Oleh: Ican Sarviano
Tinggal di Seminari Tinggi Ritapiret
“Mungkin penghulu setan telah merasuki lelaki itu sehingga ia memilih untuk masuk seminari dan menjadi pastor. Tidak puaskah ia dengan penghasilan berlimpah ketika ia masih menjadi seorang lawyer terkenal?”
Kata-kata dan pertanyaan seperti inilah yang sering kali diterima Margio ketika ia pulang kampung dan berjumpa dengan keluarganya. Namun, Margio tidak sedikit pun menggubris segala hal yang dituduhkan kepadanya itu. Baginya hidup adalah semata milik Tuhan dan kepada Tuhanlah segalanya diserahkan.
Margio pernah menamatkan pendidikan jenjang strata satu ilmu hukum di salah satu universitas ternama di ibu kota negara. Setelah menamatkan pendidikan tersebut ia pun bekerja di salah satu firma hukum yang terkenal.
Kariernya terbilang sukses sebab ada banyak perkara yang ditangani Margio dan berhasil dimenangkan. Ia selalu menjadi dambaan hati banyak klien. Namun, entah alasan apa yang terjadi dalam diri Margio sampai-sampai ia akhirnya membelokkan pilihannya yang awalnya menjadi lawyer kemudian memilih untuk masuk seminari dan menjadi pastor Katolik di salah satu keuskupan di daratan Flores.
Ia ditahbiskan menjadi pastor sekitar lima tahun lalu. Waktu itu kaum-kaum klerus di keuskupannya sedang mengalami persoalan yang cukup pelik.
Sebab ada aliansi-aliansi dan organisasi-organisasi yang mengatasnamakan korban pertambangan geotermal di salah satu wilayah dalam keuskupan tersebut melakukan demonstrasi di kantor sekretariat keuskupan dan menanyakan terkait posisi pihak keuskupan dalam kasus tambang geotermal di wilayah mereka.
Margio merasa tertantang. Sebab ia menyadari kenyataan seperti inilah yang juga akan dihadapinya kelak ketika ia menjadi bagian dari kalangan klerus itu.
Tibalah saatnya bagi Margio diutus ke medan pastoral yang baru. Sebagai seorang pastor yang baru saja melepas masa-masa sebagai pastor balita, ia merasa bersyukur bahwa sejauh ini Tuhan selalu menyertai perjalanan imamatnya.
Lima tahun lalu ketika baru ditahbiskan, Margio diutus untuk mengabdi di seminari. Sungguh sebuah hal yang membosankan bagi dirinya lantaran di seminari aturan-aturan kehidupan tampak terlalu kaku. Namun kali ini, Margio merasa senang karena mendapat tugas baru yakni diutus ke salah satu paroki.
Satu dua hari pertama di paroki yang baru itu, Margio masih merasa canggung dan merasa perlu untuk beradaptasi lebih banyak.
Dengan status sebagai pastor rekan, ia paham baik bahwa ia mesti lebih banyak bersikap rendah hati dan mengikuti apa yang menjadi arahan pastor kepala.
Sebab ia menyaksikan banyak dari antara teman-temannya yang menjadi pastor rekan tetapi berlagak seperti pastor kepala.
Di suatu sore Margio berjalan menyusuri perkebunan milik paroki sembari memikul cangkul dan menenteng jerigen berisi air untuk menyiram tanaman.
Kebiasaan seperti ini tidak pernah dilakukan Margio ketika dulu ia masih menjadi lawyer. Dulu ia hanya berkutat dengan pena dan berkas-berkas berisi laporan-laporan perkara.
Kali ini ia sangat menikmati tanggung jawabnya sebagai pastor dan ia tampak bersukacita atas panggilan imamatnya.
“Selamat sore romo”……Margio menoleh sebab ia mendengar ada suara yang menyapanya dari belakang. “Halo selamat sore juga”….
Margio membalas salam itu dan sejenak menanggalkan alat kerjanya. Di sana ia mendapati seorang anak muda yang tampan dan gagah.
Pria itu datang mendekati Margio dan bersalaman. Kemudian diketahui Margio nama pria itu adalah Gusti.
Setelah berkenalan, Gusti membantu Margio menyelesaikan pekerjaannya. Mereka mengobrol banyak hal hingga tak terasa pekerjaan bisa selesai.
Margio mengajak Gusti untuk sejenak bersantai di bale-bale depan pastoran sembari menikmati kopi sore.
Gusti bercerita bahwa ia adalah seorang sarjana muda yang baru menamatkan pendidikan strata satu di salah satu universitas di ibu kota provinsi.
Setelah selesai kuliah ia belum mendapatkan pekerjaan. Hasil dari cerita yang cukup lama sore itu, Margio baru mengetahui bahwa Gusti sangat aktif dalam setiap kegiatan OMK Paroki.
Selain itu Gusti juga aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Tidak dapat dimungkiri semangat yang dimiliki Gusti saat ini berkat pengalaman yang sudah dipupuk dengan baik ketika ia masih mahasiswa dan terlibat dalam organisasi PMKRI.
Selepas menikmati kopi sore sambil bercerita banyak hal akhirnya Gusti pamit pulang. Margio pun kembali ke rumah pastoran dan mandi untuk membersihkan diri dari kotoran akibat kerja di kebun.
Hari-hari berikutnya dilalui Margio dengan begitu sukacita. Kendati pun kesibukan pelayanan begitu padat namun sebagai pastor yang masih terhitung muda, Margio menikamti pelayanannya dengan tulus hati dan penuh senyum kebahagiaan.
Margio sangat akrab dengan anak-anak muda di paroki. Itulah sebabnya Gusti dan teman-teman OMK lain sangat semangat dalam melaksanakan setiap kegiatan di paroki termasuk membantu pelayanan kepada umat.
Pastor kepala sangat senang dengan kehadiran Margio sebagai pastor rekan karena banyak menyumbang daya-daya positif bagi pengembangan iman umat.
Selama di paroki itu Margio belum mendapat tantangan yang berarti lantaran ia berada di tengah orang-orang yang mencintainya.
Kalau dulu saat masih bekerja sebagai lawyer, Margio selalu mengalami perasaan yang campur aduk sebab ada yang mencintai dia karena kerjanya mampu memenangkan perkara salah satu pihak dan di sisi lain ia juga dibenci oleh pihak yang ia kalahkan dalam urusan perkara.
Namun kali ini ia merasa benar-benar menemukan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan.
Setelah setahun berlalu ternyata badai kehidupan itu pun datang menghampiri Margio. Di suatu malam yang tenang Margio menonton sebuah berita yang sedang viral di branda media sosialnya.
Ia menyaksikan beberapa umat di parokinya terlibat dalam insiden dalam video itu. Mereka melakukan aksi demonstrasi di depan kantor bupati dengan aspirasi agar pertambangan geotermal yang kembali beroperasi di wilayah mereka segera dihentikan.
Margio memperhatikan dalam video itu tampak Gusti dan teman-teman OMK lain menjadi garda terdepan melakukan demonstrasi.
Mereka tampak semangat menyuarakan keberatan masyarakat atas terjadinya pertambangan geotermal itu. Sebab geotermal menjadi senjata pembunuh bagi masa depan kehidupan umat manusia dan alam lingkungan.
Tampaknya kejadian tersebut terjadi satu hari sebelum Margio menyaksikan video viral itu.
Menyaksikan itu Margio menjadi teringat bahwa beberapa hari lalu setelah pulang dari tempat pelayanannya ia memang menjumpai beberapa truk bermuatan alat-alat berat di persimpangan jalan yang merupakan bagian dari wilayah paroki itu tetapi ia tidak terlalu menghiraukannya.
Margio pun bangun dari duduknya dan pergi menjumpai pastor kepala yang lagi sibuk di kantor sekretariat paroki.
Di sana ia menceritakan segala hal yang terjadi dengan Gusti dan teman-teman OMK lain dan juga terkait dengan persoalan geotermal yang sedang dihadapi oleh umat di parokinya.
Namun tampaknya pastor kepala tidak terlalu menanggapi hal itu secara serius. Margio pun bingung dan bertanya di dalam hatinya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Esok harinya Margio mencoba menghubugi Gusti melalui telepon WhatsApp tetapi sama sekali tidak ada jawaban.
Kemudian baru ia mendengar kabar dari keluarganya bahwa Gusti dan beberapa teman OMK lainya ditahan di kantor polisi dengan tuduhan telah melanggar aturan demonstrasi yakni melakukan perusakan terhadap fasilitas umum dan terlibat aksi percekcokan dengan aparat.
Sebagai seorang mantan lawyer terkenal Margio masih memiliki naluri untuk membela hak-hak orang yang tertindas. Ia juga menyadari bahwa rahmat panggilan sebagai pastor yang telah ia terima memberi tanggung jawab kepadanya untuk senantiasa berpihak kepada kebenaran dan menjadi gembala yang baik bagi domba-domba.
Margio dirundung rasa dilema lantaran ia memiliki niat untuk turun tangan dalam persoalan ini namun ia masih belum mendapat dukungan pasti dari pastor kepala.
Dengan tekat yang kuat Margio pun bergegas menuju kantor polisi dan membawa serta berkas-berkas identitasnya sebagai lawyer.
Di sanalah ia berdiskusi Panjang lebar dengan para aparat dan melalui diskusi yang panjang itu akhirnya Gusti dan teman-temannya berhasil dibebaskan.
Mereka sangat berterima kasih kepada Margio yang telah membantu mereka sehingga dapat bebas dari tahanan.
Margio berjanji kepada Gusti dan teman-temannya dan juga segenap umat bahwa ia akan menjadi garda terdepan dalam usaha menolak proyek pertambangan geotermal di wilayah paroki mereka.
Setelah pulang dari kantor polisi untuk menjemput Gusti dan teman-temannya, Margio mengajak mereka untuk berkumpul di pastoran untuk membicarakan banyak hal.
Tepat di depan pintu pastoran rombongan mereka disambut oleh pastor kepala dengan wajah yang muram penuh rasa malu sembari berujar “terima kasih pastor Margio sudah mengajarkan saya tentang pentingnya keberanian membela hak-hak orang kecil.”

