Oleh: Milikior Sobe
Praktisi Pendidikan di Ruteng Manggarai, Peneliti, dan Penulis Buku
Tanggal 9 Februari selalu mengingatkan kita pada Instruksi Pemerintah Nomor 1 Tahun 1946 yang mengukuhkan peran pers sebagai kekuatan strategis dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus pembangunan bangsa.
Pengakuan itu bukan sekadar formalitas hukum, melainkan pengesahan bahwa kebebasan pers harus berjalan seiring tanggung jawab moral kepada masyarakat.
Filosofi pers sesungguhnya jauh lebih dalam dari sekadar penyampai berita. Pers adalah ruang hidup pemikiran, ia tidak hanya menyajikan fakta, tetapi terus-menerus mengajak kita bertanya, meragukan asumsi yang mapan, dan mencari pertanyaan-pertanyaan baru yang belum terjawab. Pers adalah cermin sekaligus penggerak kesadaran kolektif bangsa.
Di Indonesia, esensi ini selaras dengan semangat Pancasila sebagai landasan jati diri bangsa. Pers bukan hanya “media” sebagai wadah teknis, melainkan “pers” sebagai inti penyampaian makna, nilai budaya, dan aspirasi rakyat.
Simbol pena dan kertas bukanlah barang mati, ia mewakili ketulusan, kedalaman, dan keberanian untuk menceritakan realitas apa adanya demi keadilan dan persatuan.
Pada 2026, pers Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Krisis iklim, kesenjangan sosial, disrupsi digital, hingga perubahan geopolitik global menuntut pers tidak sekadar melaporkan, tetapi juga memberikan konteks yang bermakna agar publik dapat memahami dan bertindak.
Kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu disrupsi terbesar. Dewan Pers dengan tegas menyatakan bahwa produk jurnalistik harus tetap berada di bawah kendali dan verifikasi manusia.
Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan AI dalam Karya Jurnalistik menegaskan: mesin adalah alat bantu, bukan pengganti jurnalis. Transparansi dan tanggung jawab manusia tetap menjadi prinsip utama.
Generasi Z dan milenial, yang mengonsumsi informasi secara sangat berbeda, juga menjadi ujian. Mereka menyukai konten yang cepat, interaktif, dan relevan di media sosial, namun tetap membutuhkan edukasi tentang pentingnya jurnalisme yang kredibel sebagai pengawas kekuasaan.
Pers dituntut menjembatani dua dunia, tetap setia pada nilai tradisional (akurasi, objektivitas, kedalaman), sekaligus berinovasi dalam bentuk dan bahasa agar tetap relevan.
Di balik semua itu, tekanan komersial dalam sistem ekonomi kapitalis sering kali menggoda pers untuk mengutamakan klik, sensasi, dan iklan ketimbang kepentingan publik.
Inilah yang membuat rekonstruksi jati diri pers menjadi keharusan terus-menerus: menyeimbangkan keberlanjutan bisnis dengan tanggung jawab sosial yang tidak bisa ditawar.
Etika jurnalistik tetap menjadi benteng terakhir. Akurasi, objektivitas, rasa hormat terhadap martabat manusia, dan prinsip “do no harm” harus terus ditegakkan, terutama di era informasi yang serba cepat dan rentan hoaks.
Perlindungan terhadap jurnalis juga tidak boleh diabaikan. Kebebasan pers hanya akan bermakna jika jurnalis dilindungi secara fisik, hukum, dan ekonomi.
Jaminan hidup layak dan keamanan kerja adalah prasyarat agar mereka bisa melaporkan tanpa rasa takut atau tekanan.
Tema Hari Pers Nasional 2026, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, sesungguhnya sangat tepat menangkap ruh zaman ini.
Pers yang sehat—independen, profesional, berintegritas, dan bebas dari intervensi adalah fondasi bagi ekonomi yang berdaulat dan bangsa yang tangguh.
Tanpa pers yang kredibel, kepercayaan publik runtuh, ekonomi rentan manipulasi informasi, dan ketahanan nasional melemah.
Rekonstruksi jati diri pers bukan berarti meninggalkan akar sejarah perjuangan 1946, melainkan menghidupkannya kembali dalam bentuk yang relevan dengan tantangan hari ini dan esok.
Pers harus terus menjadi agen pemikiran kritis, penjaga moral bangsa, dan jembatan aspirasi rakyat.
Hari Pers Nasional bukan sekadar peringatan seremonial. Ini adalah panggilan bersama bagi seluruh elemen bangsa, jurnalis, pemerintah, masyarakat, akademisi, untuk merawat, memperkuat, dan mengarahkan pers agar tetap menjadi pilar demokrasi yang kokoh, penopang ekonomi yang berdaulat, dan penguat bangsa yang tangguh di tengah badai zaman.
Selamat Hari Pers Nasional 2026. Mari kita jaga pers tetap sehat, agar Indonesia tetap kuat.

