Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Mencari Jalan dan Rasa Malu Moral dan Spiritual di Ketidakwarasan
Gagasan

Mencari Jalan dan Rasa Malu Moral dan Spiritual di Ketidakwarasan

By Redaksi24 Januari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Akademisi di NTT Romo Dr. Innosensius Sutam saat menjadi narasumber dalam kegiatan Partisipasi Bermakna Rancangan Undang-undang tentang BPIP di Say Se'i Labuan Bajo, Minggu, 2 November 2025 (Foto: Sello Jome/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Rm. Inosensius Sutam

(Pekan 2 Masa Biasa Tahun A, Sabtu, 24 Januari 2026, 2Samuel 1:1-4, 11-12, 19, 23-27; Mzm 80:2-3, 5-7; Mrk 3:20-21)

1

Hidup itu indah. Namun sering juga menjadi beban. Di sini tiap orang merasa terdesak, tersesak, terhimpin. Akhirnya banyak yang menjadi tidak waras.  Hal itu dialami juga oleh Daud, Yesus, dan keluarga Yesus dalam kedua bacaan hari ini.

2

Daud merasa hidup indah karena dipilih Allah. Namun ia terbebani karena secara internal ia dimusuhi oleh keluarga Saul dan pengikutnya. Walaupun Saul sudah menangis dan memuji Daud. Namun Daud tahu juga, itu tangisan dan kata-kata dari lidah seorang politisi yang bersayap ganda. Secara eksternal Daud dibebani oleh musuh Israel yang sudah membunuh Saul dan anaknya Yonatan, dan pasukan Israel tercerai-berai.

3

Yesus juga terdesak secara fisik karena banyak orang  yang mencariNya. Karena itu Ia tidak bisa makan. Ia juga terhimpit oleh tuduhan keluargaNya dan pemimpin agama Yahudi yang mencapNya tidak waras.

4

Keluarga Yesus merasa beban sosial dan kultural, bahkan beban religius, karena Yesus melakukan hal-hal yang menurut tradisi Yahudi tidak benar dan tidak baik. Yesus menjadi gossip sosial negative yang mengganggu hidup mereka yang aman dan nyaman. Karena itu mereka ingin mengambilNya.

5

Daud mestinya senang ketika ia mengalahkan orang Amalek dan mendengar Saul musuhnya sudah mati. Namun ia tahu, ia tidak boleh senang di atas duka orang lain. Keluarga Saul dan pengikutnya sedang kehilangan. Bukan saja kehilangan Saul, tetapi juga semua jabatan dan previlese yang mereka peroleh selama ini. Selain itu ia tahu, Saul adalah orang yang sudah dipilih dan diurapi Allah. Lebih lanjut ia harus mempersatukan semua orang Israel untuk menghadapi para musuhnya. Bagi para pengikutnya, Daud mungkin tidak waras.

6

Namun di sinilah kualitas moral dan spiritual Daud diuji. Daud tahu untuk menjadi pemimpin besar dan menang perang selain keahlian militer, ekonomi, dan politik, ia perlu sebuah tiang moral dan spiritual yang kuat.

7

Yesus memasuki sebuah rumah orang sederhana, dikerumni banyak orang. Ia mengajarkan jalan moral dan spiritual yang sering membalikkan tradisi kultural dan religius yang membebani manusia. Ia tahu tahtaNya adalah membebaskan orang kecil dan sederhana yang sering terhimpit hidupnya. Ia tidak memberi uang kepada mereka tetapi sebuah jalan moral dan spiritual, yaitu mengasihi orang lain.

8

Tokoh Daud dan Yesus, yang dicap tidak waras mengajarkan kita jalan dan rasa malu moral dan spiritual. Ketika mereka melihat sesuatu dari perspektif moral dan spiritual mereka dicap tidak waras oleh orang yang hanya ingin nyaman dan aman dari tradisi usang, orang yang hanya melihat hidup dari sisi politik, ekonomi, dan politik saja. Di kelompok ini jumlahnya banyak, karena itu pada umumnya mereka menang. Walaupun dari sisi moral dan spiritual mereka tidak waras.

9

Pesan dari bacaan hari ini. Secara moral dan spiritual, menjadi besar, tinggi, dan luas dalam tahta kuasa, harta, popularitas adalah hadiah Allah. Kewajiban kita adalah terus melaksanakan karya kita yang kecil sederhana dan mungkin rutin tak dianggap besar: sapu rumah, masak, cuci piring, beri makan hewan, dll. Terus memaafkan mereka yang bersalah pada kita. Seperti ibu yang mengandung, menyusui, memandikan anaknya, tanpa tahu satu hari anaknya menjadi koruptor, penjahat, dll. Dalam keadaan demikian sang ibu tetap mengasihinya. Seperti alam yang selalu memberi kita makanan, angin, air, dan matahari walaupun kita berdosa. Itulah jalan Allah.

Ino Sutam Inosensius Sutam
Previous ArticleWabup Matim Pimpin Langsung Pencarian Korban Longsor di Desa Goreng Meni Lamba Leda
Next Article Pemkab Manggarai Barat Tutup Sementara Jalur Bambor–Werang Pascalongsor

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.