Oleh: Theodorikus Dapa Ole
Peserta didik SMA Katolik St. Josef Freinademetz Sumba Barat Daya
Sumba tanah leluhur paling indah yang akan tradisi dan budayanya yang unik. Tiada hari tanpa visitor dari pelbagai macam negara yang datang dan pergi menikmati sajian keindahan alam, tradisi, dan budayanya. Salah satunya adalah pasola unik, tiada duanya yang ada di tanah Marapu.
Sebagai pelajar, saya melihat Pasola sebagai contoh nyata tradisi bisa menjadi kekuatan budaya yang menyatukan masyarakat. Di balik aksi saling melempar lembing, terdapat nilai sportivitas, keberanian, dan penghormatan terhadap adat.
Pasola juga tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan Marapu, yang menjadi dasar spiritual masyarakat Sumba dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Konon, awalnya Pasola berasal dari kisah seorang perempuan yang diambil oleh pemuda lain, dan untuk meredam konflik, masyarakat mengadakan pertarungan berkuda sebagai penghormatan kepada leluhur. Dan pertarungan itu dinamakan “Pasola/Pahola”.
Pasola berasal dari kata “Sola” atau “Hola”, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan.
Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi Pasola atau Pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.
Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu (agama lokal masyarakat sumba). Pasola diadakan di dua kabupaten ( Kodi, Sumba Barat Daya), (Lamboya, Wonokaka, dan Gaura) Sumba Barat.
Jadwal Pasola ditentukan oleh para Rato (pemuka adat) berdasarkan hitungan bulan dan tanda- tanda alam (bulan purnama dan keluarnya cacing laut/Nyale). Yang pastinya, pelaksanaan Pasola ini dilakukan secara bergilir, yaitu antara bulan Februari hingga Maret setiap tahunnya, yang berpapasan dengan waktu panen.
Mengapa harus berpapasan dengan waktu panen? Karena dalam Pasola juga diyakini bahwa jika ada pertumpahan darah maka hasil panen tahun itu sangat melimpah.
Namun, di era modern ini, Pasola menghadapi tantangan. Di satu sisi, tradisi ini menjadi daya tarik wisata yang mengundang banyak pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Hal ini tentu berdampak positif bagi perekonomian lokal. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa nilai sakralnya bisa berkurang jika terlalu dikomersialkan.
Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama agar Pasola tetap terjaga makna budayanya tanpa menghilangkan manfaat ekonominya.
Selain itu juga, kita tidak bisa menutup mata terhadap risiko yang ada. Dalam konteks modern, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama. Adaptasi seperti penggunaan lembing tumpul dan pengamanan medis adalah langkah yang tepat. Tradisi tetap bisa dijalankan tanpa menghilangkan esensi spiritual dan budayanya.
Generasi muda Sumba perlu bangga dan ikut melestarikan Pasola. Tradisi ini adalah identitas budaya yang membuat Sumba dikenal luas. Jika dijaga dengan baik, Pasola akan terus menjadi warisan budaya Indonesia yang berharga dan membanggakan.
Pada akhirnya, Pasola bukan hanya tentang keberanian melempar lembing, tetapi tentang hubungan manusia dengan tanah, leluhur, dan komunitasnya. Tradisi ini mengajarkan bahwa budaya adalah identitas yang hidup, ia boleh berkembang, tetapi tidak boleh kehilangan jiwanya.

