Oleh: Yamrison Lagi, S.Pd
Profesi Guru
Lelaki yang Kehilangan Pundaknya
Rindu yang kini membara tentang seseorang yang ingin aku peluk
dan tersenyum lalu berkata, Aku sayang kamu
namun sayang semuanya hanya ilusi dalam benak
Aku kehilangan banhyak waktu
waktu bercerita tenyang hidupku yang sedikit bahagia
sejauh ini aku tumbuh tanpa pundak
pundak yang ingin aku sampaikan keluh ini
namun, terlali cepat semesta memanggilnya
sebelum aku merasakan genggamannya
Lelaki yang kini kehilangan pundaknya
diterpa rindu yang tak pernah terungkap
Ruang Persegi
Cahaya yang terpancar dari kaca ruangan itu
menyapa dengan senyum bagai pundak tak berteman
menyinari waja yang penuh riang dalam lamunan
senyum yang dulu indah terkikis panas cahaya itu
seolah menampar dalam lamunan
terlalu jauh langkah berjalan
segalah rasa, luka dan tawa aku abadikan dalam kata
kepedihan menumpuk bersembunyi dalam benak
mencari penuh makna, perlahan mengikis rasa
pelukang hangat sebatas penawar bagi pelipur lara.
Waktu yang Sia-sia
Buku di meja kini terlihat usang
Lembaran demu lembaran aku buka
Tak kulihat catatan tentang masa itu
masa di mana kita berpacu dalam semangat
namun kini semua hilang
Meja, kursi mulai memudar warna menjadi saksi bisu
kini hanya diam menunggu waktu berlalu
kau dan aku terjebak dalam kotak abu-abu yang tenang
terjebak dalam ketiadaan yang memaksa ada dalam lingkaran waktu yang sia-sia

