Oleh: Anselmus DW Atasoge
Staf Pengajar Stipar Ende
Panitia Tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro bersiap meluncurkan buku kenangan episkopal sebagai penanda fajar baru kepemimpinan di Keuskupan Larantuka.
Karya bertajuk Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes ini merupakan kristalisasi visi teologis, jejak panggilan, dan bentangan harapan sang gembala.
Peluncurannya dijadwalkan pada 8 Februari 2026 di Gereja Katedral Reinha Rosari, menjadi momen reflektif bagi umat untuk menyimak narasi rohani yang mengikat komunitas dalam kesatuan tubuh dan roh.
Lembaran buku ini menelusuri riwayat hidup Mgr. Hans, mulai dari kesederhanaan masa kecil di tanah nagi hingga ketekunan akademik di Universitas Wina, Austria.
Melalui kacamata para kolega, terlukis sosok yang menemukan kekuatan rohani di balik kerapuhan fisik, bagaikan “bejana tanah liat” yang ditempa kasih karunia.
Pengalaman internasionalnya membangun persatuan di tengah kemajemukan menjadi akar kokoh bagi moto kegembalaan beliau, mencerminkan ketangguhan seorang “Wina sejati” yang tetap membumi pada tradisi leluhur.
Cakrawala pemikiran dalam buku ini turut membedah kesinambungan pastoral antara kepemimpinan terdahulu dengan tantangan zaman.
Isu-isu krusial seperti penguatan Komunitas Basis Gerejani (KBG), perlindungan martabat pekerja migran, hingga urgensi ekologi integral dirajut dalam bingkai teologis yang utuh.
Setiap artikel menegaskan bahwa kehadiran Gereja melampaui urusan administratif; ia adalah ruang hidup bagi iman yang inklusif dan kreatif demi kesejahteraan sesama.
Secara yuridis dan biblis, karya ini memposisikan otoritas uskup sebagai pelayanan murni demi keselamatan jiwa.
Kepemimpinan Mgr. Hans dipandang sebagai ziarah iman yang menjembatani misteri liturgi dengan realitas sosial yang konkret.
Perpaduan antara kecemerlangan intelektual dan kehangatan kemanusiaan beliau menjadi kompas bagi para imam muda dan seluruh umat dalam menapaki jalan sinodalitas yang partisipatif.
Buku ini merupakan mosaik narasi yang merekam perjalanan seorang anak nagi yang ditempa dalam kesederhanaan doa dan solidaritas keluarga, hingga akhirnya dipanggil menjadi gembala dengan visi kesatuan yang utuh.
RD. Anselmus Wedo Liwun dan Ben deRosari membuka catatan ini dengan menelusuri riwayat masa kecil Hans Monteiro, di mana liturgi dan doa keluarga menjadi ruang tempat keberanian rohani tumbuh di tengah keterbatasan fisik.
Perjalanan panggilan ini didalami oleh RD. Anthonius Londa Diaz Tonggo yang melukiskan transformasi sang uskup laksana “bejana tanah liat” yang menjadi tangguh berkat kasih karunia Allah, menjadikannya simbol kekuatan dalam kelemahan yang mempersatukan umat.
Visi kepemimpinan ini disambut dengan sukacita oleh RD. Alfonsus Payong Wungubelen sebagai karya Allah yang menghadirkan harapan bagi Gereja yang inklusif, serta RD. Martinus Kapitan Sogen yang memaknainya sebagai tanda keteguhan iman bagi komunitas Sesado pasca-erupsi Lewotobi.
Kenangan di tanah rantau Austria turut memperkaya karakter sang gembala, sebagaimana dicatat oleh RD. Laurentius Y. Rota dan RD. Petrus Bine Saramae.
Pengalaman intelektual dan pelayanan di Wina menjadi akar kuat bagi kerendahan hati beliau dalam menjembatani keragaman budaya, sebuah kualitas esensial bagi seorang pemimpin yang tidak pernah menyerah pada tantangan zaman.
Dimensi pastoral dan teologis dalam buku ini berakar kuat pada realitas umat di Keuskupan Larantuka.
RD. Yoseph da Silva dan RD. Bernardus Belawa Wara menyoroti pentingnya KBG dan keluarga sebagai fondasi kesatuan iman, sementara Tim Sekpas Keuskupan Larantuka membawa visi tersebut ke ranah praktis melalui advokasi pekerja migran.
Semangat ini dipertautkan dengan hidup bakti dan lingkungan oleh Sr. Maria Luciani, PRR dan Sr. Hermania Bhoki, CIJ, yang menegaskan bahwa moto Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes harus mewujud dalam kesederhanaan pelayanan serta kesadaran akan ekologi integral demi masa depan yang berkelanjutan.
Hakikat kepemimpinan episkopal dibedah secara mendalam oleh RP. Puplius M. Buru dan P. Leo Kleden, SVD sebagai pelayanan murni yang meneladani Yesus sang Gembala Baik.
Kesatuan dalam keberagaman ini dirawat melalui dialog dan solidaritas sebagaimana diulas RD. Guidelbertus Tanga, serta keteguhan iman laksana Musa yang dipaparkan oleh RD. Paulus Pati Lewar.
Seluruh ziarah pelayanan ini berpusat pada Ekaristi menurut RD. Albertus Dedon, dan dalam tinjauan yuridis RD. Philip Ola Daen, ditegaskan bahwa otoritas seorang uskup sepenuhnya adalah pelayanan demi keselamatan jiwa-jiwa.
Sebagai puncak refleksi, RP. Otto Gusti Nd. Madung dan Melkior Koli Baran mendorong lahirnya Gereja transformatif yang hadir secara nyata di medan sosial.
Harapan bagi regenerasi pelayan Gereja dititipkan oleh Fr. Alfonsius Hada Boruk, sedangkan RD. Inno Koten bersama Anselmus DW Atasoge menekankan pentingnya integrasi iman dengan sastra dan budaya lokal.
Perpaduan pemikiran ini memastikan bahwa kepemimpinan baru di Keuskupan Larantuka akan mampu menjembatani tradisi dan modernitas secara profetis, menjadikan Gereja sebagai agen perubahan yang relevan bagi masyarakat di Flores Timur dan Lembata.
Sebagai sebuah ‘kairos’, buku ini mengajak seluruh Keuskupan Larantuka menyongsong masa depan dengan optimisme yang transformatif.
Kesatuan yang diusung dalam moto ‘Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes’ adalah daya penggerak bagi Gereja untuk tetap relevan sebagai agen perubahan.
Inilah warisan literasi yang mengajak kita percaya bahwa dalam satu tubuh dan satu roh, pengharapan akan Kerajaan Allah akan selalu menemukan jalan untuk mewujud di bumi Flores Timur dan Lembata.

