Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?
Gagasan

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

By Redaksi6 Maret 20266 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Apriska Stevi Pando
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Apriska Stevi Pando

Siswi Kelas XII SMAS St. Gregorius Reo

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, dan memandang diri sendiri, terutama pada remaja sekolah menengah.

Siswa SMP dan SMA berada pada fase transisi penting dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, sehingga mereka sangat rentan terhadap pengaruh media sosial, permainan daring, dan arus informasi yang tidak terbatas.

Dalam situasi ini, sekolah tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian akademik semata. Justru, pendidikan harus turut memperhatikan kondisi psikologis siswa agar mereka mampu mengelola emosi, tekanan sosial, serta krisis jati diri yang kerap muncul di era digital.

Terlebih lagi, kurikulum yang semakin padat dan tuntutan persiapan masa depan sering menjadi beban tambahan yang berpotensi memicu masalah kesehatan mental.

Perhatian terhadap aspek psikologis siswa bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan saat ini.

Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan saat ini sudah benar-benar memperhatikan kesehatan psikologis siswa atau masih berfokus pada capaian akademik semata? Tentu sekarang ini kita sudah melihat realitanya.

Pendidikan di sekolah menengah cenderung berorientasi pada capaian akademik dan nilai ujian. Kurikulum lebih menekankan penguasaan materi pelajaran seperti matematika, sains, dan bahasa.

Sejalan dengan teori whole child approach yang diusung oleh ASCD, sekolah idealnya tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memastikan setiap siswa merasa aman, sehat, terlibat, dan didukung secara menyeluruh.

Prinsip ini menegaskan bahwa pendidikan harus memandang peserta didik sebagai individu utuh, bukan sekadar angka dalam rapor.

Karena itu, menghadirkan mata pelajaran psikologis di sekolah menengah menjadi langkah strategis untuk mewujudkan lingkungan belajar yang lebih peduli terhadap kesehatan mental siswa.

Satuan pendidikan tidak boleh terus menunda perhatian terhadap persoalan ini, sementara angka masalah psikologis remaja terus menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data survei kesehatan Indonesia (SKL) yang dilakukan pada tahun 2023 menunjukkan adanya prevalensi masalah kesehatan jiwa pada usia remaja yang umumnya berusia 15-27 meningkat, dengan 19 juta penduduk menderita gangguan emosional dan 12 juta menderita depresi.

Data SKL tersebut mestinya menjadi indikator yang tepat dan urgen menjadi hal mendesak untuk diatasi di era digital saat ini.

Sementara berdasarkan data lainnya yaitu data dari survei nasional, mengungkapkan kesehatan anak nasional mengungkapkan hampir 1dari 3 atau 31% remaja yang umumnya usia 12-17 tahun, mengalami masalah mental, emosional, dan perilaku.

Terlihat dari data tersebut terdapat adanya peningkatan krisis kesehatan mental remaja di Indonesia saat ini secara drastis.

Penyebab peningkatan angka bukanlah di sebabkan oleh satu faktor saja. Melainkan lebih dari satu faktor penyebabnya. Faktor yang pertama dilihat dari segi perkembangan teknologi digital saat ini.

Penggunaan media sosial yang berlebihan akan memicunya perilaku yang adiktif, gangguan tidur, kecemasan, depresi, perundungan siber(Cyber bullying), dan masalah FOMO saat ini yang semakin marak .

Tentunya hal ini bukanlah masalah sepele, melainkan masalah yang tidak kalah pentingnya juga untuk perlu didesak untuk diatasi.

Penyebab lainnya juga karena kurikulum yang semakin padat dan tuntutan tugas sekolah yang akan menjadi beban akademik yang terus meningkat yang berkorelasi kuat dengan rendahnya kesehatan mental pelajar.

Apalagi sekarang ini kerap sekali pembelajaran digital sering membuat siswa dituntut lebih mandiri, dan tugas online yang terkadang lebih memberatkan daripada tatap muka secara offline dan hal inilah pemicu terjadinya fenomena burnout akademik pada siswa.

Tidak hanya itu, masalah kebimbangan menentukan pilihan setelah lulus sekolah menengah atas atau disingkat SMA juga merupakan masalah pemicunya gangguan kesehatan psikologis pada siswa.

Kelas XII yang saat ini menghadapi dilema berat antara melanjutkan studi ke Perguruan tinggi (kuliah) atau bekerja ataupun kursus sering kali menyebabkan kecemasan tinggi akan masa depan.

Dengan melihat realita-realita tersebut masalah kesehatan mental remaja berada pada tahap yang memerlukan perhatian yang sangat serius. Maka dari itu penulis usulkan pentingnya mata pelajaran psikologis pada sekolah menengah di era digital.

Karena dengan kebijakan seperti itu masalah psikologis siswa pada sekolah menengah akan berdampak pada jangka waktu yang panjang bukan waktu yang saat ini saja.Dan yang menjadi titik fokus penulis jika kebijakan ini nantinya dilakukan adalah pada siswa sekolah menengah saja.

Mengapa demikian? Karena tujuan sekolah menengah ialah memberi pendidikan yang lebih mendalam, mengembangkan pemikiran kritis, dan mempersiapkan siswa untuk ke tahap selanjutnya.

Maka, pentingnya mata pelajaran psikologis pada sekolah menengah untuk mendukung dan terwujudnya tujuan pendidikan sekolah menengah apalagi di era digital saat ini.

Pentingnya mata pelajaran psikologis pada sekolah menengah di era digital merupakan juga sebuah bantuan untuk dianjurkan bagi siswa agar mereka mampu untuk mengenali potensi dan minat mereka secara lebih mendalam.

Selain itu juga, agar siswa tidak terjebak dalam tekanan sosial lagi atau ekspektasi lingkungan yang sesuai dengan kapasitas dan minat pribadi siswa itu sendiri.

Namun, meski pun setiap sekolah menengah di Indonesia saat ini sudah ada guru BK (bimbingan konseling) bisa menangani persoalan psikologis siswa, tetapi itukah hanya layanan konseling saja dan sering kali hanya bersifat reaktif saja, yaitu ditangani ketika masalah sudah muncul.

Sedangkan mata pelajaran psikologis ini bukan lagi sifatnya represif melainkan sifatnya preventif dan edukatif.

Penerapan mata pelajaran psikologis ini nantinya, penulis ajukan untuk tidak bersifat teoritis semata saja yang sama dengan mata pelajaran yang lainnya seperti matematika, sains, dan bahasa. Melainkan pembelajaran dilakukan secara aplikatif melalui diskusi, simulasi dan refleksi diri.

Dan pembelajaran psikologis ini harus dilakukan secara terstruktur, agar siswa bisa memperoleh pemahaman dasar tentang kesehatan mental sebelum menghadapi persoalan yang lebih serius lagi nantinya di mana-mana yang akan datang baik dilihat dari dinamika sosial yang kompleks dilingkungan sekolah maupun di dunia maya.

Meskipun pelaksanaan mata pelajaran psikologis pada sekolah menengah pasti memerlukan perencanaan yang matang, termasuk penyediaan tenaga pendidik kompeten dan kurikulum yang saat ini semakin relevan.

Namun masalah kesehatan psikologis saat semakin meningkat pesat dan perlu adanya tindakan cepat atau agresif di era digital saat ini.

Selain itu juga, Karena tindakan ini merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Apalagi juga era persaingan global saat ini kemampuan beradaptasi sangat dibutuhkan.

Serta individu yang memiliki kesehatan psikologis yang baik, produktif, kreatif, dan mampu bekerja sama. Ketahanan mental juga merupakan faktor yang paling mendasar atau utama dalam menghadapi perubahan zaman yang cepat dan tidak terduga.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak atau melahirkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi pendidikan juga perlu melahirkan individu yang sehat secara mental dan emosional, untuk era digital saat ini yang penuh dengan tantangan.

Urgensitas mata pelajaran psikologis pada sekolah menengah di era digital, bukan lagi sekadar wacana semata, melainkan kebutuhan nyata yang perlu didesak. Dengan membekali siswa mulai dari sekarang , pemahaman tentang diri dan kesehatan psikologis mereka pasti terjamin di masa-masa yang akan datang.

Sekolah akan jadi pelopor terdepan untuk membangun generasi yang tangguh, bijak, dan siap menghadapi masa depan dengan cemerlang dan sangat berdampak juga pada kemajuan negara kita ini.

Apriska Stevi Pando
Previous ArticleRumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen
Next Article Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

Related Posts

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026

Cinta Itu Kurikulum Masa Depan

3 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.