Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Janji Setia di Kaki Altar, Orkestrasi Iman Menjelang Penahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro
Gagasan

Janji Setia di Kaki Altar, Orkestrasi Iman Menjelang Penahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro

By Redaksi11 Februari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro (tengah) (Foto: Anselmus DW Atasoge)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Anselmus DW Atasoge

Komsos Keuskupan Larantuka

Gereja Santa Maria Pembantu Abdi Weri, Larantuka, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa rohani yang mendalam pada Selasa, 10 Februari 2026. Di bawah temaram lampu senja, ribuan umat larut dalam kekhusyukan Vesper Agung, sebuah ibadat sore meriah yang menandai langkah awal Mgr. Yohanes Hans Monteiro menuju Takhta Kegembalaan Keuskupan Larantuka.

Di hadapan Mgr. Michael A. Pawlowicz, Pejabat Kedutaan Vatikan, Ketua KWI, dan para Uskup se-Indonesia, Mgr. Hans mengikrarkan janji setianya kepada Takhta Suci.

Suasana kian magis saat Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng yang memimpin ibadat, memberkati ‘insignia’ perangkat atribut keuskupan yang akan menjadi simbol beban kasih dan otoritas pelayanan sang gembala baru.

RD. Philip Ola Daen, Formator Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, dalam khotbahnya memberikan kompas bagi perjalanan pelayanan Mgr. Hans. Mengambil inspirasi dari 1 Korintus 7:32, ia menekankan bahwa seorang gembala harus hidup “tanpa kekhawatiran”.

“Hidup tanpa kekhawatiran bukanlah soal kondisi psikologis, melainkan sebuah keputusan iman untuk menjaga hati agar tidak terfragmentasi oleh urusan duniawi,” tegas RD. Philip.

Bagi Mgr. Hans, tantangan ke depan adalah menjaga batin tetap jernih di tengah arus dunia. Fokus pada Tuhan berarti menutup celah bagi godaan kuasa, popularitas, dan materi, demi mengutamakan hakikat asli jabatan uskup: sebagai pelayan, bukan penguasa.

Mengacu pada pesan mendalam dalam Yohanes 15:5, pengkhotbah menegaskan bahwa seorang Uskup sejatinya hanyalah ranting yang akan layu jika terpisah dari Sang Pokok Anggur.

Keberhasilan Mgr. Hans dalam menjalankan tongkat kegembalaannya kelak tidak akan bersandar pada kekuatan atau kecakapan manusiawi semata, melainkan pada kemanunggalan yang erat dengan Kristus sebagai sumber kekuatan utama.

Kesatuan spiritual inilah yang menjadi fondasi bagi setiap langkah pelayanan yang akan diambil di Keuskupan Larantuka.

Pilar penting lainnya yang ditekankan dalam khotbah tersebut adalah konsep kekudusan atau ‘Hagios’, yang dimaknai sebagai kondisi menjadi milik Tuhan sepenuhnya.

Kekudusan ini bukanlah sebuah hak eksklusif bagi kelompok tertentu, melainkan panggilan universal bagi seluruh umat Allah.

Namun, kekudusan tidak boleh berhenti pada ritualitas, melainkan harus mewujud dalam manifestasi sosial melalui kepedulian nyata terhadap mereka yang miskin dan terpinggirkan, agar Gereja mampu menjadi penawar bagi tragedi kemanusiaan yang kerap melukai bumi Flobamora.

Terakhir, Mgr. Hans diingatkan untuk senantiasa memiliki kesadaran diri yang rendah hati sebagaimana tertuang dalam 2 Korintus 4:7.

Ia adalah “bejana tanah liat” yang memiliki kerapuhan insani, namun di dalamnya Tuhan telah mempercayakan harta ilahi yang sangat luar biasa untuk dijaga dan dibagikan.

Dengan menyadari keterbatasan diri sebagai manusia, sang gembala diharapkan dapat menjalankan tugas sucinya dengan penuh integritas dan rasa syukur atas kepercayaan Tuhan yang begitu besar.

Sebagai penutup yang reflektif, RD. Philip menyentil realitas zaman sekarang. Di era modern, dunia surplus orang pintar namun defisit orang kudus.

Vesper Agung ini menjadi pengingat bagi Mgr. Hans dan umat Larantuka untuk memulai peziarahan baru dalam semangat “satu Tubuh, satu Roh, dan satu pengharapan.”

Anselmus D Atasoge Anselmus Dore Woho Atasoge Keuskupan Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro Uskup Larantuka
Previous ArticleBerakar ke Bawah, Bertumbuh dari Dalam
Next Article KONI NTT Targetkan 37 Emas dan Tembus 10 Besar PON 2028

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.