Oleh: Yanuar Abdillah Setiadi
Pak, sebelumnya saya pernah melihat sampeyan sedang duduk di halaman belakang rumah bercakap-cakap dengan telepon genggam
menunggu pesan dari seberang
bersandar pada pohon sawo yang rindang
diselimuti cemas istrimu.
Tiba-tiba, saya teringat dengan sajak Joko Pinurbo “Ayah sedang berduaan dengan
telepon genggam di bawah pohon sawo
di belakang rumah. Ibu yang membelikan Ayah
telepon genggam sebab Ibu tak tahan
melihat kekasihnya kesepian”
Pak, itukah kau?
Kesepian macam apa yang hinggap di hidupmu
Apakah anakmu ditelah modernitas?
Dan, pesan tak kunjung datang
Bapak tetap berbual-bual dengan telepon
yang sedari tadi berbahasa bisu.
Dari seberang Ibu berbicara dengan lantang,
“Masya Allah, anak kita sudah pulang, Pak!”
Barangkali, obat sakitnya bapak adalah sakit itu sendiri.
Purbalingga, 2025
Guru Bahasa Indonesia yang Baik
Guru bahasa yang berbaju cemas itu
Mengajak anak didiknya untuk pesiar ke Pulau Puisi.
Ibu, aku sudah siapkan kapal dari kertas
yang akan mengantarkanku pada kediaman
penyair idolaku di Pulau Puisi. Celoteh seorang
murid yang sedang menekuk kertas.
Ibu, pena saya sudah sedia.
Saya siap mengail kata-kata
di perjalanan menuju Pulau Puisi.
Hasil kailan itu, akan saya persembahkan
untuk penyair kesayangan saya. Suara murid
lain semakin girang.
Barang siapa yang bisa membuat penyair senang,
maka akan ibu beri nilai sempurna!
Dan mereka pun berangkat dengan riang.
Sedangkan ibu guru yang baik itu tetap
berbaju cemas dan berselimut duka.
Tiba di Pulau Puisi, anak-anak saling berteriak
Akan aku suguh si penyair dengan kata-kata yang
barusan aku pancing!
Yang lain tidak mau kalah,
Akan aku ajak dia jalan-jalan dengan perahu
andalanku ini.
Seorang laki-laki keluar dari sebuah rumah
di Pulau Puisi.
Maaf anak-anak,
penyair kesayanganmu tidak ada di sini
Istriku sudah sekian lama tidak pulang
Aku rasa dia telah dibunuh waktu
Jasadnya dimakamkan di dalam anganku
Dan arwahnya sering gentayangan ke mimpiku
Sewaktu masih muda, ia pamit kepadaku
Katanya, ia ingin menjadi seorang Guru
Bahasa Indonesia yang baik.
Ia ingin bertemu dengan anak-anak yang imajinatif.
Anak-anak yang bisa berlayar ke sebuah pulau
dengan selembar kertas yang dilipat sendiri.
Selain itu, ia juga ingin mengasuh anak-anak
dengan imajinasi yang liar.
Anak-anak yang bisa mengail kata-kata
dengan pena yang ada di tangan kananya.
Anak-anak pun terperangah.
Dan, ingatan ibu guru pun gentayangan ke masa lalu
Sewaktu masih muda, ia pamit kepada suaminya
Sebelum pergi,
Sebelum akhirnya kembali.
Purbalingga, 2025
Puisi Telah Lulus Studi : Untuk PDA
Pagi yang ceria, puisi mengakhiri studinya
Ia ucapkan terima kasih pada hujan
yang telah menyamarkan sedihnya
tatkala merindu ayah, ibu dan kakanya
di kampung halaman.
Ia sungkem pada malam karena
telah mengasuh mata
kantuknya setelah sekian lama
merampungkan tugas akhir.
Tidak lupa, ia ucapkan salam takzim
pada kopi yang telah menggetarkan
detak jantungnya
sebagai tanda bahwa ia masih hidup.
Puisi telah lulus studi
Ia pun akan berlabuh di hati pujangga
Sebelum akhirnya melahirkan
Puisi-puisi baru
yang suci.
Purbalingga, 2025
Tukang Becak
Di pinggir kota
Seorang tukang becak bermandikan peluh
Matahari membakar rambutnya dengan cahaya yang kemilau
Datanglah seorang laki-laki yang hitam,
hitam rambutnya, hitam bajunya dan hitam hidupnya
Pak, tolong antarkan saya ke kampung halaman.
Saya ingin mengubur mimpi saya di belakang halaman rumah.
Tempat dimana saya menulis puisi untuk pertama kali.
Becak pun melaju menyusuri kota, menyusuri desa
dan menyusuri lorong waktu yang begitu panjang
namun entah mengapa begitu lengang.
Di tengah perjalan, pemuda tersebut merasa tidak nyaman
Di tengah jalan, Tukang Becak menghentikan laju becaknya
“Hai, anak muda! Engkau saya rampok!” bentak Tukang Becak.
“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi, Pak.
Semua yang saya punya sudah dibunuh kota.
Mimpi, cita, impian, angan, harapan dan semangat
sudah tewas semua.”
“Baiklah, Anak Muda. Kalau begitu, mari
kita kuburkan mimpi dengan layak
sebagai bentuk penghormatan terakhir.”
Sang Pemuda pun dibuat bingung
oleh tingkah Tukang Becak.
Becak terus melaju ke kampung halamannya
Dan, langit pun meneteskan air mata
melihat adegan dramatis tersebut.
Purbalingga, 2025
Ranjang
Hariku sudah amat buruk
Jangan kau siksa punggungku dengan encokmu.
Hari ini aku diputusin mimpi
Padahal, aku sudah cinta mati padanya
Aku kira, dia mencintaiku
Ternyata dia lebih cinta putus asa ketimbang aku
Belum lagi dengkulku yang lugu
Harus lari dengan sigap
Karena dikejar deadline
Lari ke sana-kemari pun tetap nihil
Di jalan pulang,
Tubuhku ditabrak angin
Akibatnya, ia merasukiku
Perut pun kembung lantaran masuk angin
Belum lagi punggungku
yang kian payah
menggung beban tak kasat mata,
ekspektasi orang tua dan
harapan akan masa depan.
Ranjangku, bersabatlah denganku.
Aku mohon.
Purbalingga, 2025
Yanuar Abdillah Setiadi. Lahir di Purbalingga, 01 Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media di antaranya; mojok.co, maarifnujateng.or.id, Majalah An-Nuqtoh, litera.co.id, tajdid.id, mbludus.com, ruangjaga.com, sukusastra.com, gokenje.my.id, dan geger.id. Kontributor “Covid-19 Pandemi Dunia” (2020), “Lintang 3” (2020), dan “Di Ujung Tanjung” (2020). Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

