Ruteng, VoxNTT.com – Baru-baru ini Bupati Manggarai, Heribertus G. L Nabit sangat lantang berpidato tentang capaiannya dalam memberikan akses layanan dasar bagi masyarakat.
Menurutnya, akses masyarakat terhadap layanan dasar seperti air bersih terus menunjukan kemajuan karena cakupannya telah mencapai angka 86,08 persen.
Hal ini disampaikan Bupati Nabit dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia yang berlangsung di Natas Labar Motang Rua, pada Minggu, 17 Agustus 2025.
Ironisnya, pidato Bupati Nabit justru membawa luka di hati sebagian masyarakat Manggarai. Sebab saat ini akses terhadap layanan air bersih masih menjadi masalah serius yang dihadapi sebagian masyarakat.
Temuan media ini per Juli 2025, kesulitan mengakses air bersih dirasakan oleh warga Kampung Satarloleng dan Nua Rutung di Desa Paka, Kecamatan Satarmese.
Kesulitan mengakses air bersih tersebut dialami warga sepanjang lima tahun terakhir, sejak tahun 2019.
“Kami menjadi pelanggan PDAM sejak tahun 2019. Selama ini air PDAM ini tidak stabil dan lancar mengalirnya. Bahkan pernah air ini tidak jalan sampai lebih dari satu bulan,” ujar Hermina Stiman, ibu rumah tangga asal Kampung Satarloleng.
Untuk kebutuhan sehari-hari, ia dan dua anaknya menampung air hujan, menimba dari sungai, atau sekadar menumpang di keran tetangga kampung.
“Kalau airnya mengalir disyukuri, kalau pun tidak yah mau bilang apa. Saat ini saja misalnya mungkin sudah dua minggu terakhir ini air ini tidak jalan. Padahal sekarang ini sudah musim hujan,” sambungnya.

Yang membuatnya geram, air PDAM kadang hanya mengalir jika warga sendiri pergi membuka keran pengatur distribusi di kampung sebelah, Tado Nunang. Lebih parahnya, kontrol air ini seperti main rebutan antar-kampung.
“Warga yang rumahnya setelah saya menegur karena mengira bersikap seenaknya menutup akses air. Tapi bagi saya, mereka sudah diberi kesempatan selama dua jam. Hanya itu yang bisa saya lakukan agar air ini adil dan merata ke setiap rumah. Sebab kami semua sama-sama membutuhkan air,” tegasnya, menjelaskan taktiknya menutup akses agar air sampai ke rumahnya.
Suara warga lainnya, Benediktus Bajar, Ketua RT 06 di Nua Rutung, tak kalah lantang menyuarakan kekecewaannya.
“Untuk kami yang pelanggan ini merasa sangat tidak puas dengan air PDAM ini. Air ini macet terutama karena kelalaian petugas. Saya tidak sedang omong karang-karang atau berbohong,” katanya penuh tekanan.
Ia menuduh petugas lebih mengutamakan kampung dengan jumlah penduduk lebih banyak seperti Legu, sementara kampung mereka hanya diberi jatah dua jam, dan itu pun tidak pasti.
“Kadang dua jam saja kesempatan bagi kami lalu distop setelah itu. Kalau kurang debit air di sana, yah kami juga memaklumi. Tapi ini kan yang terjadi air meluap di pusat mata airnya, apa lagi selama musim hujan ini,” tambahnya.
Yang paling menyakitkan, kata Benediktus, meteran air di kampungnya tidak berfungsi, bahkan sudah dicabut, namun tagihan tetap datang setiap bulan. Bahkan ia menduga, tagihan yang dibayar berasal dari “tebak-tebakan” angka oleh pihak PDAM.
“Saya pernah tunjukan ke petugas yang datang ambil foto meteran. Saya tegaskan bahwa saya sengaja tidak pakai ini meteran karena air yang mengalir ini tidak bisa naik dan keluar dari keran kalau saya pakai meteran,” katanya.
Di kampung Satarloleng, cerita duka tentang air terus terulang. Belasius Lehot, tokoh adat setempat, menyebut petugas PDAM sering tidak konsisten dan lemah dalam pengawasan.
“Petugas biasanya buka keran lalu pulang. Setelah petugas pulang, warga di kampung sebelah yang dekat dengan bak itu datang ke situ dan menyetop aliran air ke sini,” tutur pria 66 tahun itu.
“Anehnya petugas selalu mengkonfirmasi bahwa air sudah dialirkan ke kampung kami, namun nyatanya tidak ada air yang mengalir ke sini.”
Ia menyoroti jauhnya lokasi bak penampungan dari kampung mereka. Jarak sekitar lima kilometer dan harus melewati sungai. Sementara petugas, kata dia, enggan menetap untuk menjaga pembagian air secara adil.
Afonsius Sudarsono, petani sekaligus pelanggan PDAM sejak lima tahun terakhir, mengaku sudah frustrasi dengan kondisi ini.
“Petugas sudah menjanjikan bahwa air ini akan jalan setiap hari Rabu dan hari Sabtu, artinya dua kali dalam satu minggu. Namun kenyataannya petugas sendiri yang tidak tepati janji,” ujarnya kecewa.
Selama air tidak mengalir, Afonsius harus membeli air galon atau menumpang di rumah tetangga. Bahkan ia sendiri dua kali pergi membuka keran distribusi secara diam-diam karena tak tahan melihat jeriken kosong di dapur.
“Kadang kami merasa seperti warga yang tidak memiliki air PAM,” katanya.
Penulis: Herry Mandela

