Ruteng, VoxNTT.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Manggarai menolak wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD. PDIP menegaskan tetap mendukung pilkada langsung yang memberikan hak penuh kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya.
“Kami PDI Perjuangan menolak pemilihan kepala daerah lewat DPRD,” tegas Ketua DPC PDIP Kabupaten Manggarai, Paul Peos, kepada VoxNtt.com, Rabu, 21 Januari 2026.
Paul yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Manggarai periode 2024–2029 mengatakan, bagi PDIP, pemilihan kepala daerah harus tetap diserahkan kepada rakyat. Menurut dia, pilkada langsung merupakan buah dari perjuangan panjang reformasi yang tidak boleh ditarik mundur.
“Jangan ambil hak rakyat. Pemilihan langsung adalah buah dari perjuangan reformasi,” ujarnya.
Paul menegaskan Indonesia adalah negara demokrasi sehingga hak-hak rakyat dalam menentukan pemimpin tidak boleh dirampas.
“Kita ini negara demokrasi. Jangan sampai hak-hak demokrasi rakyat dirampas oleh sekelompok orang,” pungkasnya.
Ia menilai, wacana pilkada melalui DPRD berpotensi mencederai kedaulatan rakyat dan mengacaukan sistem demokrasi yang selama ini telah berjalan dengan baik. Penolakan PDIP Manggarai, kata Paul, sejalan dengan sikap partai di tingkat pusat.
Paul menyebut, penolakan terhadap pilkada melalui DPRD merupakan instruksi langsung dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Menurut dia, pengembalian mekanisme pilkada ke DPRD sama saja dengan mengkhianati amanah reformasi dan prinsip kedaulatan rakyat.
“Pilkada langsung adalah wujud one man one vote. Kalau dikembalikan ke DPRD, itu sama saja mengkhianati perjuangan reformasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, sistem pilkada langsung lahir dari reformasi yang dibayar mahal dengan berbagai pengorbanan.
Paul menyebut tidak sedikit mahasiswa dan aktivis yang menjadi korban dalam perjuangan tersebut.
“Perjuangan reformasi itu tidak murah. Banyak yang hilang, banyak yang berkorban. Kalau hari ini pilkada ditarik mundur, itu menjadi pengkhianatan terhadap sejarah dan pengorbanan tersebut,” tutupnya.
Penulis: Isno Baco

