Borong, VoxNTT.com – Masalah irigasi rupanya tidak hanya terjadi di Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, tetapi juga terjadi di Kelurahan Nanga Baras, Kecamatan Sambi Rampas. Sejumlah petani di wilayah itu kini menjerit akibat persoalan irigasi yang tak kunjung teratasi.
Jika di Pota dipengaruhi oleh proyek irigasi yang tak kunjung selesai dikerjakan, di Nanga Baras dipengaruhi oleh buruknya sistem irigasi, terutama pada sistem pengaturan dan distribusi air.
Pembagian air yang dinilai tidak merata membuat lahan pertanian, khususnya di wilayah barat Nanga Baras, tak lagi digarap selama tiga tahun terakhir.
Ketua Kelompok Tani Lewang Puji, Ishaka Abd Manan mengaku, sejak tahun 2023 hingga awal 2026 para petani di wilayah tersebut terus mengalami gagal tanam.
Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, lahan persawahan Nanga Baras bagian barat nyaris tidak digarap.
“Kalaupun dipaksakan untuk ditanami, potensi gagal panen selalu menghantui petani karena terkendala ketersediaan air,” kata Ishaka, Senin, 2 Februari 2026.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada menurunnya debit air, melainkan buruknya sistem pengaturan dan distribusi air irigasi.
“Masalah air ini terjadi bukan hanya saat musim kemarau, tetapi juga di musim hujan. Ini bukan karena debit air menurun, melainkan karena manajemen pengaturan air yang amburadul,” ungkapnya.
Ia menilai, lemahnya pengelolaan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) serta minimnya fungsi pengawasan dari pemerintah setempat turut memperparah kondisi tersebut.
“Pengurus P3A yang sudah terbentuk terkesan tidak maksimal menjalankan tugasnya, dan pemerintah kelurahan juga kurang melakukan kontrol,” jelas Ishaka.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sistem irigasi Nanga Baras bersumber dari Kali Wae Wera dan telah dibangun menggunakan anggaran miliaran rupiah, baik dari APBN maupun APBD.
Namun, investasi besar tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi keberlangsungan aktivitas pertanian warga.
Kondisi nyaris serupa terjadi di Pota, yakni terlambatnya progres pengerjaan proyek irigasi senilai Rp102 miliar.
Keterlambatan tersebut berdampak langsung pada aktivitas pertanian warga. Sejumlah petani mengeluhkan berkurangnya suplai air irigasi sehingga mengganggu masa persemaian dan pengolahan sawah.
Penulis: Berto Davids

