Oleh: Anselmus DW Atasoge
Staf Pengajar Stipar Ende
Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur sejak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki menjadi salah satu lokasi yang diperbincangkan di jagad media.
Pada 3 Februari 2026, desa ini menghadirkan sebuah kisah unik dalam rangkaian acara penjemputan Mgr. Yohanes Hans Monteiro.
Ia menjadi gerbang masuk dari arah barat Flores ke wilayah Keuskupan Larantuka.
Kehadiran dan ritual penerimaan Mgr. Yohanes Hans Monteiro di pusat Kecamatan Wulanggitang ini menjadi sebuah kisah unik dalam seluruh rangkaian seremoni gerejani pentahbisan Mgr. Hans.
Melalui kacamata sosiologis, momen penjemputan ini merupakan manifestasi nyata dari inkulturasi yang telah lama mengakar di tanah Flores Timur.
Di sana, batas antara identitas agama dan adat melebur dalam sebuah ‘perayaan kolektif’ yang sarat makna.
Pemandangan Mgr. Yohanes Hans Monteiro yang mengenakan mitra uskup berpadu dengan tenunan khas daerah menjadi pusat perhatian dalam peristiwa ini.
Secara sosiologis, fenomena ini adalah bentuk pengakuan ‘timbal balik’ antara institusi Gereja dan entitas budaya lokal.
Di titik ini, Gereja tidak hadir sebagai institusi asing, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari struktur sosial masyarakat.
Penggunaan atribut adat oleh seorang pemimpin tinggi Gereja menunjukkan bahwa ‘otoritas spiritual’ kini bersinergi dengan ‘kearifan lokal’ untuk menciptakan rasa memiliki yang kuat di kalangan umat.
Antusiasme massa yang tumpah ruah di jalanan Boru mencerminkan adanya solidaritas mekanik yang masih sangat kental, di mana ikatan sosial dibangun atas dasar ‘kesadaran kolektif dan kesamaan nilai’.
Fenomena ini selaras dengan pemikiran Émile Durkheim mengenai ‘collective effervescence’ atau kegairahan kolektif, yaitu momen ketika sebuah kelompok masyarakat berkumpul dalam satu ritual yang sama sehingga menciptakan energi emosional yang melampaui batas-batas individu.
Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh adat dengan atribut kebesarannya hingga anak-anak sekolah yang berbaris rapi dalam seragam merah-putih, menunjukkan bahwa ritual penjemputan Mgr. Yohanes Hans Monteiro berfungsi sebagai ‘perekat sosial’ yang fundamental.
Dalam ruang publik tersebut, ‘identitas personal melebur ke dalam identitas kelompok’. Leburan ini menegaskan bahwa keberadaan masyarakat Wulanggitang didefinisikan oleh kebersamaan mereka dalam menjunjung tinggi simbol spiritual dan budaya.
Integrasi sosial yang terjadi di Boru memperlihatkan bagaimana perbedaan status ekonomi atau latar belakang pendidikan seolah sirna dalam satu tarikan napas tradisi.
Durkheim berpendapat bahwa ritual semacam ini sangat penting karena ia membangkitkan kembali rasa suci dan memperbaharui komitmen moral masyarakat terhadap norma-norma yang mereka yakini bersama.
Perasaan kesatuan identitas sebagai komunitas yang religius sekaligus berbudaya ini menciptakan tatanan sosial yang stabil.
Di dalamnya, setiap individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dari sudut pandang ini, kisah penjemputan sebuah mekanisme pemeliharaan struktur sosial yang memastikan nilai-nilai Lamaholot dan iman Katolik tetap hidup dan diwariskan secara organik kepada generasi muda yang hadir di sana.
Satu aspek menarik dalam peristiwa ini adalah bagaimana modernitas ‘menyusup’ melalui lensa kamera ponsel yang diangkat tinggi-tinggi oleh warga.
Fenomena ini menandakan bahwa masyarakat Wulanggitang berada dalam fase transisi yang dinamis.
Di tengah ketaatan pada tradisi penjemputan yang tradisional, mereka tetap menjadi bagian dari masyarakat informasi global.
Dokumentasi digital yang dilakukan warga secara massal merupakan cara mereka mengonstruksi realitas sosial dan membagikan ‘kebanggaan identitas’ mereka ke ruang publik yang lebih luas.
Kontras visual antara kemegahan ritual di tengah kesederhanaan kondisi wilayah Boru yang porak-poranda karena erupsi Lewotobi memberikan gambaran tentang ketahanan sosial masyarakat lokal.
Meskipun berada jauh dari pusat metropolis, masyarakat dan umat di wilayah Boru menunjukkan kemandirian budaya yang luar biasa dalam menjemput pemimpinnya.
Hal ini membuktikan bahwa ‘pusat gravitasi sosial dan spiritual’ tidak selalu ditentukan oleh kemajuan infrastruktur, melainkan oleh kedalaman nilai yang dihayati bersama.
Peristiwa di tanah Wulanggitang ini menitipkan refleksi mendalam bagi sanubari kita, di mana Mgr. Yohanes Hans Monteiro melangkah bukan sebagai penguasa yang berjarak dari ‘akar buminya’, melainkan bagai seorang putra sulung yang pulang ‘memeluk rahim rumah budayanya’.
Penjemputan di Boru menjadi saksi bisu betapa indahnya saat ‘jubah iman dan tenun tradisi’ saling melilit dalam dekapan mesra, melahirkan simfoni harmoni yang mengalirkan ketenangan sekaligus mengobarkan nyala kebanggaan di wajah masyarakat yang merayakannya.

