Bajawa, VoxNTT.com – Bupati Ngada, Raymundus Bena mengungkapkan penyebab kematian YBS (10), siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang meninggal dunia secara tidak wajar pada Kamis, 29 Januari 2026 lalu.
Raymundus mengaku dirinya telah melakukan koordinasi dengan kepala desa di wilayah tempat korban tinggal.
Dari hasil koordinasi itu, diperoleh informasi mengenai faktor yang diduga kuat menjadi pemicu hingga korban nekat mengakhiri hidup dengan cara tak wajar.
“Ketika kejadian itu, saya mendapat informasi pada hari Sabtu. Hari Minggunya saya terbang ke Jakarta. Sebelum berangkat, saya telepon Pak Sekda dan meminta agar turun langsung menggali informasi sebanyak-banyaknya,” ujar Bupati Raymundus di sela peresmian Rumah Sakit Pratama Riung pada Jumat, 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan, Sekretaris Daerah Ngada selaku ketua tim investigasi diminta untuk menemui berbagai pihak, antara lain kepala sekolah korban, orangtua korban, ketua komite sekolah, kepala desa setempat, serta sejumlah tokoh masyarakat guna menghimpun informasi secara menyeluruh.
Hasil penggalian informasi yang dipimpin oleh Sekda Ngada tersebut kemudian menjadi dasar bagi Bupati Raymundus untuk menyampaikan keterangan kepada publik.
Menurut dia, sejak peristiwa itu terjadi, banyak pihak menghubunginya untuk menanyakan kebenaran informasi terkait penyebab kematian YBS.
“Untuk penyebabnya, jangan marah kalau saya belum bisa menyampaikan secara langsung, karena itu agak teknis dan ada orang khusus,” ujarnya.
Namun demikian, berdasarkan hasil komunikasi terakhir dengan kepala desa setempat, Bupati Raymundus menyebut telah menemukan jawaban terkait peristiwa tersebut.
“Kemarin saya tanya Kepala desanya, apakah sudah ditemukan jawabannya. Kades menjawab, sudah, Bapak. Saya tanya, apa jawabannya? Kades bilang, Om-nya (paman korban) merantau ke Kalimantan, meninggal secara tidak wajar dan lupa dibuatkan acara,” kata Bupati Raymundus.
Ia menjelaskan, paman korban meninggal dunia di Kalimantan akibat tersambar petir. Namun, kematian tersebut tidak diikuti dengan pelaksanaan ritual adat yang wajib dilakukan dalam komunitas adat etnis budaya Ngadhu Bhaga di Kabupaten Ngada.
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Ngada dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Yosef Filius David Jawa atau yang akrab disapa Jois Jawa, mengingatkan semua pihak agar tidak mencari kambing hitam atas kematian bocah tersebut.
“Kita tidak boleh mencari siapa yang salah. Kalau kita mencari siapa yang salah, berarti kita menghindar dari tanggung jawab kita,” ujar Jois.
Menurutnya, kasus bunuh diri di Kabupaten Ngada sudah berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), angka kasus bunuh diri di Ngada tergolong tinggi, bahkan sangat tinggi.
Seminggu sebelum bocah SD berusia 10 tahun tewas, kasus serupa juga terjadi di Bobou, Kecamatan Bajawa.
“Tiga atau empat tahun lalu, dalam satu desa di salah satu kecamatan di Bajawa, kasus seperti ini pernah terjadi. Ini sangat tinggi,” katanya.
Jois juga menyinggung hasil pernyataan pers bersama Pemerintah Kabupaten Ngada dan unsur Forkopimda pada Kamis malam, 5 Februari 2026.
Ia meminta agar pemberitaan terkait kematian bocah SD berusia 10 tahun tersebut disajikan secara berimbang dan tidak semata-mata berfokus pada pencarian kesalahan.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

