Oleh: Rm. Inosensius Sutam
Pekan IV, Masa Biasa Tahun A; Minggu, 1 Februari 2026, Zef. 2:3; 3:12-13; Mzm 146:7.8-9bc-10; Ul:Mat 5:3; 1Kor 1:26-31; Mat 5:1-12a
1
Dalam hidup ini, yang dicari adalah sukacita, kegembiraan, dan kebahagiaan. Semua bacaan hari ini, berbicara secara langsung tentang kebahagiaan manusia. Apa dan siapa yang menjadi sumber kebahagiaan? Bagaimana memperolehnya?
2
Semua bacaan hari ini memposisikan manusia yang dipanggal Allah dan mencari kebagiaan dalam posisi yang lemah. Dalam bacaan pertama, orang dipanggil Allah digambarkan ibarat domba. Dalam bacaan kedua, orang yang dipanggil Allah digambarkan sebagai orang bodoh, lemah, dan hina. Dalam bacaan Injil, orang yang terpilih oleh Allah digambarkan sebagai orang miskin, orang yang berdukacita, lapar, haus, dst.
3
Sabda Tuhan pada hari ini memperlihatkan bagaimana Allah membalikkan posisi yang lemah ini. Dalam bacaan pertama. Roh Tuhan menanungi umatNya, sehingga mereka mampu mencari Tuhan. Mencari keadilan dan kerendahan hati. Dengan itu, mereka terhindar dari kemarahan Tuhan, dan memperoleh kebahagiaan.
4
Dalam bacaan kedua, Allah memilih orang bodoh menjadi berhikmat, orang lemah menjadi kuat, orang hina menjadi terpandang. Hikmat dan kebijaksanaan Allah mengubah manusia. Allah membenarkan, menguduskan, dan menebus manusia. Di situ manusia merasa bahagia.
5
Dalam bacaan Injil, kita mendengar delapan Sabda Bahagia. Kualitas untuk memperoleh kebahagiaan adalah miskin di hadapan Allah, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, pembawa damai, dan dianiaya karena kebenaran.
6
Apa pesan bacaan pada hari ini terkait kebahagiaan?
Pertama, kebahagiaan citra, identitas, dan harta milik manusia. Artinya kebahagiaan adalah anugerah Allah sejak manusia ada, dan sejak setiap orang lahir. Sejauh manusia ada, ia ada dalam dan untuk kebahagiaan. Karena itu kebahagiaan ada dalam kedalaman hati, jiwa, dan roh manusia. Masuklah dalam hati, jiwa, dan rohmu. Itulah gunanya refleksi, meditasi, dan doa. Carilah Allah. Kebahagiaan terutama tidak berada di luar, tetapi di dalam dirimu sendiri.
7
Kedua, kebahagiaan tidak sama dengan kesenangan yang sering bertahta dalam harta, kuasa, seks, popularitas, dan legasi historis, kultural. Standar-standar yang ditetapkan secara sosio-kultural: Anda harus mmeiliki ini dan itu, Anda harus melakukan ini dan itu, maka Anda bahagia, justru sering menghilangkan kebahagiaan Anda. Kebahagiaan itu sederhana berada bersama sesame dan alam apa adanya. Dalam keaslian dirimu sendiri. Kebahagiaan bukan drama dan komedi yang menimbulkan kesan wah dari orang lain.
8
Ketiga, kebahagiaan itu anugerah Allah, dia membuat kita aman, nyaman, dan bergembira dalam diri kita apa adanya. Maka dekatlah dengan Tuhan. Carilah Dia. Bukan karena Tuhan jauh dan hilang. Tetapi karena lapisan standar manusiawi yang tertanam dalam diri kita sering menjauhkan kita dari Allah dan kebahagiaan. Ubahlah cara Anda memandang dunia. Keluarkan semua lapisan dan balutan tentang bahagia palsu kita. Maka Anda akan dekat kembali dengan Allah dan kebahagiaan.
9
Keempat, kebahagiaan itu selalu adil dan seimbang. Anda bahagia sesama juga bahagia. Alam bahagia. Anda tidak boleh membangunkan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain dan di atas kerusakan alam. Kebahagiaanku adalah kegembiraan sesamaku. Kebahagiaanku adalah keasrian alam. Semakin aku bahagia semakin yang lain gembira. Semakin mereka gembira semakin aku bahagia. Kebahagiaan bukan seberapa banyak yang Anda miliki, tapi seberapa banyak Anda memberi. Bukan seberapa kuat Anda, tapi seberapa besar tenaga Anda menguatkan yang lain. Bukan seberapa pintar Anda, tetapi seberapa banyak Anda mencerdaskan yang lain. Itu mungkin kebodohan dan kelemahanmu tetapi hikmat dan kekuatan di mata Allah

