Kupang, VoxNTT.com – Peti-peti jenazah yang sering berdatangan di Kargo Bandara El Tari, Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur menyimpan banyak kisah. Dari balik plastik pembungkus jenazah Tenaga Kerja Indonesia yang meninggal di luar negeri dan derai tangis keluarga, ada satu sosok yang setia menyambut mereka, yakni Suster Laurentina Suharsih, biarawati dari Kongregasi Suster-Suster Penyelenggara Ilahi.
Berbalut panggilan dan pelayanan, Suster Laurentina selalu datang satu jam lebih awal. Tak sekadar menemani keluarga, tetapi memberi kekuatan dan doa bagi jenazah yang dipulangkan dari negeri rantau.
Pelayanannya yang penuh dedikasi di Kargo Bandara El Tari Kupang, ternyata berakar dari kisah panjang dan perjuangan masa remaja, dimulai dari sebuah keluarga muslim di Temanggung, Jawa Tengah.
Suster Laurentina lahir di Temanggung pada 23 Agustus 1970 dari keluarga muslim. Ibunya seorang muslimah taat, sedangkan sang ayah memeluk kepercayaan lokal.
“Tapi keluarga saya beragam. Ada kakak ipar saya Katolik, ada juga kakak saya agama Budha dan juga Kristen Protestan,” kenangnya, Kamis 21 Agustus 2025.

Ketertarikan pada Gereja Katolik
Ketertarikannya pada iman Katolik mulai tumbuh saat ia bersekolah di SDK Kanisius Temanggung.
Ia mengaku pernah berkeinginan menjadi penganut agama Katolik karena sekolah di SDK Kanisius Temanggung.
“Di situ saya mulai tertarik untuk menjadi Katolik,” kata Suster Laurentina.
Mimpi itu terwujud ketika ia duduk di bangku SMP kelas dua. Saat itu, ia dipermandikan secara Katolik.
Setelah itu langsung menerima sakramen krisma dan aktif di Mudika atau Orang Muda Katolik (OMK)
“Juga misdinar, pokoknya aktif di semua kegiatan agama Katolik,” cerita alumni APS Kupang itu.
Ia semakin mantap dengan panggilannya setelah mengenal bacaan-bacaan rohani.
Salah satu yang sering dibaca Suster Laurentina adalah Majalah Hidup. Di majalah milik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) itu ada kisah Santo dan Santa Katolik.
Ia juga sering mengunjungi Biara Ordo Trappist di Temanggung.
“Saya pergi ke satu biara di Temanggung, biara susteran. Saya menjadi tertarik ketika ada satu Romo yang sudah tua dan meninggal lalu saya tanya siapa nanti yang akan menggantikan dia. Di situ titik awal panggilan saya.”
Mengejar Restu Ayah
Namun, keinginan untuk masuk biara tak serta-merta disetujui oleh keluarganya, terutama sang ayah.
“Saya mau masuk biara itu yang butuh usaha, sekitar 10 kali saya berusaha untuk minta izin,” kenangnya.
Karena belum diizinkan, ia sempat bekerja di toko dan kemudian mencoba kuliah di Semarang, meski akhirnya hanya bertahan satu semester.
“Saya kuliah ikut teman saja, kemudian saya putuskan untuk keluar ikut kursus perawat di RS Elisabeth. Setelah kursus saya kerja di Panti Jompo di Cimahi Jawa Barat.”
Selama menjalani pekerjaannya, Suster Laurentina tetap setia menjaga panggilan hidupnya, meskipun sempat mempertimbangkan kemungkinan untuk membina keluarga.
Ia bahkan sempat menetapkan sebuah batas waktu pribadi: jika pada usia 25 tahun belum juga masuk biara, maka ia akan memilih jalan berkeluarga.
Namun, di tengah pergumulan itu, kegelisahan batin justru menguatkan kembali panggilannya.
Ketika niat untuk membentuk keluarga mulai menguat, muncul keraguan yang mengganggu pikirannya.
Dalam proses pencarian itu, ia mendapatkan penguatan bahwa jika memang merasa terpanggil untuk hidup membiara, ia harus siap menghadapi segala risiko yang menyertainya.
Panggilan Ditahbiskan, Misi Dimulai
Setelah dua tahun di biara, sang ayah akhirnya memberi restu lewat telepon.
“Ayah mengatakan akan mengikuti pilihan hati saya dan mengingatkan untuk setia serta bertanggung jawab,” kisahnya.
Tahun 2002, usai Kaul Pertama, ia ditugaskan ke Kalimantan Tengah, lalu Semarang, dan akhirnya ke Kupang pada Juli 2004.
Meski awalnya sempat ragu bisa bertahan karena kondisi geografis, ia memutuskan untuk membuka diri dan kuliah di APS Kupang.
“Tujuan saya waktu itu untuk mengenal orang-orang di sini. Setelah itu saya persiapan Kaul kekal Tahun 2010,” cerita
Suster Laurentina.

Terjun Tangani Perdagangan Orang
Tahun 2011, ia ditugaskan ke Maubesi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Di sanalah ia pertama kali bersentuhan dengan kasus perdagangan orang atau human trafficking.
“Waktu itu di Maubesi ada korban TKI dari Malaysia yang dianiaya. Saya menjadi mediator untuk korban dan keluarga,” ungkap
Suster Laurentina.
Tahun 2014, ia melanjutkan studi di Jakarta, mengambil Sarjana di STISIP Widuri.
Di sela perkuliahan, Suster Laurentina aktif dalam organisasi kemanusiaan, termasuk Jaringan Peduli Migran dan Relawan Sahabat Insan.
Lalu, tahun 2015 ia pernah diminta untuk mengawal pemulangan sebanyak 120 anak perempuan korban perdagangan orang melalui kapal laut dari Jakarta ke NTT.
Setelah lulus dan kembali ke Semarang, Suster Laurentina ditunjuk menangani isu perdagangan orang secara nasional oleh Suster Provinsial. Ia kemudian memilih kembali ke Kupang.
“Menurut saya persoalan yang banyak terkait dengan karya human trafficking itu ada sebanyak di Timor,” kata Suster Laurentina.
Sejak 2017, ia aktif membangun jaringan dan pelayanan, termasuk di Kargo Bandara El Tari Kupang.
“Saya biasanya dapat data duluan. Saya hanya seorang diri menyambut jenazah TKI, tapi kini beberapa jaringan kemanusiaan pun mulai terbentuk.”

Kisah Jenazah di Balik Kargo
Salah satunya adalah jenazah Nursamsia Muhamad, yang meninggal di Imigrasi Malaysia pada 28 Agustus 2024.
Butuh waktu lima hari hingga jenazahnya bisa dipulangkan ke Kupang, dibantu banyak pihak termasuk Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan jaringan kemanusiaan.
“Almarhumah Nursamsia sudah 17 tahun di Malaysia. Pulang ke Kupang selama tiga kali. Dia meninggal Senin 28 Agustus 2024 di Kantor Imigrasi Malaysia,” kata sang kakak, Ali Moke.
Jenazah Nursamsia tiba di Kargo El Tari pada 4 September 2024, bersama dua jenazah TKI lainnya dari Adonara dan Malaka.
Data Mencemaskan
Kepala BP3MI NTT, Suratmi Hamida mengungkapkan data mengejutkan terkait jumlah jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTT yang dipulangkan ke daerah tersebut.
“Jumlah jenazah PMI dari Januari hingga 11 Agustus 2025 mencapai 89 orang. Ditambah satu jenazah dari Malaka, totalnya menjadi 90,” ujar Suratmi kepada VoxNtt.com, Jumat, 22 Agustus 2025.
Data tersebut melanjutkan tren memprihatinkan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan catatan BP3MI NTT, jumlah jenazah PMI yang dipulangkan ke NTT tercatat sebanyak: 99 jenazah pada tahun 2022, 153 jenazah pada tahun 2023, 141 jenazah pada tahun 2024, dan 90 jenazah hingga Agustus 2025
Suratmi juga menyampaikan apresiasinya terhadap peran gereja dan para biarawati yang turut membantu proses pemulangan dan pemakaman jenazah PMI.
“Kami sangat terbantu dengan peran gereja, karena mayoritas PMI kita beragama Katolik dan Protestan,” katanya, sembari menyebut nama salah satu suster yang aktif membantu, yakni Suster Laurentina.
Terpisah, Ketua Dewan Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia, Gabriel Goa menyebut NTT sudah dalam kondisi darurat perdagangan orang.
“Faktanya hingga hari ini belum ada sense of emergency human trafficking oleh dinas dan pihak terkait baik di Provinsi NTT maupun 22 Kabupaten/Kota,” katanya.
Ia mengusulkan lima langkah konkret, pertama, membentuk Gugus Tugas Pencegahan TPPO. Kedua, membuka Migrant Center di beberapa wilayah strategis. Ketiga, meningkatkan pelatihan dan perlindungan korban. Keempat, penegakan hukum menyasar aktor intelektual Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Kelima, membangun rumah aman bagi korban
“Mari kantong bangun dan majukan NTT Go International sekarang, jangan tunda esok!” tegas Gabriel.
Penulis: Ronis Natom

