Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Rindu YBS Terkandas di Ujung Ranting Cengkih
Gagasan

Rindu YBS Terkandas di Ujung Ranting Cengkih

By Redaksi5 Februari 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yohanes Mau
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Yohanes Mau

Tinggal di Padang Ilalang, Tanah Marapu

Dusun Sawasina, Ngada, Nusa Tenggara Timur, sekali-kali bukanlah yang terkecil tetapi menjadi besar karena viral dalam waktu sekejab.

Namanya terpampang di dinding media-media sosial, digital, cetak dan elektronik.

Di sanalah, YBS bocah kecil dibiarkan meninggal dunia karena kerasnya kehidupan ekonomi di dalam keluarga.

Ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan buku dan alat tulis sebagai sarana utama dalam dunia pendidikannya di Sekolah Dasar.

Tragedi pilu ini tertulis di halaman Kompas.id, Kamis, 29 Januari 2026, seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri.

Mengutip Kompas.id, korban ditemukan tergantung menggunakan seutas tali pada dahan pohon cengkih. Sebelum kepergiannya, korban diduga menuliskan sepucuk surat kepada sang ibu yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Usai membaca berita itu, saya mencoba menganalisa realitas suram wajah Indonesia hari ini. Rupanya nilai- nilai sosial kemanusiaan masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggal YBS, belum membumi.

Artinya hati manusia tidak tergerak oleh rasa belas kasihan terhadap realitas kehidupan ekonomi keluarga tersebut.

Masyarakat sekitar hanyut dalam rutinitas hariannya masing- masing dengan segala targetnya.

Manusia membiarkan hati tertutup rapat oleh sikap egoisme yang memenjarakan, bahkan membiarkan kehidupan itu mati tanpa ada niat untuk menyelamatkannya.

Rindunya untuk menggapai masa depan terkandas di ranting cengkeh menjadi pukulan keras bagi negara untuk peduli secara holistik dan kontekstual.

YBS tidak memiliki alat tulis untuk berjalan menggapai masa depannya. Padahal pemerintah sedang getol mengenyangkan perut anak sekolah seluruh Indonesia melalui Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tetapi lupa menyediakan sarana vital yang dibutuhkan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di dalam kelas.

Alat tulis dan buku adalah sarana untuk menulis, merangkai kata dan angka menjadi cerita bermakna dalam sejarah hidup seorang anak manusia.

Para guru, keluarga, masyarakat sekitar, tokoh agama, dan pemerintah membiarkan YBS berjalan sendirian dalam kekosongan di Sekolah tersebut, dan pergi pun dengan tangan hampa. Betapa tega dan gelapnya hati manusia dunia hari ini.

Membiarkan YBS menghembuskan napasnya di ujung dahan cengkih.

Mengutip keresahan Rocky Gerung, peristiwa ini sebagai “alarm keras” bagi pemerintah pusat dan daerah bahwa keadilan sosial belum terwujud, terutama bagi masyarakat di pelosok.”

Akankah alarm keras ini menyadarkan pemerintah pusat dan daerah untuk bertindak berkeadilan sosial secara merata? Kita lihat saja akan seperti apakah realitas selanjutnya.

Tragedi ini memberi catatan kritis bagi semua elemen: Pertama, Keluarga. Keluarga sebagai pendidikan pertama, harus menjadi fondasi kuat. Artinya rahmat kehidupan yang Tuhan titipkan di dalam keluarga mesti dijaga, dirawat, dan diperhatikan pendidikannya untuk menjadi manusia yang baik di masa mendatang.

Tugas utama ini tidak boleh dipandang sepele oleh keluarga tetapi harus menjadi tanggungjawab utama di dalam rotasi hidup berkeluarga.

Kedua, Tokoh Agama. Tokoh agama hadir di tengah masyarakat untuk membimbing, dan menuntun manusia kepada kehidupan yang lebih baik, mulia, dan bermartabat.

Artinya kehadiran tokoh agama sebagai terang yang memberikan cahaya di tengah gelap dunia hari ini yang enggan berlalu, dan tokoh agama juga tampil menjadi perban sejuk cinta untuk membalut aneka luka borok dunia sekitar.

Tragedi pilu YBS adalah gagalnya tokoh agama dalam memainkan perannya secara holistik. Maka sekarang adalah saatnya tokoh agama mulai bangun dari tidur panjang dan melakukan pastoral keluarga secara kontekstual.

Ketiga, Lingkungan Masyarakat. Masyarakat itu tempat bertumbuh dan berseminya nilai-nilai kebajikan.

Namun dilihat dari tragedi ini, lingkungan masyarakat tempat tinggal YBS belum membiarkan nilai-nilai itu berakar dan membumi.

Artinya masyarakat belum mampu melihat sesama yang menderita menjadi bagian dari dirinya sebagai aku yang lain yang sedang menderita dan menjerit minta tolong. Suara YBS dibiarkan lenyap bersama sunyinya semesta.

Lingkungan masyarakat seharusnya menjadi wadah yang sejuk bagi pertumbuhan dan perkembangan nilai-nilai kebajikan. Bukan membiarkan yang miskin hidupnya merana, berjalan tanpa arah.

Keempat, Pemerintah. Pemerintah ada di takhta kekuasaan karena dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun sayangnya, pemerintah hari ini belum sadar secara penuh akan perannya yang vital itu.

Maka hendaknya pemerintah jangan tidur lelap di atas takhta kekuasaan yang diberikan oleh rakyat, tetapi meleburlah dalam realitas masyarakat kecil hari ini dan rasakan betapa pedinya setiap luka dan sakitnya.

Jangan membiarkan rakyat kecil berjalan sendirian dalam sunyi kesulitan ekonomi hidup tetapi teruslah berjalan bersama untuk memblokir yang berat jadi ringan, dan memberikan kelegahan bagi yang berbeban berat dalam menapaki realitas hidup ini.

Kisah pilu YBS membangunkan kita dari tidur panjang, untuk membuka mata, dan hati agar melihat dan mencintai hidup ini dengan hati yang penuh belaskasih dan lebih berkualitas dari ceceran kisah-kisah suram yang telah lalu.

Yohanes Mau
Previous ArticleRevisi KUHAP dan Martabat Manusia: Membaca Hukum Progresif Satjipto Rahardjo
Next Article Mantan Caleg Lolos PPPK Paruh Waktu di Manggarai, BKPSDMD Klaim Data dari BKN

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.