Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur
Pengalaman hari ini sungguh berharga bagi kami mahasiswa fakultas filsafat, secara khusus bagi saya pribadi, karena boleh mengikuti seminar yang sangat menggugah.
Seminar yang dibawakan oleh kedua narasumber hebat, Romo Giovani Aditya Lewa Arum dan Wartawan Pos Kupang, Bapak Dion DB Putra.
Kedua pemateri menekankan tentang betapa pentingnya pewartaan dalam konteks “media sosial,” sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab “agen pastoral.”
Gereja kini hadir di layar ponsel, di ruang media sosial, dan di berbagai platform digital. Namun, dibalik sikap optimisme di atas, ada pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur, apakah media sungguh memperdalam pewartaan Injil, atau justru perlahan membentuk wajah iman yang baru, yang lebih instan dan juga dangkal?
Pertanyaan ini saya kira sangat penting, karena pewartaan Injil tidak hanya menyangkut pesan, melainkan pembentukan personalitas manusia dalam mengkritisi dan memahami imannya secara otentik.
Iman yang dipahami dan kemudian dibagikan kepada yang lain. Pewartaan Injil yang dimediasi oleh media, selalu berhadapan dengan proses pembentukan makna, bukan hanya apa yang diberitakan, tatapi bagaimana manusia akhirnya belajar percaya, berharap, dan bertindak di tengah arus dunia saat ini.
Budaya Media dan Reduksi Makna Injil
Saya melihat bahwa kultur modernitas saat ini ditandai oleh kecepatan, visualisasi, dan fragmentasi pesan yang tidak menentu.
Sesuatu diberi label “bernilai” sejauh ia menarik perhatian dalam hitungan detik. Logika seperti ini secara perlahan memengaruhi cara mekanisme pewartaan Injil.
Pesan iman dipadatkan, disedeerhanakan, bahkan dipoles agar sesuai dengan “ritme media.” Akibatnya, Injil yang sejatinya mengajak umat masuk ke dalam proses metanoia atau pertobatan mendalam, berisiko direduksi menjadi “slogan rohani” yang mudah dibagikan tetapi cepat dilupakan.
Berangkat dari realitas ini, pewartaan Injil berhadapan dengan sebuah dilemma etis. Apakah ia harus menyesuaikan diri dengan “logika media yang serba cepat, sensasional, dan berorientasi pada perhatian demi menjangkau sebanyak mungkin orang?”
Saya secara pribadi menilai bahwa dilema ini jelas tidak mudah dihadapi, sebab setiap pilihan membawa konsekuensi pastoral dan teologis. Namun, menghindarinya terhadap hal-hal deskruktif, karena pewartaan bisa kehilangan arah, entah tereduksi menjadi sekadar konten tanpa daya transformasi, atau terasing dari realitas manusia yang konkret.
Injil yang Mengganggu Kenyamanan
Dalam pemaparan materi dari Romo Aditya dan Bapak Dion pada saat seminar, mereka mengemukakan paradigma yang kurang lebih sama yakni, “Injil tidak pernah menjanjikan kenyamanan.”
Ia berbicara tentang salib, tentang keberpihakan pada orang kecil yang, terpinggirkan, miskin, dan juga berbicara tentang keberanian melawan “arus ketidakadilan.”
Tetapi, yang lebih cenderung terjadi bahwa kultur media cenderung menghindari pesan yang menganggu, kontroversial, tidak nyaman, atau menuntut perubahan radikal.
Dalam fenomena ini, pewartaan Injil berisiko menjelma menjadi “spiritualitas yang aman, menenangkan, tetapi tidak mengubah umat.”
Ketika pewartaan injil hanya sibuk mengurus
“keterlihatan, jumlah penonton, dan popularitas di ruang publik,” iman secara perlahan-lahan tereduksi menjadi sekadar identitas simbolik yang ditampilkan.
Iman yang sejatinya diinternalisasikan dalam realitas yang konkret, kini hadir sebagai label, citra, atau konten yang menarik, daripada sebagai daya yang membentuk sikap, pilihan moral, dan cara hidup yang baik.
Pada momen inilah tantangan etis pewartaan menjadi sungguh otentik. Apakah pewartaan Injil masih loyal pada “daya profetik” untuk mengkritik, menggugah, dan mengubah cara hidup?
Pewartaan Sebagai Kesaksian Etis di Ruang Media
Saya sebagai seorang calon imam dan Pelajar filsafat menyadari bahwa “media bukan sebatas instrumen, Gereja dipanggil untuk hadir di ruang media dengan sikap yang bertanggung jawab.”
Pewartaan Injil tidak diukur dari seberapa sering Gereja muncul di layar visual atau seberapa ramai ia dibicarakan, melainkan dari kejujuran dan ketulusan dalam “bersaksi tentang iman yang mendalam akan Kristus.”
Media sejatinya direalisasikan sebagai ruang membentuk nurani, menolong orang banyak, mampu mendiskresikan mana yang benar dan keliru, bukan sekadar tempat “ajang pamer simbol-simbol religius tanpa makna hidup.”
Kesetiaann pada Kitab Suci, Tradisi, dan Megisterium Gereja jauh lebih penting daripada popularitas sesaat.
Namun, kesetiaan ini juga menuntut sikap aktif yang utuh, Gereja perlu menghadirkan “konten, tulisan, yang sederhana tetapi tajam dan mendalam,” dan tentunya bersumber dari kebenaran sejati yakni, Yesus Kristus.
Dengan metode itu, pewartaan tidak hanya terdengar sebatas berita atau pesan semata, tetapi juga dirasakan dan dijalani.
Mungkin ia tidak ramai diperbincangkan, tetapi ia menumbuhkan iman yang dewasa, kritis, dan berakar.
Oleh karena itu, kesetiaan dan tanggung jawab itulah, “pewartaan Injil menemukan martabatnya yang sejati.”

