminati, terutama oleh pemilik usaha warung makan.

Namun, lama kelamaan, Thomas dan kelompoknya merasa bahwa hanya memelihara ikan lele saja tidak cukup.

Setelah berhasil mengembangkan ikan lele dan ikan nila, mereka memutuskan untuk menambah dengan belut, yang terdiri dari warna merah, putih, dan hitam.

Berjalannya waktu, Thomas mulai mencari informasi lebih lanjut di internet dan menemukan banyak tawaran bibit ikan lainnya. Dengan bantuan staf dari Dinas Perikanan Kabupaten Kupang, ia pun mulai memesan bibit ikan dari Jawa untuk memperluas usahanya.

“Dia pesan bibitnya, kami yang kasih makan,” jelas Thomas.

Memasuki tahun 2023, usaha ikan milik Thomas semakin berkembang. Bak ikan permanen semakin banyak, juga jenis ikan lain bertambah.

Kala itu, kata Thomas, ada seseorang dari rumah sakit yang mencari ikan gabus. Ia pun berusaha mencari bibit ikan gabus di sekitar tempat tinggalnya, namun tidak menemukannya.

Hingga suatu hari, saat berjalan-jalan ke Tarus, ia melihat ada penjual ikan gabus di pinggir jalan.

Tanpa ragu, ia membeli ikan-ikan tersebut dalam berbagai ukuran, kecil, sedang, hingga yang cukup besar untuk dijadikan indukan.

Sejak saat itu, pihak rumah sakit terus datang untuk mencari ikan gabus. Menurut mereka ikan gabus bisa dipakai untuk pengobatan pasien yang baru selesai mengalami luka jahitan.

Thomas Lenas memberikan makan bagi ikan pembibit dengan ukuran besar yang ditampung dalam bak berbentuk segi empat (Foto: Ronis Natom/ VoxNtt.com)

Masuk Kopdes Merah Putih

Thomas mengaku, usaha ternak ikan miliknya mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Penfui Timur.

“Setiap ikan kita harus pisahkan. Untuk bibit dan jual. Mulai itu saya jual ikan macam-macam apalagi desa sudah mulai mendukung. Kami masih kewalahan di makan,” keluhnya.

Pemdes Penfui Timur, menurut Thomas, qtidak hanya melirik ternak ikan miliknya, tetapi juga mengajaknya untuk menjadi pelatih bagi masyarakat yang ingin menjalankan usaha budi daya ikan.

“Sekarang saya sudah bisa ke mana-mana. Sudah bisa memberikan pelatihan bagi yang mau pelihara ikan,” ujarnya.

Istrinya Wilhelmina mendukung semua perjalanan kariernya. Saat Thomas menjalani pelatihan dan bahkan mengunjungi kelompok binaan, istrinya yang mengurus budi daya ikan di rumah.

Saat ini dengan usaha yang semakin berkembang, berbagai jenis ikan sudah ia pelihara, yakni ikan lele, gabus, patin, nila merah emas, nila hitam, belut merah,  putih dan hitam, mujair dan tawes.

“Air saya pakai sumur dan mobil tangki. Saya masih kekurangan air tapi saya usaha,” jelas Thomas.

Usai bergabung di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Penfui Timur, tawaran bibit untuk usaha ternak ikan milik Thomas dan kelompoknya mulai banyak.

“Sudah gabung di koperasi merah putih saya mau pesan 25.000 ekor. Kementerian ada bantu saya 5000 ekor,” bebernya.

Saat ini, Thomas memiliki kelompok binaan. Menurutnya, ada sekitar 12 kelompok di Kabupaten Kupang.

“Saya semua hasil dari ikan nanti drop ke Koperasi Merah Putih, saya hanya urus pelihara,” ujarnya.

Kepala Desa Penfui Timur, Zem Tafoki mengatakan, pihaknya akan mengalokasikan anggaran bagi sejumlah usaha di bidang pertanian, peternakan dan perikanan di desanya.

“Dana pemberdayaan tahun ini baru saya usulkan terkhusus peternak ikan. Tahun lalu masih khusus untuk ternak babi dan ayam. Saya juga pikir tentang anakan ikan dan penambahan bak. Saya juga berpikir soal tempat milik beliau untuk didesain supaya pengunjung bisa datang,” katanya.

Menurut Zem, di Penfui Timur terdapat potensi di bidang peternakan, perkebunan dan perikanan.

Terhadap ternak ikan milik kelompok Thomas, ke depan, KDMP Penfui Timur yang akan mengurus pemasarannya.

“Nanti desa ambil keuntungan sedikit saja. Ini kan bagian dari membantu para peternak di desa,” katanya.

Papan nama jenis-jenis ikan yang dipelihara oleh Thomas dan kelompoknya (Foto: Ronis Natom/ VoxNtt.com)

Pemkab Kupang Dukung Budi Daya Ikan, DPRD NTT Apresiasi

Budi daya ikan di Kabupaten Kupang terus dikembangkan melalui pembenihan dan pembesaran ikan oleh Dinas Perikanan setempat. Dukungan pemerintah daerah dilakukan melalui sosialisasi, pembinaan, dan bantuan sarana prasarana kepada para pembudidaya.

“Peran Pemkab yakni memberikan sosialisasi dan pembinaan. Juga memberikan bantuan sarana prasarana,” ujar Koordinator Penyuluh Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Kupang, Defretis G. Liunokas kepada VoxNtt.com, Selasa, 12 Agustus 2025 malam.

Menurut Defretis, pihaknya juga melakukan berbagai kegiatan seperti mengidentifikasi masalah yang dihadapi para pembudidaya, menentukan lokasi budidaya yang cocok, serta mendistribusikan bantuan dari pemerintah.

“Program Pemkab Kupang adalah sosialisasi kampung budidaya ikan, sosialisasi gemar makan ikan dan kami juga memberikan bantuan benih dan calon induk ikan,” katanya.

Ia menambahkan, Dinas Perikanan tidak memberikan bantuan dalam bentuk dana, tetapi melalui barang seperti benih dan pakan.

“Terkait pemasaran ikan juga tidak terlibat langsung, namun pemerintah mempersiapkan sarana seperti pasar dan program untuk mendukung penyerapan hasil budi daya ikan,” tukasnya.

Di sisi lain, perjuangan Thomas Lenas mendapatkan perhatian dari DPRD NTT. Anggota DPRD NTT, Winston Rondo mengapresiasi semangat dan kegigihan Thomas yang dianggap berhasil membangun usaha dari nol.

“Ini kisah yang menarik, menurut saya ini kisah from zero too hero,” katanya.

Winston mengatakan, sejak tahun 2021, Thomas memulai usaha budi daya ikan air tawar hanya berbekal terpal. Usahanya kemudian berkembang pesat dan mendapat dukungan dana dari pemerintah desa melalui Koperasi Merah Putih serta Kementerian.

“Kemudian dia berkembang dan memiliki sebanyak 12 kelompok pembinaan,” ujar Anggota DPRD Fraksi Partai Demokrat itu, Selasa, 12 Agustus 2025.

Winston menyatakan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Thomas. Sebagai wakil rakyat, ia ingin mendengar kisah inspiratif itu secara langsung.

“Apalagi ini ada di dapil saya, jadi ingin bertemu dan bertukar pikiran,” ujarnya.

Menurutnya, Thomas merupakan sosok luar biasa yang tetap produktif dan memberi manfaat bagi lingkungan, bahkan setelah memasuki masa pensiun.

“Menurut saya ini sosok teladan dan patut di contoh,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih perlu terus didorong agar memberikan dampak positif yang lebih luas, termasuk menghadirkan lebih banyak figur seperti Thomas.

“Ini harus didorong untuk mendapatkan bantuan, bukan hanya berupa anggaran juga untuk menjadikan dia sebagai pelatih bagi kelompok binaan lain,” ujarnya.

Winston juga menilai bahwa perjuangan Thomas memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga.

“Menurut saya Bapak Thomas membuktikan bagi kita siapapun kita jika ada kemauan yang kuat pasti bisa. Ini sosok lansia loh, 61 tahun tidak mau lipat tangan tapi masih mau bekerja dan membuat perubahan di lingkungannya,” imbuhnya.

Penulis: Ronis Natom

Desa Penfui Timur Kaniti Kecamatan Kupang Tengah Koperasi Merah Putih Purnawirawan TNI Thomas Lenas TNI
Previous ArticleMembangun Kepercayaan Guru dalam Deep Learning
Next Article Hak Jawab Pemberitaan Konflik Tambang di Nagekeo

Related Posts

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026

DPRD NTT Minta 9.000 PPPK Guru dan Nakes Tak Diberhentikan

5 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.