Oleh: Yohanes Mau
Staf guru SMA Katolik St. Josef Freinademetz, Sumba Barat Daya
Ratap dan tangis Sumatera adalah ratap tangis kita. Tetesan air mata basahi pipi dan enggan kering di tengah musim hujan yang membasahi semesta tanpa henti.
Anak-anak negeri menangis sembari ulur tangan ke seluruh arah mata angin. Menjerit, minta tolong. Doa- doa yang terdaras di dalam mesjid dan gereja selama ini tak mempan meredakan reaksi alam yang hebat itu.
Alam terus menggugat dan menggelorakan amarahnya atas ulah manusia yang tidak bersahabat dengannya selama ini. Akankah elite politik, tokoh agama, dan tokoh masyarakat sadar akan tragedi ini?
Dalam ensiklik Laudato si, Almarhum Paus Fransiskus menulis demikian, alam adalah “rumah kita bersama” yang diciptakan Tuhan, yang harus dijaga dan dirawat, bukan dieksploitasi, dan krisis ekologi adalah cerminan dari krisis spiritual dan hubungan manusia yang rusak dengan Tuhan, sesama, dan alam itu sendiri, menuntut “pertobatan ekologis” kolektif untuk mengubah sistem yang tidak adil, bukan sekadar perubahan gaya hidup individu.
Ia menekankan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan tuan atasnya, dan kerusakan lingkungan berhubungan erat dengan ketidakadilan sosial dan kemiskinan, serta mendesak tindakan politis untuk kebaikan bersama jangka panjang.”
Pesan inti yang mau disampaikan oleh almarhum Paus Fransiskus bagi dunia hari ini adalah Alam sebagai Rumah Bersama (Our Common Home): Bumi adalah anugerah Tuhan untuk dipelihara bersama, bukan untuk dikuasai dan dieksploitasi secara berlebihan.
Tragedi suram di Sumatera adalah dampak tidak harmonisnya relasi antara manusia dan alam. Manusia tidak mampu menjaga dan merawat bumi sebagai rumah hunian yang layak dihuni.
Manusia egois dan mementingkan segala rasa yang ada padanya tanpa peduli yang lain sebagai bagian dari dirinya yang tidak terpisahkan.
Lupa akan hakikat inti inilah yang menyebabkan air mata Sumatera enggan kering. Lantas, bagaimana upaya untuk memblokir terjadinya tragedi ini?
Hal utama yang mesti dilakukan oleh masyarakat terdampak bencana alam di Sumatera adalah berdamai dengan semesta dan melakukan rekonsiliasi.
Berdamai artinya berusaha untuk meninggalkan sikap egois dan tamak, serta keluar dari diri dan memandang alam sebagai bagian dari yang tak terpisahkan. Alam adalah kita yang lain yang butuh perhatian dan pelestarian yang sama.
Berjuang melihat alam sebagai sumber mengalirnya damai dalam melestarikan hidup ini.
Elite politik, tokoh agama, dan tokoh masyarakat harus berkaloborasi secara sadar dan solid untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai saudara yang butuh dimengerti dan dipeduli.
Ketiga elemen terpenting ini tidak boleh berjalan secara sendiri-sendiri dalam merawat dan mengolah alam ini.
Gugatan alam yang hebat hingga menimbulkan bencana besar di Sumatera adalah efek rakus dan tamak dari elite politik tertentu yang menggundulkan hutan di sana tanpa memulihkannya kembali.
Maka di sini terlihat jelas bahwa manusia belum sadar secara penuh bahwa alam adalah saudara yang sama-sama butuh perhatian dan kasih sayang dari manusia sebagai makhluk berpikir.
We have to back to nature (Kita harus kembali ke alam). Hidup manusia bertahan hingga detik ini karena alam masih bersahabat dengan kita. Segala sesuatu yang membuat hidup kita masih ada adalah alam.
Di sanalah tersaji segala macam tumbuhan dan binatang hidup serta berkembang. Manusia tidak sadar akan hal ini maka terjadilah aneka macam bencana. Ketika ada bencana barulah sadar akan ulahnya dan menyesal. Penyesalan selalu saja datang terlambat setelah menelan banyak korban. Ah, manusia betapa teganya hatimu.
Panggilan untuk back to nature (kembali ke alam) adalah panggilan ekologis dan menyatu dengannya sebagai saudara yang menghidupkan kita selama ini dan sampai generasi selanjutnya.
Elite politik, tokoh agama, dan tokoh masyarakat mesti bekerja sama secara aktif agar keharmonisannya tetap terlestari secara utuh.
Ketiga tokoh terpenting ini tidak boleh berjalan sendiri-sendiri sesuka hati mengikuti arah mata angin. Para tokoh agama tidaklah cukup hanya bergaung di mimbar-mimbar suci tanpa aksi.
Dan para tokoh masyarakat, tidaklah cukup hanya melakukan ritual-ritual adat menunjukkan kewibawaan hampa, tidak mendalam, dan menyatu dengan alam.
Jika kita sungguh menyadari alam adalah saudara kita maka kedamaian hidup ini akan terjamin hingga selamanya. Kalau bukan kita yang membudayakan persaudaraan yang harmonis dengan alam, tunggu siapa lagi?
Mari menata alam ini menjadi indah berawal dari taman tempat kita berpijak saat ini. Hari ini Sumatera menangis.
Esok dan selanjut, kita jangan membiarkannya menangis lagi untuk yang ke sekian kalinya. Hapuslah air matanya dengan sapu tangan peduli alam.

