Ruteng, VoxNTT.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Komisi II, Simprosa Rianasari Gandut atau Osi Gandut, menanggapi serius keluhan para peternak babi terkait merebaknya virus African Swine Fever (ASF) yang telah menyebabkan kerugian besar dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat, khususnya di wilayah Manggarai Raya.
Keluhan tersebut disampaikan Osi Gandut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Peternakan Provinsi NTT.
Dalam forum tersebut, Dinas Peternakan NTT menyampaikan ketersediaan vaksin ASF sebenarnya masih mencukupi untuk membantu para peternak yang terdampak wabah.
Namun demikian, pelaksanaan vaksinasi ASF di Kabupaten Manggarai mengalami kendala karena belum dapat dilaksanakan dengan alasan teknis.
Menurut Osi Gandut, kendala tersebut berkaitan dengan keterbatasan waktu menjelang akhir tahun anggaran yang menyulitkan proses administrasi di daerah.
“Alasan dari Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai itu karena waktu sudah mepet akhir tahun, sehingga mereka kesulitan melaksanakan kegiatan dan membuat SPJ,” kata Osi kepada wartawan pada Kamis, 22 Januari 2026.
Osi juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih terdapat sekitar 1.700 dosis vaksin ASF yang tersisa di Provinsi NTT.
Ia mendorong agar vaksin tersebut segera didistribusikan ke wilayah Manggarai guna membantu para peternak yang masih terdampak wabah ASF.
“Sekarang vaksin ASF masih tersisa sekitar 1.700 dosis di provinsi. Saya sudah sampaikan agar segera didistribusikan ke Manggarai. Tinggal pemerintah daerah merespons cepat dan menyiapkan ongkir serta biaya operasional bagi petugas vaksin,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah tidak lagi menunda langkah penanganan ASF, mengingat sektor peternakan babi memiliki peran penting dalam menopang perekonomian masyarakat NTT, khususnya di wilayah Manggarai Raya.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai, Tuty Lajar menyampaikan apresiasi atas bantuan vaksin ASF dari Dinas Peternakan Provinsi NTT serta dukungan yang diberikan oleh Osi Gandut.
Ia menegaskan, pihaknya tidak menolak bantuan vaksin ASF, melainkan mengalami keterlambatan pelaksanaan karena waktu yang terlalu mepet, terutama di akhir tahun anggaran.
“Di tahun 2025 sebenarnya bukan menolak, hanya karena waktu terlalu mepet untuk melakukan kegiatan dan laporan, apalagi di bulan Desember dengan musim hujan saat itu dan pengunjung tahun,” jelas Tuty kepada VoxNtt.com.
Tuty juga menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan, khususnya peran Osi Gandut dalam mendorong percepatan penanganan wabah ASF di Kabupaten Manggarai.
Penulis: Isno Baco

