Bajawa, VoxNTT.com – Tiga belas hari setelah bocah YBS (10) meninggal dunia, kejadian pilu akibat bunuh diri kembali terjadi di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Berita ini tidak mengajarkan cara untuk bunuh diri, namun sekadar memberikan informasi tentang fenomena kasus bunuh diri yang belakangan marak terjadi di Kabupaten Ngada.
EN (28), seorang ibu muda asal Kecamatan Bajawa Utara dilaporkan mengakhiri hidupnya setelah meneguk sepertiga racun serangga cair kemasan satu liter, jumlah yang tergolong banyak pada Rabu, 11 Februari 2026 sore.
Camat Bajawa Utara, Frederikus Dhoi, saat dikonfirmasi VoxNtt.com melalui sambungan telepon berkata, jenazah EN direncanakan akan dikebumikan, Jumat, 13 Februari 2026 di Kampung halamannya.
EN merupakan seorang ibu muda dengan tiga orang anak. Seorang petugas medis di Puskesmas Watu Kapu yang ikut menangani korban mengatakan, korban sudah dalam kondisi tak sadarkan diri saat pertama kali dilarikan ke puskesmas untuk mendapat penanganan medis. Ia akhirnya meninggal dunia.
Seorang pegiat media sosial asal Ngada kepada VoxNtt.com mengatakan, pemicu utama hingga korban memilih mengakhiri hidupnya karena ketiadaan beras.
“Karena beras tidak ada. Dia (ER) itu atlet bela diri saat Porseni Ngada,” ujarnya.
Namun, Camat Bajawa Utara, Frederikus Dhoi, telah membantah informasi tersebut.
Menurut Frederikus, kehidupan ekonomi korban boleh dibilang berkecukupan karena memiliki beberapa bidang tanah sawah dan alat-alat mesin pertanian.
“Mereka sawah paling besar, rumah tembok, punya motor, punya hand tractor,” ujar Camat Frederikus.
Menurut dia, motif sementara yang menjadi pemicu korban bunuh diri karena persoalan keluarga. Korban dilaporkan terlibat cekcok dengan sang ayah karena persoalan makanan.
Cekcok diduga dipicu saat sekembalinya korban dari sawah tempatnya bekerja, tidak ada makanan yang disediakan di rumah. Sementara sang ayah sibuk mengurus ketiga anak korban.
Kepala Pos Polisi (Kapospol) Bajawa Utara, Barnabas Sego Kolo berkata, korban diketahui memiliki kepribadian yang cukup tempramental.
Korban sempat mengamuk dengan melemparkan sejumlah peralatan dapur sebelum akhirnya meneguk cairan pembasmi hama dan meninggal dunia.
Tahun 2018 lalu, korban sempat melakukan aksi percobaan bunuh diri dengan cara serupa namun berhasil tertolong karena dosis obat pembasmi hama yang ia minum masih tergolong kecil.
“Ini yang dia (korban) minum banyak. Yang dibotot itu (kemasan satu liter) sisa sedikit, sisa sekitar satu per empat,” ujar Barnabas.
EN merupakan wanita dengan tiga anak dari tiga suami berbeda.
Wakil Ketua II DPRD Ngada dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Yosef Filius David Jawa mengatakan, kasus kematian akibat bunuh diri di Kabupaten Ngada sudah masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), angka kasus bunuh diri di Ngada tergolong tinggi, bahkan sangat tinggi. Seminggu sebelum bocah SD berusia 10 tahun tewas, kasus serupa juga terjadi di Bobou, Kecamatan Bajawa.
“Tiga atau empat tahun lalu, dalam satu desa di salah satu kecamatan di Bajawa, kasus seperti ini pernah terjadi. Ini sangat tinggi,” katanya.
Menurut Yosef, semua pemangku kepentingan mesti segara mengambil tindakan preventif agar kasus serupa tak boleh terulang.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

