Ruteng, VoxNTT.com – Wilayah Kabupaten Manggarai dan sekitarnya masih mengalami musim kemarau per 6 September 2025.
Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa penyebab kemarau terjadi karena suhu muka laut masih berkisar 26 C – 29 C, memungkinkan terjadinya penguapan.
Kepala Stasiun Metereologi Frans Lega Ruteng, Decky Irmawan dalam keterangannya menjelaskan, kendati pada umumnya cuaca di Manggarai cerah berawan pihaknya tetap memberi peringatan dini kepada masyarakat agar waspada terhadap kebakaran, khususnya kebakaran hutan dan lahan.
“Waspada kebakaran yang tidak menutup kemungkinan bisa terjadi di semua wilayah kecamatan,” ujar Decky, Minggu, 7 September 2025.
Karena itu pihaknya mengimbau masyarakat agar mengantisipasi dampak yang dapat ditimbulkan oleh kondisi cuaca sebagaimana dinyatakan dalam informasi peringatan dini.
Ia juga menerangkan, suhu udara berkisar 13.1°C — 26.2°C dengan kelembapan udara antara 39 persen — 91 % . Angin umumnya bertiup dari Timur — Selatan dengan kecepatan 0 — 11.
Massa udara basah terkonsentrasi lapisan ketinggian hingga 850 mb (1516 m).
BMKG memberikan peringatan dini agar warga waspada tinggi gelombang laut yang dapat mencapai 2.5 meter di Laut Sawu bagian utara.
“Memanfaatkan informasi cuaca untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian dalam pengurangan terhadap risiko bencana kekeringan,” ungkap Decky.
Warga Kecamatan Reok, Hilarius mengaku tidak cemas dengan prediksi BMKG itu, karena menurutnya peringatan tentang potensi kebakaran lebih berpeluang terjadi di hutan pegunungan.
Meski demikian ia mengaku tetap waspda terhadap prediksi itu.
“Kalau untuk Reok dalam kota kami mungkin tidak cemas dengan potensi kebakaran, awas yang hutan bagian pegunungan bisa-bisa terbakar kalau terlalu lama panas,” tutur Hilarius.
Di satu sisi Hilarius masih berpikir dengan tanaman padinya yang sudah lama dilanda kekeringan tanpa air.
Ia berharap hujan secepatnya turun untuk musim tanam berikut.
Selama ini Hilarius mengaku pada musim tanam kedua lahan sawahnya masih berharap pada air sungai yang mengalir melalui drainase, sementara air hujan sama sekali nihil.
“Kami berharap air sungai dari drainase, sambungnya pakai pipa besar menggunakan mesin. Meski tidak cukup stabil tetapi kami coba bertahan dengan kondisi ini,” ujar Hilarius berbicara dengan VoxNtt.com pada 7 September dini hari.
Penulis: Berto Davids

