Oleh: Hananya Abiemanyu Setyawan
Mantan ketua OSIS SMA Katolik St. Josef Freinademetz (SMAFREND)-Tambolaka, Sumba Barat Daya (2024/2025)
Selasa, 11 November 2025, Mediakatantt.com menurun berita bertajuk, “Kasus Keracunan MBG Terjadi di Sumba Barat Daya, Puluhan Siswa SMA Manda Elu Dilarikan ke Rumah Sakit.”
Berita ini viral dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan menyedihkan. Sudah semangat dan lahap menghabiskan makanan bergizi, namun pada akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dari team medis. Inilah realitas suram hari ini.
Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang terjadi di seluruh Indonesia sebagai bentuk realisasi dari janji kampanye Presiden Prabowo Subianto, untuk mengatasi masalah gizi anak di Indonesia.
Yang menjadi sasaran dalam Program Makanan Bergizi Gratis ini adalah siswa PAUD hingga SMA/SMK serta ibu hamil dan menyusui. Program ini juga sebagai bagian dari perwujudan dari visi Indonesia Emas melalui peningkatan kesehatan dan kecerdasan generasi muda.
Sebenarnya gagasan ini muncul dalam kampanye pada September tahun 2023. Selanjutnya pasangan Prabowo- Gibran menjadikan program ini sebagai visi- Misi pada (Pilpres) 2024.
Program mulia ini disambut dengan baik oleh seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Sabang sampai Merauke.
Benarkah program Makanan Bergizi Gratis ini sungguh- sungguh memperbaiki gizi anak bangsa secara holistik, ataukah petakah? Mari ikuti kejadian aktual hari ini dari Program Makanan Bergizi Gratis.
Pada 11 November 2025, sejumlah siswa- siswi SMA Manda Elu di Keacamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di sekolah.
Peristiwa ini tentu menghebohkan banyak pihak, mengingat program MBG sejatinya bertujuan baik yakni membantu anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup agar tumbuh sehat dan berprestasi.
Namun, kejadian tersebut justru menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana pengawasan dan kualitas program ini dijalankan? Maka di sini saya melihat Program Makanan Bergizi Gratis menjadi ekstra waspada bagi anak-anak di Kabupaten ini.
Secara positif, program MBG adalah langkah mulia dari pemerintah untuk mendukung kesejahteraan peserta didik, terutama di daerah seperti Sumba yang masih menghadapi tantangan kehidupan ekonomi yang mencekik.
Dengan adanya makanan bergizi di sekolah, siswa tidak hanya terbantu dari sisi gizi, tetapi juga dapat lebih fokus belajar tanpa harus menahan lapar.
Terobosan mulia dari Bapak Presiden Prabowo ini mesti diacungkan jempol. Masa jabatan Presiden Prabowo ini luar biasa karena memiliki memiliki program Makanan Bergizi Gratis.
Ini merupakan lamgkah maju dari pemerintah Indonesia, dan program kontekstual untuk menolong anak-anak Indonesia menjadi pribadi yang sehat dan berkualitas sumber daya manusianya.
Namun di balik itu ada sisi negatif, siswa-siswi mengalami keracunan di SMA Swasta Manda Elu Sumba Barat Daya menunjukkan adanya kelemahan dalam pelaksanaan.
Mulai dari pengawasan bahan makanan, cara penyimpanan, hingga proses pengolahan tampaknya belum sesuai standar keamanan pangan.
Akibatnya, niat baik yang seharusnya membawa manfaat justru berbalik menjadi ancaman bagi kesehatan siswa. Dari Makanan Bergizi Gratis menjadi Makanan beracun. Lantas siapakah yang salah dalam mengurus makanan bergizi gratis ini?
Sebagai generasi muda dari Sumba Barat Daya saya menganjurkan agar Pemerintah Daerah, pihak sekolah, dan penyedia stok makanan, dan pengelola perlu segera melakukan evaluasi secara menyeluruh.
Pengawasan ketat, pelatihan bagi pengelola makanan, serta transparansi dalam pelaksanaan program harus menjadi prioritas.
Program MBG tetap sangat dibutuhkan anak-anak di Kabupaten Sumba Barat Daya ini, tetapi harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab agar tidak menjadi petaka.
Dengan pengawasan yang ketat dan pengelolaan yang baik oleh semua tim Program Makanan Bergizi Gratis ini, maka program ini bukan hanya sekadar bantuan, tetapi menjadi wujud nyata kepedulian hati pemerintah terhadap masa depan generasi muda yang sehat dan cerdas.
Saya menyuarakan ini karena ada resah dan gelisa yang mengganjal di hati selama ini.
Semoga gaung suara saya ini bisa didengar dan menjadi bahan evaluasi untuk kemajuan anak-anak negeri yang ada di Kabupaten Sumba Barat Daya tercinta ini.

