Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Perseptif dan Media Sosial
Gagasan

Perseptif dan Media Sosial

By Redaksi16 Januari 20265 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andra Geraldo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Andra Geraldo

Siswa dari Seminari St Yohanes Paulus Il Labuan Bajo

Perkembangan dunia dewasa ini tak dapat dipungkiri lagi, begitu banyak hal yang telah muncul dan mewarnai dinamika hidup manusia.

Hal ini menjadi sebuah pertunjukan yang tidak biasa, segala hal menjadi mudah hanya dalam sepersekian detik.

Begitu banyak perkembangan yang telah muncul dari tahun ke tahun dengan aneka gebrakan yang baru dari setiap produk.

Salah satu bidang yang turut berkembang ialah bidang teknologi dan komunikasi.

Berbagai hal telah diperbarui untuk memudahkan manusia dalam berkomunikasi dan mengakses berbagai sumber melalui media elektronik, seperti handphone dan laptop.

Perkembangan alat teknologi komunikasi ini membawa manusia untuk semakin mengenal banyak orang dengan mudah dan segala hal yang dibutuhkan dapat muncul dengan tidak memerlukan waktu yang cukup lama.

Berbagai hal ini tentunya membuat manusia merasa lebih baik dengan mampu mengakses segala dengan mudah dan sarana relasi yang paling efisien dengan banyak orang hingga lintas negara dan benua.

Hal ini tentunya dimanfaatkan oleh berbagai pihak, hal itu terbukti dengan jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia mencapai 68,65% pada tahun 2024 (BPS). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakan perangkat teknologi.

Di balik perkembangan teknologi komunikasi muncul pula berbagai aplikasi untuk mempermudah manusia dalam membangun relasi dan mengakses banyak hal secara singkat.

Berbagai aplikasi yang digunakan untuk membangun komunikasi dikenal dengan sebutan media sosial.

Media sosial merupakan sarana untuk membangun komunikasi dengan orang lain secara online dengan memanfaatkan aplikasi yang telah diciptakan manusia itu sendiri.

Media sosial ini bertujuan agar mempermudah komunikasi manusia, dengan media sosial ini orang yang berada jauh dari kita bahkan lintas negara dapat menjalin relasi yang baik.

Pengguna media sosial juga banyak dewasa ini dilihat dari jumlah orang yang mengakses internet mencapai 72,78% (BPS).

Pengguna media sosial juga didominasi oleh Gen Z, tetapi bukan berarti yang menggunakan media sosial hanya oleh Gen Z saja.

Media sosial ini diciptakan tentunya dengan mempunyai maksud yang baik dalam membantu pekerjaan manusia.

Media sosial membuat manusia membuat jarak menjadi sebuah kampung kecil dengan istilah Global Village, hal ini tentunya membuat manusia dapat membangun sarana komunikasi dan juga mengakses berbagai hal dengan sangat mudah.

Selain sarana komunikasi tadi, hal yang paling juga ialah bagaimana media sosial ini menjadi sarana informasi. Media sosial dapat menjadi tempat untuk membagikan informasi dan juga mengakses informasi, artinya bahwa setiap orang dapat membagikan banyak hal melalui media sosial dan tak sedikit orang pula dapat mengonsumsi informasi tersebut, sehingga media sosial tidak hanya tempat untuk membangun relasi tetapi juga menjadi tempat yang baik untuk belajar.

Namun jika kita berkaca pada realitas yang terjadi dewasa ini begitu banyak hal yang telah menyimpang jauh dari konsep yang ideal seperti yang dijelaskan di atas.

Begitu banyak orang memanfaatkan media sosial untuk membagikan informasi yang tidak faktual dan bahkan memanfaatkan media sosial untuk menjatuhkan orang lain.

Kasus-kasus banyak beredar melalui media sosial, namun yang ingin diangkat penulis saat ini adalah bagaimana oknum-oknum memanfaatkan media sosial untuk menjatuhkan orang lain.

Jika kita kembali berkaca pada realitas yang terjadi sekarang, kita melihat bahwa ada oknum-oknum tertentu yang membagikan moment-moment yang sebenarnya tidak layak untuk dipublikasikan ke khayalak umum.

Hal itu sebenarnya menjadi hal yang sangat privasi bagi oknum yang bersangkutan, tetapi kita mengungkapkan hal tersebut dengan tujuan menarik pengikut. Hal ini tentunya mengganggu keberadaan media sosial sebagai media komunikasi dan juga informasi.

Selain itu pula, banyak orang yang memposting kejadian dari pihak lain di media sosial, baik hal itu hanya sebagai informasi, tetapi hal yang paling tragis ialah ketika tujuannya untuk mencapai banyak pengikut.

Media sosial pada konsepnya juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pendapatan, tetapi tidak dengan cara menjatuhkan orang lain.

Kita dapat memanfaatkan banyak hal untuk diposting di media sosial, tetapi tidak dengan mengorbankan orang lain.

Konsep ideal dari media sosial adalah sarana komunikasi dan informasi, namun jika kita mengungkpakan perasaan dengan tujuan agar semua tahu itu tentunya menjadi hal yang tidak lucu, di mana kita mengorbankan orang lain untuk memperoleh banyak pengikut.

Kita membagikan banyak hal bukan untuk mengungkapkan perasaan yang betul-betul dirasakan, tetapi hanya sebagai jalan agar banyak dikenal oleh orang-orang.

Penulis ingin kembali menegaskan bagaimana sebenarnya keberadaan dari media sosial, media sosial baik untuk dijadikan sebagai sarana komunikasi dan informasi.

Informasi yang dibagikan juga tentunya mesti tidak bersifat provokatif. Media sosial harus kembali pada rananya, jangan kita menjelek-jelekan orang lain melalui media sosial, boleh kita mengungkapkan perasaan, tetapi bukan sebagai hal untuk dikenal banyak orang.

Dalam menanggapi persoalan yang terjadi, penulis mengajak pengguna media sosial untuk bersikap perseptif atau mempunyai kesadaran yang tajam aka napa yang terjadi saat ini.

Penulis mengajak agar kita semua menyadari akan kejanggalan yang terjadi sekarang, kita mesti kembali pada eksistensi dari media sosial itu sendiri.

Bukan berarti kita tidak boleh memposting, tetapi kita mesti memfilter hal yang ingin kita posting di media sosial, agar tidak menggangu yang lain.

Oleh karena itu penting bagi kita semua untuk menyadari hal ini. Selain melalui pembangunan sikap perseptif ini penting bagi kita untuk membangun kesadaran moral untuk menjaga yang lain di mana kita mesti menyadari apakah hal yang kita bagikan betul-betul bermanfaat dan baik untuk dikonsumsi oleh semua pihak.

Maka dari itu pemerintah juga mesti bergerak untuk memberikan sosialisasi langsung kepada masyarakat untuk meminimalisasi fenomena yang terjadi sebagai upaya preventif dari pemerintah.

Pemerintah harus bergerak bersama masyarakat dalam menghadapi situasi yang terjadi sekarang.

Andra Geraldo
Previous ArticlePemprov NTT dan Pemkot Kupang Hidupkan Kembali Kerja Sama Pengelolaan Air Bersih
Next Article NTT Raih PIN Swasembada Pangan Nasional

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.