Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur
Ketika melakukan (KKN) internasional di perbatasan Indonesia-Timor Leste, lebih tepatnya di daerah Seroja, saya mendapatkan pengalaman dan ilmu menarik melalui cerita dari orang-orang tua di sana.
Bapa Nadus adalah orang tua di tempat saya tinggal, menjelaskan kepada saya tentang keprihatinannya kepada orang-orang muda sekarang yang sangat skeptis terhadap cerita budaya yang ada di kalangan masyarakat Timor.
Beliau berkata, “Timor dulu lautan,” hidup jauh sebelum peta dan kurikulum menetapkannya sebagai benar atau salah.
Ia bukan sekadar laporan ilmiah, melainkan ingatan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ingatan kultural secamam ini sering dipaksa masuk ke ruang sidang yang bernama “rasionalitas.”
Ketika ia tidak mampu menunjukan data, ia dihukum sebagai “mitos.” Di situlah kekerasan epistemik bekerja, bukan dengan melarang, tetapi dengan merendahkan.
Dari pengalaman indah tersebut yang masih segar dalam ingatan, saya kemudian berusaha mencari jawaban dari beberapa literatur yang ada.
Saya menemukan sebuah jurnal berjudul (Perbatasan Negara Dalam Perspektif Sosial: Studi Perbatasan RI-Timor Leste), yang ditulis oleh Cahyo Pamungkas, seorang peneliti pada lembaga ilmu pengtahuan Indonesia (LIPI).
Dalam ulasannya dikatakan, Tradisi lisan yang sering disampaikan oleh penutur adat, Mako’an, menyatakan bahwa (Pulau Timor pada masa lalu berada di bawah air laut).
Kemudian munculah puncak yang bersinar terang disebut dengan Fo’in Nu’u Manu Matan, Foin Nu’u Bua Klau.
Foin Nu’u Etu Kumun, Foin Nu’u Murak Husar (Baru seperti biji mata ayam, Baru seperti potongan sebelah buah pinang, Baru sebesar gumpalan nasi di tangan, Baru sebesar pusar mata uang).
Puncak tersebut kemudian menjadi (Gunung Lakaan). Manusia pertama Belu diyakini tinggal di puncak Lakaan, seorang putri bernama Lako Koro Kmesak, yakni putri yang tidak berasal usul.
Ia menikah dengan Manu Aman Lakaan Na’in, yang berarti tuan dari Puncak Gunung Lakaan. Pasangan ini diyakini orang Belu melahirkan suku-suku masyarakat adat yang kini menempati Tanah Belu, Timor Leste, Dawan, Rote, Sabu, Larantuka atau Lamaholot di Pulau Flores bagi Timur.
Ingatan Budaya Sebagai Fragmen Sejarah yang Rapuh
Memori kolektif budaya Timor tidak pernah dimaksudkan menjadi sejarah resmi. Ia hidup dalam cerita, simbol, dan tutur atau bahasa lisan.
Ketika orang Timor berkata bahwa “tanah ini dulu lautan,” yang mereka ingat bukan detail geologis, melainkan pengalaman kolektif kultural tentang perubahan, ketidakpastian, dan keterbatasan manusia di hadapan alam ciptaan.
Ingatan di atas bersifat fragmatis atau terpecah-pecah, tidak sistematis, dan justru karena itu mudah hilang.
Namun, di dalam fragmen-fragmen inilah tersimpan secara rapih kesadaran etis, bahwa tanah tidak kekal, bahwa daratan bisa hadir dan bisa tenggelam, dan bahwa manusia hidup di atas sesuatu yang pernah serta bisa kembali menjadi lain.
Problem yang ada, fragmen selalu menjadi tamu yang tidak diundang dalam sejarah resmi. Ia sering dicurigai mengganggu “kerapian narasi besar” yang menuntut keteraturan, kesinambungan, dan hasil yang terukur.
Fragmen dinilai tidak produktif karena tidak bisa segera diterjemahkan menjadi angka, kebijakan, atau suatu proyek.
Ia tidak menawarkan kepastain, hanya “peringatan.” Ia disingkirkan, bukan karena keliru atau tidak bermakna, melainkan karena “tidak efisien bagi logika kemajuan” yang lebih mencintai kecepatan instan dan temporal daripada “kebijaksanaan.”
Kebijaksanaan yang diwariskan oleh cerita-cerita adat turun-temurun merupakan “makna kultural yang sungguh berarti.”
Kekerasan Epistemik, Ketika Sains Menjadi Instrumen Pembungkaman
Kekerasan epistemik terjadi bukan ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, melainkan ketika ia “mengklaim monopoli kebenaran secara radikal.”
Kembali lagi dalam konteks (Timor), pola pikir modernitas sering menunjukan wujudnya bukan sebagai dialog, tetapi sebagai koreksi.
Cerita lokal diluruskan, disederhanakan, bahkan yang paling ironis “ditertawakan.”
Generasi penerus budaya Timor diajari bahwa tanah ini terbentuk oleh tabrakan lempeng, tetapi tidak diajari mengapa leluhur mereka memilih bahasa laut untuk mengingat asal-usulnya.
Kekerasan Ini tidak melarang orang bercerita, tetapi membuat mereka ragu pada “cerita lokalnya sendiri.”
Padahal, sains atau ilmu pengetahuan justru mengonfirmasi sebagai ingatan itu. Dikutip dari Sciencedirect.com, yang membahas tentang (Nodul mangan fosil dari Timor: bukti geokimia dan radiokimia asal laut dalam), menunjukan bahwa nodul mangan fosil dari zaman kapur di Timor Barat menunjukan komposisi kimia, struktur, dan radioiostop yang konsisten dengan asal-usulnya di laut dalam.
Nodul-nodul ini menunjukan karakteristik yang mirip dengan nodul yang sekarang ditemukan pada kedalaman 3.500-5.000 m di Samudra pasifik dan Samudra Hindia.
Perbedaan kecil dalam struktur halus dan kimia nodul-nodul ini dan nodul laut saat ini disebabkan oleh perubahan diagenetik setelah pengangkatan sedimen yang mengelilinginya.
Geologi menunjukan bahwa Timor memang terangkat dari dasar laut. Tetapi konfirmasi ini jarang dipakai untuk merawat dialog.
Ia dipakai untuk menutup percakapan, “lihat, sains sudah menjelaskan semuanya.” Dalam hal ini, yang pudar adalah dimensi etisnya, bagaimana seharusnya manusia hidup di atas tanah yang rapuh dan penuh sejarah.
Pandangan Filosofis ala Walter Benjamin dan Seni Melawan Lupa
Walter Benjamin adalah seorang Filsuf Jerman dan sekaligus juga sering dikatakan “filsuf sejarah.” Berbicara tentang sejarah, Walter Benjamin tentu menjadi salah satu opsi utama untuk “mendobrak pola pikir yang tumpul tentang eksistensi dari sejarah itu sendiri.”
Benjamin memberi kita titik artikulasi membaca situasi di atas. Baginya, sejarah bukanlah kisah kemenangan yang bergerak maju, melainkan “tumpukan puing.”
Malaikat sejarah, kata Benjamin, didorong ke masa depan oleh badai yang disebut kemajuan, sementara ia menatap kehancuran yang terus bertambah.
Dalam konteks ini menjadi jelas, ingatan budaya Timor adalah puing yang “terancam tersapu.” Ia adalah fragmen masa lalu yang belum sempat diselamatkan. Ketika kita mengabaikannya, kita sedang membiarkan kemajuan berjalan “tanpa rem.”
Bagi Benjamin, tugas etis manusia saat ini bukan merayakan kemajuan, melainkan “menyelamatkan ingatan kultural yang terancam punah.” Oleh karena itu, dalam paradigma filosofisnya, Benjamin memberikan solusi atas kekerasan epistemik yang menghancurkan “ingatan kolektif kultural ini.”
Pertama, memori kultural masyarakat Timor harus diperlakukan sebagai “arsip hidup,” bukan cerita tambahan. Ia perlu masuk dalam ranah pendidikan, bukan sebagai mitos, tetapi sebagai cara memahami relasi dialektis antara manusia dan alam.
Anak-anak perlu diajari bahwa satu tanah bisa dipahami melalui lebih dari satu bahasa kebenaran.
Kedua, setiap proyek pembangunan di Timor harus disadari dan diawali dengan “pembacaan sejarah lokal,” termasuk cerita para leluhur, dan cerita-cerita lisan yang hadir secara simbolik.
Hal ini bukan sekadar romantisme, tetapi strategi kehatia-hatian dan penghargaan terhadap adat-istiadat masyarakat Timor.
Ketiga, perlu keberanian untuk “memperlambat kemajuan.” Memperlambat dalam konteks ini, tidak berarti kita tidak berusaha, belajar, dan berkembang dalam arus zaman saat ini.
Benjamin mengingatkan secara tegas bahwa revolusi sejati bukan selalu melaju ke depan, tetapi “menarik rem darurat sejarah.” Kembali lagi dalam konteks Timor, menarik rem berarti menunda eksploitasi sampai ingatan didengar.
Oleh karena itu, menjadi jelas bahwa menjaga cerita “Timor dulu lautan” bukan soal membela masa lalu, melainkan menyelamatkan masa depan. Sebab tanpa ingatan, kemajuan hanya akan menjadi cara paling rapi mempercepat kehancuran!

