Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Guru Itu Operator Teknologi dan Pengawas Sistem Pelacak?
Gagasan

Guru Itu Operator Teknologi dan Pengawas Sistem Pelacak?

By Redaksi20 Agustus 202512 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cici AI)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Makna terdalam dari pertanyaan  tersebut adalah bahwa kepala sekolah dan guru bukan sekadar pelaksana teknis, melainkan pemelihara jiwa yang menuntun murid menemukan cahaya Ilahi dalam dirinya.

Mereka dipanggil untuk mendidik dengan cinta, kebijaksanaan, dan hormat terhadap martabat setiap murid sebagai citra Tuhan. Dalam peran suci ini, pendidikan  di rumah dan  sekolah menjadi jalan untuk memulihkan hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta.

Dalam era digitalisasi pendidikan, penerapan sistem manajemen terpadu berbasis teknologi memungkinkan sekolah dan kampus untuk memantau pergerakan siswa dan guru secara real-time.

Dengan menggunakan sensor IoT, kartu identitas RFID, atau sistem pelacakan berbasis GPS internal, sekolah dapat mengetahui secara akurat waktu kedatangan seseorang ke area sekolah, waktu masuk ke kelas, durasi berada di kantin, perpustakaan, bahkan waktu ke kamar mandi.

Data ini diolah secara otomatis dalam dashboard digital yang memberikan informasi lengkap tentang aktivitas harian setiap individu di lingkungan pendidikan, yang berpotensi besar dalam mendukung pengelolaan waktu, disiplin, dan keamanan.

Namun, dari perspektif love as pedagogy, yang diangkat oleh pendidik dan filsuf seperti Paulo Freire, pendekatan ini perlu ditinjau lebih dalam. Freire dalam Pedagogy of the Heart (1997) menekankan bahwa cinta dalam pendidikan bukan sekadar kasih sayang, tetapi pengakuan atas martabat dan kebebasan murid.

Maka, sistem pelacakan memberikan efisiensi, ia harus diimbangi dengan penghormatan terhadap otonomi siswa. Jika tidak, sistem tersebut justru dapat menjadi instrumen kontrol yang mengabaikan relasi dialogis dan kemanusiaan yang menjadi dasar pedagogi cinta. Penggunaan teknologi ini harus dilandasi dengan transparansi, persetujuan, dan kepercayaan, bukan sekadar pengawasan.

Dari sudut neurosains dan psikologi positif, teknologi ini memiliki potensi membantu guru memahami pola belajar dan perilaku siswa secara lebih obyektif.

Barbara Fredrickson, dalam teorinya Broaden-and-Build, menunjukkan bahwa emosi positif memperluas cara berpikir dan membangun sumber daya psikologis.

Data pelacakan bisa mendeteksi jika seorang siswa sering keluar kelas atau terlalu lama di perpustakaan, yang bisa menjadi indikator gangguan emosional atau kebutuhan akan dukungan tertentu. Bila dikelola dengan empati, data ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan responsif terhadap kondisi psikologis siswa.

Secara psikologi positif, seperti dikembangkan oleh Martin Seligman, keberadaan sistem ini bisa diarahkan untuk mengembangkan kekuatan karakter seperti tanggung jawab, kedisiplinan, dan kejujuran. Alih-alih menjadi alat kontrol semata, sistem ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana refleksi diri.

Jika siswa dapat mengakses data aktivitasnya, mereka dapat belajar mengelola waktu dan mengenali pola perilaku yang menghambat atau mendukung keberhasilan akademik dan kesejahteraan mereka. Ini mengarahkan pendidikan ke arah yang lebih otonom dan berorientasi pada pertumbuhan pribadi.

Dari sudut filsafat humanis, yang didukung oleh tokoh seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow, pendidikan seharusnya memfasilitasi aktualisasi diri. Rogers dalam Freedom to Learn menekankan pentingnya lingkungan belajar yang aman, mendukung, dan menghargai pilihan individu.

Maka, penggunaan teknologi pelacak harus ditanamkan dalam kerangka menghormati keunikan dan kehendak bebas setiap peserta didik. Sistem ini harus menjadi alat pemberdayaan, bukan represi.

Jika digunakan dengan kesadaran etis, teknologi ini bisa menjadi jembatan antara kemajuan digital dan kemanusiaan dalam pendidikan.

Dehumanisasi Pendidikan

Dalam era digital dan otomatisasi, muncul kekhawatiran bahwa peran vital orang tua dan guru bisa tergeser oleh sistem manajemen terpadu berbasis teknologi. Sistem seperti ini biasanya mencakup pemantauan kehadiran, perilaku, emosi, hingga aktivitas belajar siswa secara real-time dengan bantuan AI, sensor, dan big data.

Di satu sisi, sistem ini menawarkan efisiensi dan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Namun, jika tidak diawasi secara etis dan manusiawi, ada risiko dehumanisasi pendidikan di mana anak hanya menjadi objek data, bukan subjek yang tumbuh secara utuh.

Maka, penting mempertanyakan: di manakah posisi guru dan orang tua dalam ekosistem pendidikan yang makin canggih ini?

Peran guru tidak boleh hanya direduksi menjadi operator teknologi atau pengawas sistem. Guru adalah pendamping jiwa, pembimbing nilai, dan fasilitator pertumbuhan.

Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, menegaskan bahwa pendidikan adalah proses dialogis antara manusia.
Jika semua diputuskan oleh sistem terpadu siapa yang layak mendapat perhatian, siapa yang harus mendapat intervensi maka relasi manusiawi antara guru dan murid menjadi dingin, teknokratis, dan kehilangan makna spiritual.

Guru tidak hanya mentransfer informasi, tetapi menanamkan harapan, cinta, dan kepercayaan, hal-hal yang tak bisa dikalkulasi oleh algoritma.

Demikian juga dengan orang tua. Ketika sistem manajemen sekolah memberi laporan rinci setiap menit tentang perilaku anak, orang tua bisa tergoda untuk menyerahkan tanggung jawab pengasuhan kepada mesin.

Padahal, pendidikan anak tidak hanya soal pemantauan, tapi juga interaksi penuh kasih, keteladanan moral, dan pendampingan spiritual.

Jesper Juul, dalam bukunya Your Competent Child, menekankan bahwa hubungan yang sehat antara orang tua dan anak dibangun melalui kepercayaan dan penghormatan, bukan pengawasan total. Maka, teknologi harus memperkuat relasi ini, bukan menggantikannya.

Konsep sekolah yang memuliakan martabat manusia adalah sekolah yang menempatkan setiap peserta didik sebagai pribadi utuh, bukan sekadar pengguna sistem. Dalam pandangan Carl Rogers dalam Freedom to Learn, sekolah yang humanistik adalah tempat di mana anak merasa diterima tanpa syarat, aman untuk tumbuh, dan bebas untuk mengembangkan dirinya secara otentik.

Di sekolah seperti ini, teknologi hadir sebagai alat bantu, bukan sebagai pusat kekuasaan. Fokusnya bukan pada kontrol, melainkan pada pemberdayaan. Anak tidak dicetak menjadi produk pasar, melainkan diperlakukan sebagai manusia yang layak dihargai karena keberadaannya.

Sekolah yang memuliakan martabat manusia juga memberikan ruang bagi nilai-nilai spiritual, moral, dan refleksi batin, sebagaimana ditegaskan oleh Thomas Lickona dalam Educating for Character. Pendidikan moral dan karakter bukan bisa ditanam melalui chips atau grafik perilaku, tetapi melalui keteladanan, komunitas yang saling peduli, dan pembiasaan nilai-nilai.

Maka, sistem teknologi harus dirancang untuk mendukung pembentukan karakter ini misalnya melalui pelacakan kebiasaan baik, bukan hanya kesalahan; atau memberi ruang bagi siswa untuk merefleksi data mereka sendiri secara kritis dan sadar.

Teknologi dalam pendidikan memang tidak bisa dihindari, tetapi harus dikendalikan oleh nilai-nilai kemanusiaan. Neil Selwyn, dalam bukunya Should Robots Replace Teachers?, menyatakan bahwa teknologi pendidikan bukan soal apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi soal bagaimana kita ingin membentuk masa depan pendidikan itu sendiri.

Jika peran guru dan orangtua tergeser, maka generasi yang tumbuh adalah generasi yang kehilangan sentuhan manusia yang bisa memahami data, tetapi tidak memahami makna. Maka, transformasi digital dalam pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya.

Teknologi dan sistem manajemen terpadu hanya akan bermakna jika digunakan untuk memperkuat relasi manusia, bukan mengendalikannya. Orangtua dan guru tetap menjadi pelaku utama pendidikan karena merekalah yang mampu menyentuh hati anak-anak.

Sekolah yang memuliakan martabat manusia adalah sekolah yang tidak sekadar mencetak prestasi, tetapi membangun jiwa. Dalam dunia yang makin otomatis, justru peran kemanusiaan menjadi semakin penting sebagai penyeimbang, pelindung, dan penuntun bagi anak-anak yang sedang tumbuh, tidak hanya menjadi cerdas, tapi juga menjadi manusia seutuhnya.

Memuliakan Martabat Manusia

Sekolah sejatinya adalah proses dialog yang memuliakan martabat manusia, bukan sekadar tempat mentransfer informasi atau mengawasi perilaku dengan teknologi canggih seperti chips otomatisasi.

Pendidikan yang bermakna dibangun melalui hubungan manusiawi yang autentik antara guru dan siswa, antara siswa dengan dirinya sendiri, dan dengan dunia di sekitarnya.

Dalam perspektif ini, Paulo Freire melalui bukunya Pedagogy of the Oppressed menyatakan bahwa pendidikan harus bersifat dialogis, di mana murid bukan objek yang dibentuk, melainkan subjek yang diajak berpikir, merasa, dan bertumbuh. Maka, jika teknologi digunakan untuk menggantikan ruang dialog ini, pendidikan kehilangan ruhnya.

Proses dialog itu menjadi ruang subur bagi berkembangnya deep learning, pembelajaran mendalam yang tidak hanya menghafal fakta, tetapi memahami makna, mengaitkan konsep, dan merefleksikan nilai.

John Hattie, dalam bukunya Visible Learning, menunjukkan bahwa pembelajaran yang mendalam tidak terjadi melalui pengawasan ketat, tetapi melalui relasi yang memberi umpan balik berkualitas, keterlibatan aktif siswa, dan refleksi terus-menerus.

Deep learning membutuhkan guru sebagai fasilitator makna, bukan operator sistem pelacak. Chips otomatis hanya bisa mencatat tindakan, tapi tidak bisa menangkap proses berpikir dan kesadaran moral siswa.

Dalam ekosistem dialogis itu pula, tumbuh growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang melalui usaha, belajar dari kesalahan, dan pantang menyerah.

Konsep ini dipopulerkan oleh Carol Dweck dalam Mindset: The New Psychology of Success. Growth mindset tidak dibentuk melalui sistem yang menghukum kesalahan secara otomatis, tetapi melalui bimbingan yang memberi ruang untuk gagal, mencoba lagi, dan tumbuh.

Sekolah yang terlalu dikontrol oleh chips bisa membuat anak takut salah, tergantung pada sistem luar, dan kehilangan semangat eksplorasi. Padahal, kegigihan dan ketahanan adalah hasil dari proses interaksi manusia yang penuh empati.

Lebih jauh, pendidikan yang dialogis mendorong terbentuknya habits of mind—kebiasaan berpikir dan bersikap yang mendukung pemecahan masalah secara etis, kreatif, dan bertanggung jawab. Konsep ini dikembangkan oleh Arthur Costa dan Bena Kallick dalam Habits of Mind: A Developmental Series.

Habits ini seperti: berpikir fleksibel, mendengarkan dengan empati, mengambil perspektif lain, dan terus bertanya. Kebiasaan ini tidak bisa dibentuk oleh teknologi otomatis, karena tumbuh dari pengalaman reflektif, pembiasaan sehari-hari, dan teladan dari guru serta komunitas belajar.

Sekolah yang memuliakan martabat manusia menempatkan anak sebagai subjek yang unik, utuh, dan berharga. Ini sesuai dengan pandangan Carl Rogers dalam Freedom to Learn, bahwa pembelajaran yang sejati hanya bisa terjadi jika anak merasa aman, dihargai, dan bebas mengekspresikan dirinya.

Kontrol berlebihan melalui sistem otomatisasi justru mengurangi rasa percaya diri dan otonomi anak. Maka, teknologi harus tetap berada di bawah nilai-nilai pedagogis, bukan menggantikan prinsip dasar pendidikan sebagai proses kemanusiaan.

Penting untuk dipahami bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Jika digunakan secara sadar, ia bisa mendukung pembelajaran. Namun, bila dijadikan pusat sistem pendidikan, maka akan menggeser nilai-nilai dasar seperti empati, kepercayaan, dan penghargaan terhadap proses belajar sebagai perjalanan manusiawi.

Gert Biesta, dalam bukunya The Beautiful Risk of Education, menyatakan bahwa pendidikan itu mengandung risiko yang indah: kita tidak bisa memprediksi sepenuhnya bagaimana anak akan tumbuh. Justru dalam ketidakpastian itulah, guru dan murid saling bertemu dalam proses pencarian makna.

Sekolah bukanlah pabrik data atau tempat eksperimen otomatisasi, tetapi rumah bagi jiwa-jiwa muda yang sedang bertumbuh. Melalui dialog, deep learning, growth mindset, dan habits of mind, sekolah memuliakan martabat manusia—dengan atau tanpa teknologi.

Sistem terbaik bukanlah yang paling canggih, tetapi yang paling manusiawi. Maka, mari membangun sekolah yang mendengarkan, memahami, dan memanusiakan, bukan hanya mencatat dan mengontrol.

Prinsip Prinsip Utama

Prinsip-prinsip utama dari chips otomatisasi untuk mengontrol tumbuh kembang pribadi anak secara sosial, emosional, moral, dan spiritual harus dibangun di atas fondasi etika, teknologi yang bertanggung jawab, serta pemahaman mendalam tentang perkembangan manusia secara holistik.

Teknologi seperti smart chips, wearable sensors, atau sistem AI-based behavioral tracking saat ini memang mulai diterapkan dalam konteks pendidikan dan pengasuhan anak.

Namun, penggunaannya dalam ranah pribadi anak khususnya perkembangan sosial, emosional, moral, dan spiritual harus sangat hati-hati, karena menyentuh inti dari kemanusiaan itu sendiri.

Prinsip-prinsip berikut dapat menjadi panduan dasar dalam mendesain dan menerapkan teknologi otomatisasi yang bersifat mendalam ini.

Prinsip pertama adalah humanisme digital: teknologi harus memperkuat, bukan menggantikan, nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism, teknologi yang merambah wilayah privat harus dibatasi oleh prinsip hak asasi dan privasi. Artinya, chips otomatisasi tidak boleh menjadi alat pengawasan yang represif, tetapi justru digunakan untuk membantu anak mengenali diri, mengelola emosi, dan membangun relasi sosial secara sehat.

Data yang diperoleh pun harus digunakan bukan untuk menghukum, melainkan untuk memfasilitasi pembelajaran dan pertumbuhan.

Prinsip kedua adalah perkembangan holistik, sebagaimana diajarkan oleh Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence. Sistem otomatisasi harus mampu mengidentifikasi pola emosi anak, seperti stres, kegembiraan, atau ketakutan, melalui parameter biometrik dan perilaku.

Dengan memahami ini, guru atau orangtua dapat memberikan respons yang lebih tepat dan penuh cinta kasih. Tetapi penting dicatat, bahwa mesin hanya mendeteksi sinyal, interpretasi dan intervensi tetap harus dilakukan oleh manusia dengan empati.

Ini menegaskan bahwa peran manusia seperti orang tua, guru dan kepala sekolah tidak boleh digantikan sepenuhnya oleh mesin pintar dalam pembinaan emosional.

Prinsip ketiga adalah etika moral dan spiritual, merujuk pada pemikiran Thomas Lickona dalam Educating for Character. Chips otomatisasi harus mampu menangkap dinamika nilai dan perilaku anak dalam konteks sosial, seperti kejujuran, tanggung jawab, atau kerja sama. Teknologi ini bisa mendeteksi pola tindakan yang menunjukkan kecenderungan positif atau negatif.

Namun, pembentukan moral dan spiritual tetap membutuhkan proses refleksi, dialog, dan keteladanan yang hanya bisa dilakukan melalui interaksi antarmanusia. Di sinilah spiritualitas masuk: nilai-nilai kebaikan, kebenaran, keindahan, keheningan, makna hidup, dan relasi dengan yang transenden tak bisa direduksi oleh algoritma.

Prinsip keempat adalah personalisasi dan konteks budaya, sebagaimana dibahas oleh Howard Gardner dalam Truth, Beauty, and Goodness Reframed. Setiap anak unik, dan penggunaan chips otomatisasi harus menyesuaikan konteks budaya, agama, dan lingkungan sosial masing-masing.

Apa yang dianggap sebagai perilaku “baik” di satu budaya belum tentu sama di budaya lain. Oleh karena itu, sistem otomatisasi harus fleksibel dan dapat disesuaikan, bukan kaku dan bersifat satu ukuran untuk semua (one-size-fits-all). Teknologi harus menyesuaikan anak, bukan anak yang harus menyesuaikan teknologi.

Prinsip kelima adalah pembelajaran reflektif dan partisipatif. Anak-anak harus dilibatkan dalam memahami data tentang diri mereka sendiri. Ini mendukung prinsip agency atau keberdayaan anak, sebagaimana disampaikan oleh Lev Vygotsky dalam teori sociocultural development.

Anak dapat diajak berdiskusi tentang hasil deteksi emosi atau perilaku mereka, lalu diajak merefleksi dan merancang perubahan positif. Dengan demikian, teknologi bukan alat kontrol satu arah, tetapi media untuk membangun kesadaran diri (self-awareness) dan pertumbuhan pribadi secara mandiri.
Prinsip keenam adalah keterbukaan dan transparansi sistem.

Orang ltua, pendidik, dan anak berhak mengetahui bagaimana chips bekerja, data apa yang dikumpulkan, dan untuk apa data tersebut digunakan.

Dalam The Transparent Society, David Brin menekankan bahwa kepercayaan hanya bisa dibangun bila ada keterbukaan informasi. Dalam konteks anak, ini menjadi krusial karena menyangkut kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak. Sistem harus memiliki fitur kontrol privasi, persetujuan, dan etika penggunaan yang ketat.

Prinsip ketujuh adalah cinta sebagai fondasi relasi manusia dan teknologi. Seperti dikatakan oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the Heart, tanpa cinta, pendidikan hanyalah transmisi data kosong.

Demikian pula teknologi: tanpa dilandasi cinta dan kepedulian terhadap martabat manusia, maka chips otomatisasi bisa menjadi alat dehumanisasi.

Maka dalam konteks pengasuhan dan pendidikan anak di sekolah, teknologi harus hadir sebagai sahabat pertumbuhan, bukan penguasa. Ia harus memfasilitasi keutuhan pribadi anak secara sosial, emosional, moral, dan spiritual bukan hanya sebagai alat pelacak, melainkan sebagai pemicu kesadaran dan cinta akan diri dan sesama dan alam sekitar dan sang Pencipta.

Sekolah itu Memuliakan Allah dengan Memulihkan Martabat manusia dan semesta ciptaan demi kesehatan dan kebahgiaan berkelanjutan.

Pater Vinsensius Darmin Mbula Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticleJelang HUT ke-27, DPD PAN Manggarai Beri Bantuan Pangan untuk Yayasan St Damian Cancar
Next Article Andalkan Air Kali, Warga Wodopumbu Minta Akses Air Bersih saat Reses DPRD

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.