Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Eksistensi Guru dan Generasi Emas
Gagasan

Eksistensi Guru dan Generasi Emas

By Redaksi23 November 20256 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andra Geraldo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Andra Geraldo

Siswa dari Seminari St Yohanes Paulus Il Labuan Bajo

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam menunjang kehidupan manusia. Pendidikan menjadi salah satu faktor yang dapat menggambarkan kondisi dan keadaan manusia secara kognitif dan emosional.

Oleh karena itu, diperlukannya pendidikan yang bermutu agar mampu menopang semua itu. Demi terciptanya pendidikan yang bermutu, bukan hanya soal kualitas kurikulum, tetapi kualitas orang yang mendidik juga sangat berpengaruh besar akan hal tersebut.

Orang yang mendidik atau yang sering dikenal dengan sapaan “Guru” adalah pihak yang mempunyai kontribusi yang besar terhadap kualitas pendidikan.

Guru dapat menjadi penentu ke mana bangsa atau negara akan berlabu ke depannya. Maka dari itu keberadaan dan peran Guru tidak boleh dikesampingkan dalam dunia pendidikan.

Guru lahir dalam bidang pendidikan untuk menopang pelajar dalam memahami berbagai hal-hal fundamental yang penting untuk dipahami.

Guru dapat menentukan kualitas dari seorang pelajar, karena sejatinya murid akan merepresentasikan apa yang didapatinya dari Guru.

Oleh karena itu peran Guru sangatlah penting dalam menentukan generasi bangsa di masa depan. Sebagai warga negara yang bermoral penting bagi kita untuk menghayati keberadaan dan peran Guru dalam dunia pendidikan dewasa ini.

Setiap tanggal 25 November, secara nasional kita memperingati hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hal ini diperingati khusus sebagai ungkapan bahwa Indonesia mempunyai perhatian khusus akan keberadaan dan peran Guru sebagaimana tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Hari PGRI yang diperingati setiap tanggal 25 November semestinya dapat menjadi sebuah pencerminan agar menyadari peran Guru sebagai pengajar yang mempunyai pengaruh penting dalam dunia pendidikan.

Hari PGRI yang diperingati setiap tanggal 25 November, pada tahun ini mengusung tema “Guru Bermutu: Indonesia Maju”. Tema ini hadir untuk menegaskan bahwa Guru merupakan fondasi dasar yang penting dan paling utama untuk mendukung pendidikan yang berkualitas di Indonesia (Amikom, 2025).

Dengan keberadaan Guru akan mendukung kualitas pendidikan yang ada saat ini, maka dari itu penting bagi setiap kita untuk menghayati peran Guru dalam dunia pendidikan.

Peringatan hari PGRI semestinya tak hanya menjadi acara formalitas tahunan, tetapi mesti ada penghayatan yang mendalam tentang keberadaan Guru yang mendukung kualitas pendidikan, bahkan menjadi ujung tombak dari pendidikan.

Penghayatan terhadap peran Guru mesti ditingkatkan sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap mereka yang berjuang tanpa tanda jasa.

Namun jika berkaca pada realitas yang terjadi dewasa ini banyak ditemukan kasus yang berkaitan dengan tindakan yang tidak menghargai Guru. Salah satunya kasus pemukulan terhadap seorang Guru SMPN 1 Trenggalek oleh Orang tua murid (Kompas.com, 2025).

Kasus tersebut merupakan salah satu kasus dari sekian banyaknya kasus pemukulan terhadap Guru. Kasus-kasus yang terjadi biasanya timbul dari kesalahpahaman antara Guru dan Orang tua murid, sehingga menimbulkan konflik di antara keduanya.

Kasus di atas menunjukkan bahwa masih ditemukan saat ini adanya diskomunikasi antara Guru dan Orang tua murid, akibat dari kurangnya dialog sehingga adu fisik pun menjadi solusi paling efektif. Masalah yang terjadi dewasa ini, sudah mengganggu eksistensi Guru sebagai pengajar dan pembimbing.

Masalah yang timbul sekarang telah membuat Guru sebagai orang tua siswa di sekolah kehilangan kepercayaan dari orang tua. Guru yang sebenarnya adalah orang tua siswa mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari Orang tua, hal tersebut membuat Guru menjadi kehilangan kepercayaan dari Orang tua yang lain.

Jika seorang Guru telah kehilangan kepercayaan, maka siapa lagi yang dipercayakan untuk mendidik. Hal tersebut tentunya akan mengganggu kualitas pendidikan yang ada  di Indonesia, ini akan berdampak buruk terhadap siswa yang membutuhkan pendidikan.

Guru yang sebenarnya sebagai orang tua tak mendapat ruang untuk mendidik anak, oleh karena itu anak dan Orang tua akan menjadi takut dan berusaha untuk mencari solusi yang cepat namun tidak tepat.

Selain itu pula dengan adanya masalah tersebut akan membuat peran Guru sebagai pembimbing dan pengajar akan hilang. Guru yang tidak mendapatkan kepercayaan akan kehilangan eksistensinya sebagai pembimbing dan pengajar, hal tersebut muncul akibat diskomunikasi yang terjadi antara Guru dan Orang tua murid.

Guru yang telah dipercayakan sebagai pengajar akan dianggap sebagai perusak mental anak, hal tersebut akan muncul jika terjadinya kesalahpahaman antara keduanya.

Ketika niat Guru baik namun siswa dan orang tua menanggapinya tidak dengan baik, maka akan timbul kesalahpahaman antara keduanya.

Guru yang sebenarnya hadir sebagai orang tua yang membimbing akan hilang eksistensi akibat dari masalah yang terjadi, Guru akan dianggap sebagai perusak.

Melihat realita yang terjadi dewasa ini tentunya eksistensi Guru sebagai penopang Generasi Emas akan kehilangan keberadaanya. Guru yang sebenarnya menjadi penonggak utama Generasi Emas harus kehilangan martabatnya akibat dari kesalahpahaman yang terjadi.

Hal ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja, maka perlu adanya solusi yang efektif agar eksistensi Guru sebagai pengajar dan pembimbing tetap terjaga dan jalan menuju Indonesia Emas pun tidak mempunyai tantangan yang begitu serius, karena Indonesia Emas akan terwujud jika pendidikan saat ini mulai untuk dibentuk dengan baik.

Siapakah yang harus berefleksi?

Dalam menghadapi persoalan yang terjadi dewasa ini, semua pihak mesti terlibat bukan hanya Guru dan Pemerintah. Berkaca pada masalah yang terjadi hal pertama yang perlu untuk dilakukan adalah perlu adanya penghargaan terhadap seorang Guru.

Guru hadir bukan sebagai musuh yang harus dibunuh. Kita perlu untuk menyadari bahwa peran Guru sangat penting dalam mendukung kualitas pendidikan yang ada di Indonesia.

Maka dari itu bagi Orang tua murid dan pemerintah perlu adanya penghargaan terhadap jasa yang telah diberikan Guru sebagai kontribusi terbesar mereka untuk mendukung Generasi Emas.

Dengan menyadari peran Guru, secara tidak langsung kita akan memberikan kepercayaan seutuhnya terhadap Guru sebagai pembimbing dan pengajar untuk mendukung perkembangan anak. Dengan adanya dua hal tersebut yang dilakukan oleh orang tua, maka masalah yang sering kali terjadi akan mampu diminimalisasi, sehingga terciptalah komunikasi yang baik antara Guru dan Orang tua murid.

Berkaca pada fenomena di atas, Guru juga perlu untuk berbenah. Guru mesti menyadari keberadaannya sebagai pengajar dan pembimbing siswa. Guru harus menyadari bahwa mereka adalah orang tua dari para siswa, sehingga Guru mesti menampilkan rasa kasih sayang terhadap siswa.

Selain itu juga, Guru mesti menyadari batasan tertentu dalam mengambil tindakan. Guru tidak boleh mengambil tindakan yang sudah keluar dan melenceng jauh dari eksistensi sebagai pengajar dan pendamping.

Guru mesti mampu menjaga kepercayaan dari Orang tua, Guru harus bisa menampilkan tindakan yang mendeskripsikan bahwa Guru betul-betul menjaga perkembangan dan pertumbuhan anak di sekolah, baik secara akademik maupun karakter.

Dalam menyempurnakan semua itu sekolah juga perlu melakukan sosialisasi mengenai aturan yang berlaku di sekolah kepada para siswa dan Orang tua mereka untuk menghindari kesalahpahaman dan berusaha untuk membangun dialog dengan Orang tua.

Semua hal ini akan berjalan dengan baik, jika semua pihak ingin berkolaborasi. Oleh karena itu dihari PGRI tahun 2025 perlu adanya pembaharuan terhadap segala hal yang telah menyimpang jauh dalam dunia pendidikan, sehingga jalan menuju Generasi Emas semakin berjalan dengan baik. Selamat merayakan hari PGRI 2025, “Guru bermutu: Indonesia Maju”.

Andra Geraldo
Previous ArticleGuru, Pelita Generasi Hebat
Next Article Gaji Pendamping Koperasi Merah Putih di NTT Terlambat Dibayarkan, Ini Penjelasan Dinkop UKM

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.