Oleh: Florentina Ina Wai
Rumah kami adalah sebuah nyanyian kesederhanaan di bawah langit Adonara. Dindingnya dari anyaman bambu, tempat angin malam bebas menyelinap.
Atapnya alang-alang kering yang berbisik setiap kali hujan turun. Lantainya tanah dingin yang menyimpan jejak doa dan langkah.
Di kamar yang bersahaja, sebuah ranjang bambu beralaskan tikar tipis menjadi singgasana seorang lelaki yang kami panggil Aba Belido.
Dulu, kata Ema Maria, Aba Belido adalah bintang desa, pesona yang memikat hati setiap telinga dan mata.
Jemarinya menari lincah di dawai gambus, suaranya bariton yang dalam memimpin Sole Oha, tarian yang menghentak bumi, menggetarkan jiwa, memuji leluhur, dan memuliakan Tuhan.
Namun, ketika tujuh mulut kecil menanti kenyang, gambus itu perlahan diganti dengan cangkul. Nyanyian yang dulu bergema kini ia simpan di dada, menjelma tenaga otot yang membelah tanah kering, agar jagung dan singkong tumbuh menjadi harapan.
Aba Belido adalah flamingo yang rela memudarkan warna merah mudanya, demi memberi ruang bagi anak-anaknya untuk bersuara dengan warna yang lebih cerah dan abadi.
Ia adalah perpustakaan yang hidup bagi kami. Tanpa televisi, tanpa koran, ia fasih menuturkan kebijakan negeri, rahasia alam, hingga indahnya keberagaman iman. Misteri kecerdasannya selalu terjawab ketika malam menurunkan tirainya.
Diam-diam ia turun dari ranjang bambu, duduk rendah di lantai tanah, ditemani temaram lampu minyak yang bergetar seperti lilin doa.
Di sana, ia membuka satu-satunya jendela dunia kami: sebuah Alkitab lusuh, warisan kakak kelima saat Sambut Baru.
Sampulnya telah hilang, lembarannya menguning dan rapuh, namun di tangan yang masih berbau tanah, kitab itu menjelma mata air kebijaksanaan, mengalirkan cahaya bagi setiap kata yang ia baca dengan kerendahan hati seorang murid.
Jika Aba Belido adalah kaki yang menjejak bumi, maka Ema Maria adalah doa yang mengetuk pintu langit. Ia adalah flamingo sejati—rela memudarkan warna masa mudanya demi memberi makan anak-anaknya.
Jemarinya pedih memetik padi, panasnya hanya reda oleh minyak kelapa; ia tabah memetik bunga pepaya meski getahnya membuat kulit gatal.
Kebahagiaannya sederhana: melihat kami berdiri di altar, melayani dengan iman. Setiap kali kami bertugas sebagai putra altar, lektor, atau koor, ia menghadiahkan baju baru. Inilah simbol kebanggaan yang bersemayam di dadanya.
Dan sering, di tengah malam yang hening, kami terbangun mendapati Ema Maria berlutut dalam kesunyian.
Rosario melingkar di jemarinya, bibirnya berbisik doa pelindung yang melayang lembut di atas tidur kami, seperti sayap malaikat yang menjaga mimpi anak-anaknya.
Namun, hidup dalam adat Lamaholot tanpa saudara laki-laki adalah luka yang berat. Tiga saudara kami, sepasang kembar dan seorang lagi, telah berpulang saat bayi dan balita, korban sulitnya akses kesehatan.
Ema Maria pernah berbisik, ia ingin menggali tanah kuburan itu hanya untuk memeluk mereka sekali lagi. Dalam adat kami, laki-laki adalah pewaris suku. Tanpa mereka, garis keturunan Aba Belido seolah berhenti.
Tetapi iman orang tua kami memulihkan luka itu. Allah hadir sebagai Kakak Laki-Laki yang melindungi kami dari cemas.
Kehadiran-Nya nyata dalam doa malam Aba Belido dan Ema Maria, juga dalam hidup kakak perempuan kami yang menjadi biarawati.
Hidupnya yang dibaktikan untuk Tuhan adalah tanda bahwa Allah selalu hadir sebagai pembebas dan pemulih keluarga kami.
Kenangan paling indah adalah saat malam turun. Aba Belido pulang membawa buntelan daun jati atau daun sukun.
Di dalamnya tersimpan buah hutan, biji-bijian, atau udang segar dari kali. Itulah perjamuan kudus kami.
Di sela suapan, ia berpesan: “Jujur dan kasihilah temanmu. Mulut kita kecil, tapi bisa menjual utuh tubuh kita. Hati-hatilah dalam bertutur kata.”
Ia juga pelindung alam sejati. Menanam mangga, kelapa, dan jambu di pekarangan agar kami tak perlu menadah tangan.
Di rumah, ia memuliakan Ema Maria dengan kelembutan: memasak, mengasuh, merawat sejak masa kehamilan hingga kami dewasa.
Kini, setelah aku melalangbuana di samudra psikologi, aku mengerti: ajaran tentang pola asuh tanpa kekerasan yang dielu-elukan para ahli sesungguhnya telah lama hidup dalam diri Aba Belido dan Ema Maria.
Mereka tidak pernah mencubit, tidak pernah menghardik. Perselisihan kecil mereka disembunyikan di ladang, atau larut dalam bisikan malam, agar kami tumbuh dalam damai yang utuh.
Dan pada malam Natal ini, di hadapan nasi putih dan ikan Belido yang terbungkus daun jati, aku melihat warna merah muda flamingo itu tetap menyala.
Ia tidak pernah pudar, hanya berpindah: ke dalam gelar sarjana kami, ke dalam akhlak yang lembut, ke dalam iman yang teguh.
Kami memang tidak memiliki televisi, tidak memiliki kemewahan, tetapi kami memiliki segalanya.
Allah sebagai saudara laki-laki kami, dan dua raksasa iman yang mengajarkan bahwa kebenaran tidak membutuhkan sampul mewah.
Cukup lantai tanah yang dingin, Alkitab lusuh yang setia, dan cinta yang tulus maka semesta pun terasa berada dalam genggaman.*

