Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Pendapatan dari Sampah di Manggarai Masih Rendah
Regional NTT

Pendapatan dari Sampah di Manggarai Masih Rendah

By Redaksi4 November 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai, Antonius Hani
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Pendapatan retribusi sampah di Kabupaten Manggarai hingga akhir Oktober 2025 tercatat baru mencapai sekitar Rp320 juta, atau hanya setengah dari target tahunan sebesar Rp 650 juta.

“Rendahnya capaian retribusi dipicu oleh ketidakjelasan status petugas lapangan pada Februari hingga April, yang menyebabkan penagihan tidak berjalan optimal,” ucap Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai, Antonius Hani, pada Selasa, 4 November 2025.

Ia juga mengatakan minimnya kesadaran masyarakat untuk membayar retribusi sebesar Rp4.000 yang masih menjadi kendala utama hingga saat ini.

Antonius menjelaskan, dari sekitar 25 ribu rumah tangga di Kecamatan Langke Rembong, hanya tercatat kurang dari dua ribu yang terdaftar sebagai pelanggan aktif.

Sementara, retribusi tarif pelanggan lainnya diklasifikasikan dalam beberapa kategori, seperti pelanggan komersial dengan tarif Rp135 ribu, kelas 1 sebesar Rp108 ribu, kelas 2 Rp91 ribu, dan kelas 3 sekitar Rp80 ribu.

“Jika kita ambil setengahnya saja dari 25 ribuan rumah tangga, saya rasa bisa mencapai target,” ujarnya.

Ia juga menyoroti rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan karena banyaknya sampah yang berserakan di jalan umum tanpa ada yang mengakui sebagai pemiliknya.

“Banyak sampah yang berserakan terutama di jalan, tapi ketika ditanya pemiliknya, mereka tidak mau mengaku,” kata Antonius.

Antonius optimistis di tahun 2026 menjadi momentum perbaikan dalam pengelolaan sampah, terutama dalam peningkatan pendapatan retribusi. Sebab, dengan penambahan armada pengangkut sampah dan dukungan dana pinjaman, retribusi sampah dapat mencapai target. Langkah ini dinilai penting untuk menunjang operasional dan memperluas jangkauan layanan, sehingga target pendapatan tahun depan dapat tercapai lebih maksimal.

Kata dia, peningkatan capaian retribusi tidak semata bergantung pada ketersediaan armada atau sarana pendukung. Edukasi berkelanjutan dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penentu utama.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari RT/RW, sekolah, komunitas, hingga institusi pemerintah.

“Kita butuh kerja keras dari petugas penagih di lapangan, tapi juga perlu dukungan dari lurah, RT/RW, dan ketua KBG sebagai penggerak di lingkungan masing-masing,” katanya.

Ia berharap ke depan masyarakat semakin sadar akan tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta mendukung program pemerintah melalui kepatuhan membayar retribusi. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah hanya dapat dicapai jika semua pihak bergerak bersama.

Ia juga mengimbau agar warga tidak membiarkan sampah berserakan di pinggir jalan dan menyarankan agar sampah dikumpulkan dalam karung dan diikat rapi, sehingga memudahkan petugas kebersihan, baik yang menggunakan roda tiga maupun dump truk, saat proses pengangkutan.

“Sampah sebaiknya disimpan dalam karung dan diikat rapi, supaya memudahkan petugas, baik yang menggunakan roda tiga maupun dump truk, untuk mengangkutnya,” pungkasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Dinas Lingkungan Hidup, kata Antonius, terbuka untuk bekerja sama dengan siapa saja mulai dari RT/RW, sekolah-sekolah, perguruan tinggi, hingga komunitas-komunitas peduli lingkungan.

“Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Kami siap berkolaborasi agar sampah-sampah yang ada bisa tertangani dengan baik, demi mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat,” tutupnya.

Kontributor: Isno Baco

DLHD Manggarai Kabupaten Manggarai Manggarai
Previous ArticleDinilai Masih Jauh dari Prinsip Keadilan, Benny Harman Kritik Penegakan Hukum di Indonesia
Next Article 339 Siswa SMAS St. Gregorius Reo Ikut TKA Online, Bekal Sebelum Kuliah

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.