Oleh: Fransiskus Raja Bango
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Di zaman sekarang ini, dengan perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam berbagai bidan kehidupan manusia, terutama bagi generasi muda.
Cara berpikir, berinteraksi,hingga mengekspresikan diri banyak dipengaruhi oleh kehadiran media sosial dan aplikasi digital.
Dunia digital telah menjadi bagian dari rutinitas dalam kehidupan sehari- hari manusia. Di satu sisi, perkembangan ini memberikan dampak positif, seperti kemudahan memperoleh informasi, memperluas jaringan pertemanan, serta membuka peluang kreativitas tanpa batas.
Namun di sisi lain, derasnya arus digital juga menghadirkan tantangan besar bagi keberlangsungan budaya.
Budaya mengandung nilai-nilai, norma, tradisi, bahasa, kesenian, dan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya membentuk karakter dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara ”kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup masyarakat.” Artinya, budaya lahir dari proses panjang pengelaman hidup suatu bangsa dan menjadi identitas yang membedakanya dari bangsa lain.
Namun, di tengah dunia yang serba cepat dan pengaruh globalisasi yang masuk melalui media digital, banyak generasi muda yang lebih mengenal budaya asing daripada budaya daerahnya sendiri, mereka cenderung lebih menyukai musik luar negeri dibandingkan lagu tradisonal,lebih tertarik pada tarian modern daripada tarian adat, serta lebih mengikuti tren global daripada melestarikan kebiasaan lokal.
Fenomena ini tidak sepenuhnya dapat disalahkan kepada generasi muda, karena mereka tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.
Akses internet yang luas membuat mereka lebih mudah terpapar dengan berbagai tren dunia. Seorang filsuf Yunani kuno, Plato, pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah sarana untuk membentuk jiwa dan karakter manusia.
Dalam konteks ini,arus digital seharusnya tidak hanya menjadi saran hiburan, tetapi juga harus menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter generasi muda agar tetap berakar pada nilai budaya.
Tantangan utamanya adalah bagimana generasi muda tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri budayanya. Sikap selektif dan bijak menggunakan media digital menjadi media utama.
Sejalan dengan pemikiran dari Aristoteles yang menekankan pentingnya “jalan tengah”(Golden mean), generasi mudah perlu menyeimbangkan antara menerima hal-hal baru dan menjaga nilai-nilai lama yang baik.
Tidak semua budaya asing harus ditolak, tetapi juga tidak semuanya harus diterima tanpa pertimbangan. Pada dasarnya, arus digital tidak selalu menjadi ancaman bagi budaya.
Jika dimanfaatkan dengan bijak, teknologi justru dapat menjadi alat untuk mempromosikan budaya lokal. Banyak anak muda kini mulai memperkenalkan budaya daerah melalui video pendek, tulisan kreatif, hingga pertunjukan seni tradisional di media sosial.
Hal ini menunjukan bahwa generasi muda memiliki potensi besar sebagai agen pelestarian budaya.
Dan ada seorang pemikir modern seperti Marshall Mcluhan pernah menyatakan bahwa ”the medium is the message” yang berarti media memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia memahami dunia.
Oleh karena itu, jika media digunakan untuk menyebarkan nilai-nilai budaya, maka budaya tersebut justru akan semakin dikenal luas, bahkan hingga ke tingkat global.
Selain itu, pendidikan memegang peranan sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya. Sekolah dan keluarga perlu bekerja sama mengenalkan nilai-nilai budaya sejak dini.
Gereja mudah harus memahami bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman, melainkan bagian dari identitas yang membuat mereka unik. Seperti yang dikatakan oleh Sokrates “kenalilah dirimu”.
Mengenal diri sendiri juga berarti mengenal akar budaya yang membentuk diri kita. Menurut pendapat saya ,perkembangan teknologi digital sangat membantu kehidupan remaja pada masa sekarang.
Teknologi digital membuat remaja lebih mudah untuk belajar dan berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai negara.
Melalui internet, media sosial,dan aplikasi pembelajaran, remaja dapat memperoleh banyak pengetahuan baru yang sebelumnya sulit untuk didapatkan.
Mereka bisa belajar bahasa asing, mengenal budaya luar negeri,serta memahami cara berpikir dan kebiasaan masyarakat di negara lain.
Selain itu,teknologi digital juga membantu remaja untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Jika suatu hari nanti mereka di percayakan untuk melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri, mereka tidak akan merasa asing.
Hal ini karena mereka sudah terbiasa berinteraksi secara digital dengan orang-orang dari luar negeri dan mereka memahami sedikit tentang budaya serta kehidupan mereka di sana.
Jadi budaya dan generasi mudah tidak seharusnya di pertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan.
Generasi mudah adalah penerus bangsa, sementara budaya adalah warisan yang harus dijaga. Di tengah arus digital yang semakin berkembang, sangat dibutuhkan kesadaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab agar kemajuan teknologi tidak mengikis nilai-nilai budaya yang telah diwariskan.
Dengan sikap yang tepat, generasi mudah dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas menjaga warisan leluhur sambil tetap melangkah maju menuju masa depan yang lebih baik.

