Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM
NTT NEWS

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

By Redaksi13 Juli 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Koordinator Divisi Advokasi JPIC OFM, Pater Yohanes Kristo Tara, OFM (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jakarta, VoxNTT.com – Tim Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) OFM Indonesia bersama Forum Peduli Keadilan, Perdamaian, dan Hak Asasi (FORKASI) Kabupaten Nagekeo mengadukan konflik agraria di Tonggurambang, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI, Senin, 13 Juli 2026.

Pengaduan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Komisioner Mediasi Komnas HAM RI, Pramono Ubaid Tanthowi, yang juga Koordinator Subkomisi Penegakan HAM. Pertemuan membahas konflik tanah antara masyarakat Tonggurambang dan masyarakat Transad Tonggurambang dengan TNI terkait klaim lahan yang selama puluhan tahun ditempati dan dikelola warga.

Koordinator Divisi Advokasi JPIC OFM Indonesia, Pater Yohanes Kristo Tara mengatakan, pihaknya bersama FORKASI menyampaikan sejumlah poin kepada Komnas HAM. Di antaranya, menegaskan kembali konflik agraria yang terjadi setelah TNI mengklaim tanah masyarakat dan mengubah fungsi lahan Transad menjadi kawasan militer aktif.

Mereka juga menegaskan penolakan masyarakat terhadap rencana relokasi serta meminta pemerintah menghormati hak masyarakat atas tanah dengan memberikan kepastian hukum melalui sertifikasi lahan.

Selain itu, JPIC OFM dan FORKASI menilai penempatan militer secara masif di wilayah Flores berpotensi memperluas konflik agraria dan sumber daya alam serta berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Romo Wihelmus Bertolomeus dari FORKASI Kabupaten Nagekeo menambahkan masyarakat juga kembali menyatakan penolakan terhadap pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 834 Wakanga Mere dan Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan (Brigif) TP 42/Kstaria Elang Flores di Tonggurambang.

Selain itu, masyarakat meminta Komnas HAM menindaklanjuti surat penolakan yang telah disampaikan terkait rencana pembangunan dua satuan tersebut, sekaligus mendorong pemulihan dan pengembalian hak masyarakat atas tanah serta ruang hidup mereka.

Masyarakat juga kembali menegaskan tidak bersedia direlokasi dan tetap mempertahankan tanah yang selama ini menjadi tempat tinggal, sumber penghidupan, dan bagian dari identitas sosial mereka.

Menanggapi pengaduan itu, Pater Yohanes mengatakan Komnas HAM menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti persoalan tersebut melalui mekanisme mediasi dan pendekatan berbasis hak asasi manusia.

Komnas HAM, kata dia, akan menindaklanjuti pengaduan masyarakat melalui langkah teknis dan mediasi, mengumpulkan data dari seluruh pihak yang bersengketa, meninjau langsung lokasi konflik di Tonggurambang, serta memfasilitasi pertemuan untuk mencari penyelesaian yang adil dan damai.

Selain itu, Komnas HAM akan menyampaikan surat kepada para pihak, termasuk pimpinan TNI, Kodam, dan Korem Kupang, agar tidak melakukan aktivitas di lokasi yang masih menjadi objek sengketa serta menghindari tindakan intimidatif maupun provokatif yang dapat memperburuk situasi.

JPIC OFM Indonesia dan FORKASI Kabupaten Nagekeo menyatakan menyambut baik komitmen Komnas HAM tersebut. Mereka berharap penyelesaian konflik agraria di Tonggurambang berlangsung secara transparan, partisipatif, dan menghormati hak asasi manusia, terutama hak masyarakat atas tanah, tempat tinggal, dan penghidupan yang layak.

Masyarakat Tonggurambang juga berharap negara hadir menjamin hak-hak warga serta memastikan setiap kebijakan pembangunan dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip keadilan, kemanusiaan, dan perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak. [VoN]

FORKASI Nagekeo JPIC Ofm Komnas HAM Nagekeo
Previous ArticleJelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati
Next Article Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

Related Posts

Ketika Doa Menjadi Kekuatan bagi Penyintas Gempa

12 September 2026

Pekan Depan, Janda Muda Asal Ngada Jalani Sidang Perdana Dugaan Pencemaran Nama Baik

12 September 2026

JPIC OFM Perkuat Pemulihan Penyintas Gempa melalui Layanan Kesehatan dan Trauma Healing

10 September 2026
Terkini

Ketika Manusia Menghapus Wajah Sesamanya

13 September 2026

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026

Herman Musakabe Desak Kapolri Ungkap Tuntas Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

12 September 2026

Ketika Doa Menjadi Kekuatan bagi Penyintas Gempa

12 September 2026

Pekan Depan, Janda Muda Asal Ngada Jalani Sidang Perdana Dugaan Pencemaran Nama Baik

12 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.