Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Refleksi Teologi terhadap Kehadiran Geothermal di Flores
Gagasan

Refleksi Teologi terhadap Kehadiran Geothermal di Flores

By Redaksi7 Desember 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Aksi warga Poco Leok menentang proyek perluasan geotermal ke wilayah mereka pada Rabu (2/10/2024) (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Gonsi Kusman

Mahasiswa Filsafat Semester V pada IFTK Ledalero

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di tanah Flores, saya sering berpikir bagaimana pulau ini dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya menjadi korban ambisi pembangunan yang tak terkendali.

Indonesia, sebagai negara kedua terbesar setelah Amerika dalam produksi listrik geothermal dengan 1.948 MW dari 300 titik pengembangan, memang menargetkan 7.000 MW pada 2025 menurut rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Yunus Daud, 2019).

Geothermal dipromosikan sebagai solusi ramah lingkungan untuk menggantikan bahan bakar fosil yang mahal, terutama di daerah terpencil seperti pulau-pulau kecil dan pegunungan.

Namun, dari kacamata teologi, saya yakin bahwa pengembangan ini di Flores bukanlah kemajuan, melainkan ancaman serius terhadap ciptaan Tuhan yang harus kita jaga sebagai amanah ilahi.

Beberapa tahun terakhir, Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur diramaikan isu proyek geothermal di lokasi-lokasi seperti Poco Leok, Mataloko, Sokoria, dan beberapa lokasi lainnya.

Pemerintah dan korporasi melihat Flores sebagai lahan potensial karena cadangan panas buminya yang melimpah.

Pendukung proyek, termasuk Bupati Manggarai Hery Nabit, berargumen bahwa ini adalah peluang emas untuk kesejahteraan_seperti yang ia sampaikan dalam pidato Musrenbang di Ruteng pada 26 Maret 2025: “Tidak ada negara maju yang hanya mengandalkan pertanian” (Floresa.co, 9 April 2025).

Mereka membayangkan listrik murah mendorong ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan membuka lapangan kerja. Saya mengakui manfaat potensial ini; geothermal, berasal dari kata Yunani geo (bumi) dan thermos (panas), memang sumber energi terbarukan yang efisien untuk kebutuhan domestik dan industri, seperti yang dicatat para ahli geologi (Rina Wahyuningsih, 2005).

Namun, hemat saya, proyek ini justru bertentangan dengan mandat teologi penciptaan, di mana manusia dipanggil untuk memelihara bumi sebagai taman Eden (Kejadian 1:28), bukan mengeksploitasinya demi keuntungan sesaat.

Penolakan dari masyarakat adat, Gereja Katolik di Flores dan Denpasar, serta kelompok HAM seperti JPIC (SVD, SSPS, Keuskupan) dan VIVAT bukanlah sekadar emosional, melainkan berbasis etika yang mendalam.

Mereka menyoroti ancaman terhadap kemanusiaan, lingkungan, dan budaya_seperti yang diungkapkan dalam pernyataan resmi Gereja (Kompas.id).

Di Mataloko, misalnya, pengeboran telah menyebabkan semburan lumpur panas dan asap yang mencemari lahan pertanian serta mengganggu kehidupan warga (JATAM Nasional, YouTube, 11 April 2025).

Ini bukan “ramah lingkungan” seperti klaimnya; ini adalah resep bencana, terutama karena Flores berada di Ring of Fire, zona vulkanik yang rawan gempa dan erupsi.

Dari perspektif teologi, eksploitasi geothermal mengabaikan keadilan ekologis yang diajarkan Alkitab.

Manusia bertanggung jawab atas keseimbangan alam, yang menyediakan oksigen, makanan, dan kehidupan_bukan untuk dirusak oleh keserakahan.

Bencana alam, seperti banjir besar zaman Nuh (Kejadian 6-9) atau gempa saat penyaliban Yesus (Matius 27:51), sering menjadi tanda ilahi: kehadiran Tuhan, hukuman atas ketidakadilan, atau peringatan akhir zaman (Matius 24:7).

Epikuros mungkin mempertanyakan kebaikan Tuhan di tengah penderitaan, tapi teologi Kristen menjawab bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan kodrat bebasnya, termasuk risiko bencana, agar manusia belajar bertanggung jawab.

Jika geothermal memicu kerusakan lebih lanjut, seperti hilangnya kesuburan tanah di pulau yang 80% penduduknya petani, ini berarti pelanggaran terhadap amanah itu.

Sebagaimana yang digaungkan Dr. Alexander Jebadu, bahwa Flores tak punya ruang untuk tambang; tanahnya dirancang untuk pertanian jangka panjang, bukan eksploitasi neoliberal (2021:63).

Data BPS NTT menunjukkan kebutuhan listrik memang naik_dari 63.071 pelanggan di Flores Timur tahun 2020 menjadi 69.210 pada 2022, tapi ini tak membenarkan kehancuran.

Proyek semacam ini, seperti ditegaskan Mgr. Paul Budi Kleden, adalah “pelecehan brutal” terhadap ibu bumi yang setia memberi (Denar, 2015:320).

Lebih parah lagi, dampaknya merambat ke budaya dan spiritualitas. Budaya Flores tak terpisahkan dari alam; ia adalah akar identitas kita.

Upacara Penti di Manggarai memandang alam sebagai mesbah suci untuk persembahan kepada Mori Kraeng, Sang Pencipta. Jika dieksploitasi, hubungan spiritual itu terputus.

Begitu pula Rebha di Ngada, yang bergantung pada hasil panen sebagai ungkapan syukur kepada Ema Dewa. Tanpa alam, upacara ini lenyap. Seperti kata Dr. Gregor Neonbasu, kita kehilangan “jembatan” ke yang sakral (2016:135).

Saya percaya, pembangunan harus harmonis, bukan destruktif_mengorbankan budaya demi listrik adalah pengkhianatan terhadap warisan leluhur.

Pemerintah Flores tak menolak kemajuan. Kami hanya menuntut yang berkelanjutan. Geothermal mungkin cocok di tempat lain, tapi di sini, ia tak relevan.

Alternatif seperti surya, hidro, atau angin lebih ramah, sesuai mandat Tuhan untuk menjaga ciptaan-Nya hingga air mata terhapus (Wahyu 21:4).

Pertanyaan masyarakat Flores bergema: Kapan pemimpin mendengar? Saya harap tulisan sederhana ini membuka mata, agar Flores tetap hijau dan suci, bukan korban hegemoni pasar.

Gonsi Kusman
Previous ArticleGonta-Ganti Kurikulum: Strategi Guru di Pelosok NTT
Next Article Pemkab di NTT Didorong Produksi Potensi Lokal untuk Perkuat Ekonomi Desa

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.