Oleh: Tarsi Arlidianto
Guru Pengampu Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMA Katolik St. Josef Freinademetz- Tambolaka, Sumba Barat Daya
Saya tidak pernah bayangkan bahwa perjalanan hidup telah membawa saya berjalan sejauh ini. Lika liku hidup telah menghantar saya pada sebuah permenungan yang mendalam tentang arti sebuah perjalanan dan panggilan hidup.
Menjadi guru adalah sebuah panggilan mulia yang saya impikan. Saya merasa tertarik dengan profesi ini tentunya atas berbagai alasan.
Salah satu alasan mendasar yang cukup kuat mempengaruhi saya ialah seorang guru adalah sumber informasi yang paling valid di tengah keterbatasa informasi di kala itu.
Seorang guru adalah memiliki multi talenta. Serba bisa. Mau kerjakan apa saja pasti bisa. Mulai dari memecahkan persoalan paling pelik hingga memimpin pertandingan di lapangan bola.
Di forum-forum informal di komunitas masyarakat seorang guru adalah figur yang dinantikan kehadirannya. Karena kehadirannya pasti sanggup memberikan pencerahan. Kehadirannya ibarat oase di tengah padang savanna.
Kenyataan-kenyataan ini menyimpan sejuta kerinduan di hati kecil saya. Suatu saat saya harus menjadi seorang guru. Dengan tekad yang bulat saya pun memutuskan untuk menjadi guru. Tidak ada cara lain.
Saya harus belajar menjadi guru dengan memilih jurusan keguruan sambil tetap berharap bahwa suatu hari saya akan berdiri di depan kelas, mengajar dengan hati, dan menjadi bagian dari perjalanan hidup anak-anak bangsa.
Setelah tamat kuliah, saya pun melamar menjadi guru di sebuah lembaga pendidikan. Hari-hari awal masuk sekolah sebagai seorang guru menjadi pengalaman menarik dan penuh arti.
Saya menikmati setiap proses dengan antusias yang tinggi tanpa rasa lelah. Idealiame sebagi seorang guru freshgraduate memacu saya untuk terus bereksplorasi di tengah keterbatasan fasilitas di sekolah.
Tidak ada kata lelah dan mengeluh yang keluar dari diri saya. Saya menikmati masa-masa ‘bulan madu’ menjadi guru dengan semangat membara.
Namun seiring berjalannya waktu, idealisme dan ekspektasi saya terkadang berbenturan dengan realita dan keterbatasan yang ada.
Hal ini membuat saya melihat profesi guru bukan lagi sebagai sesuatu yang ideal. Tuntutan hidup, tawaran pekerjaan di luar bidang pendidikan yang lebih menjanjikan serta keraguan akan masa depan perlahan-lahan mengikis ketertarikan saya. Sampai pada satu titik, dimana saya benar-benar meninggalkan profesi yang dulu saya impikan.
Bertahun-tahun saya berpetualang di luar dunia pendidikan. Saya mencoba berbagai profesi lain dan semuanya memberi pengalaman serta pelajaran baru, namun tidak pernah benar-benar memberikan rasa yang sama seperti ketika saya berada di kelas.
Saya merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak dapat digantikan oleh gaji lebih besar atau jabatan lebih tinggi.
Pada titik tertentu, saya mulai menyadari bahwa ada bagian dari diri saya yang selalu tertinggal: panggilan menjadi guru.
Ketika akhirnya saya memutuskan kembali menekuni profesi ini, saya datang dengan perasaan campur aduk; antara ragu, takut gagal, dan berharap akan mencintai profesi ini selamanya. Tetapi perlahan-lahan, setiap hari di kelas mengembalikan rasa yang dulu pernah hilang.
Saya menemukan kembali kebahagiaan kecil ketika melihat siswa memahami sesuatu, ketika mereka bertanya dengan antusias, ketika mereka menunjukkan perkembangan yang tak saya duga. Tantangan yang dulu terasa berat kini berubah menjadi pemacu untuk terus belajar dan menjadi lebih baik.
Ternyata, menjadi guru itu menyenangkan. Ada dinamika yang hidup setiap hari. Ada pertemuan yang mengubah cara pandang. Ada kesempatan untuk memberikan makna di tengah hal-hal sederhana.
Saya mulai jatuh cinta kembali pada profesi ini bukan karena banyak hal menarik yang saya jumpai, tetapi justru karena di dalam kesulitannya ada keindahan yang hanya bisa dirasakan ketika kita menjalaninya dengan hati.
Di Hari Guru ini, sedikit merenungkan perjalanan panjang saya; perjalanan mencari, menjauh, lalu menemukan kembali panggilan menjadi seorang pendidik.
Saya kembali bukan karena tidak ada pilihan lain, tetapi karena saya akhirnya mengerti bahwa profesi guru adalah bagian dari diri saya. Mengajar bukan hanya tentang pekerjaan; ia adalah perjalanan membangun manusia, termasuk membangun diri saya sendiri.
Saya bersyukur pernah mengalami jatuh dan mencari jalan lain, karena melalui perjalanan itulah saya akhirnya memahami betapa bermaknanya menjadi seorang guru bagi diri saya.
Hari ini, saya kembali dengan kesadaran yang lebih utuh untuk memilih profesi ini dengan hati terbuka dan menyadarinya sebagai panggilan hidup, sebagai tanggung jawab, dan sebagai wujud rasa syukur karena diberi kesempatan untuk turut menerangi perjalanan generasi masa depan bangsa.
Selamat Hari Guru nasional ke- 80. Menjadi guru hebat untuk Indonesia kuat.

