[sisipan untuk aksi Ibu Sherly Tjoanda di Momen HUT RI ke-80]
Oleh: Florentina Ina Wai
Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah STIPAR Ende
Di kedalaman laut Maluku, pada perayaan HUT RI ke-80, sebuah bendera merah putih berkibar dalam sunyi yang sakral. Bukan di atas panggung megah, bukan di tengah sorak sorai, tetapi di bawah permukaan air yang menyimpan luka dan harapan.
Di sanalah Ibu Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, memilih untuk menyatakan cintanya pada Indonesia dengan keberanian yang lahir dari kehilangan, dan ketabahan yang tumbuh dari luka.
Laut bagi Ibu Sherly Tjoanda bukan sekadar bentang biru yang menenangkan. Ia adalah ruang kenangan, tempat suaminya Benny Laos yang meninggal dunia akibat ledakan speedboat saat melakukan perjalanan kampanye di Pelabuhan Regional Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, Sabtu, 12 Oktober 2024.
Pasca kisah itu, laut memang telah menjadi cermin kesedihannya. Namun, tak disangka bahwa justru dari sanalah ia memilih untuk bangkit.
Ia menyelam bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk menghadapi kisahnya dengan penuh kekuatan.
Ia mengibarkan merah putih bukan hanya sebagai simbol negara, tetapi sebagai lambang jiwa yang tak menyerah.
“Dulu, laut adalah tempat saya menemukan ketenangan—tempat healing, tempat merasa bebas. Tapi laut juga menjadi saksi saat aku kehilangan separuh jiwa ku. Sejak itu, melihat laut bukan lagi menenangkan, tapi justru menyakitkan. Butuh waktu untuk kembali…” Demikian kata-kata Ibu Sherly. Bagi saya, ini merupakan sebuah resiliensi yang tak banyak ditempuh oleh siapapun yang pernah kehilangan orang-orang yang dikasihi.
Kisah ini bukan hanya tentang seorang pemimpin. Ini adalah tentang kita semua. Tentang bagaimana kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi bebas dari rasa takut, dari keraguan, dari alasan untuk berhenti melangkah.
Kemerdekaan adalah keberanian untuk mencintai hidup meski pernah kehilangan. Untuk tetap melangkah meski hati pernah retak.
Mengibarkan bendera di bawah laut adalah metafora yang agung. Laut adalah kekuatan Indonesia. Ia luas, dalam, dan penuh misteri. Di sanalah merah putih berkibar, dan hal itu memberi pesan indah.
Bahwa kita bukan hanya bangsa daratan, tetapi juga bangsa lautan. Bahwa generasi kita tidak lagi angkat senjata, tetapi angkat karya, angkat suara, dan angkat Indonesia lebih tinggi lagi.
Resilensi bukan hanya tentang bertahan. Ia adalah tentang tumbuh. Tentang menjadikan luka sebagai pelajaran, dan kehilangan sebagai kekuatan.
Ibu Sherly menunjukkan bahwa cinta tanah air bisa lahir dari tempat paling gelap, dan justru di sanalah ia bersinar paling terang.
Di momen HUT RI ke-80 ini, mari kita renungkan: Kemerdekaan bukan hanya milik sejarah, tapi milik jiwa. Bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang keberanian kita hari ini.
Untuk saling menguatkan, saling mengasihi, dan saling percaya bahwa kita bisa menghadapi apa pun selama kita melangkah bersama.***

