Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Lelaki yang Kehilangan Pundaknya
Sastra

Lelaki yang Kehilangan Pundaknya

By Redaksi18 Agustus 20252 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Yamrison Lagi, S.Pd

Profesi Guru

Lelaki yang Kehilangan Pundaknya

Rindu yang kini membara tentang seseorang yang ingin aku peluk
dan tersenyum lalu berkata, Aku sayang kamu
namun sayang semuanya hanya ilusi dalam benak
Aku kehilangan banhyak waktu
waktu bercerita tenyang hidupku yang sedikit bahagia

sejauh ini aku tumbuh tanpa pundak
pundak yang ingin aku sampaikan keluh ini
namun, terlali cepat semesta memanggilnya
sebelum aku merasakan genggamannya
Lelaki yang kini kehilangan pundaknya
diterpa rindu yang tak pernah terungkap

Ruang Persegi

Cahaya yang terpancar dari kaca ruangan itu
menyapa dengan senyum bagai pundak tak berteman
menyinari waja yang penuh riang dalam lamunan
senyum yang dulu indah terkikis panas cahaya itu
seolah menampar dalam lamunan
terlalu jauh langkah berjalan

segalah rasa, luka dan tawa aku abadikan dalam kata
kepedihan menumpuk bersembunyi dalam benak
mencari penuh makna, perlahan mengikis rasa
pelukang hangat sebatas penawar bagi pelipur lara.

Waktu yang Sia-sia

Buku di meja kini terlihat usang
Lembaran demu lembaran aku buka
Tak kulihat catatan tentang masa itu
masa di mana kita berpacu dalam semangat
namun kini semua hilang

Meja, kursi mulai memudar warna menjadi saksi bisu
kini hanya diam menunggu waktu berlalu
kau dan aku terjebak dalam kotak abu-abu yang tenang
terjebak dalam ketiadaan yang memaksa ada dalam lingkaran waktu yang sia-sia

Yamrison Lagi
Previous ArticleHikmah Peringatan Hari Konstitusi
Next Article Padma Indonesia Desak Polres Kupang Transparan Usut Tuntas Kematian Dokter Abraham Taufiq

Related Posts

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026

Seorang Laki-Laki di Dalam Sajak JokPin

29 Januari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.